4. Main-Main

1074 Kata
Rom terkejut melihat Elaina kembali dengan kondisi sangat berantakan. Gadis itu bahkan berlari tanpa alas kaki. “El!” Rom segera membuka jas yang ia gunakan, lalu memasangkannya ke tubuh Elaina. “Makasih, Kak,” ucap Elaina. “Kenapa ini? Dia menyakitimu?” tanya Rom geram. Elaina duduk di sofa, ia mengambil selimut panjang untuk menutupi tubuhnya, lalu mengembuskan napas panjang. “Tolong air mineral, dong, Kak,” pintanya pelan. Rom dengan sigap mengambil sebotol air mineral, lalu membukakan penutup botolnya sebelum memberikan itu kepada Elaina. “Pelan-pelan, El.” Elaina meneguk air mineral itu dengan gerakan cukup tergesa. Tampaknya ia sangat kehausan setelah berhadapan dengan Dalen, ditambah lagi berlarian dari lantai atas ke kamar itu. “Apa kita harus pergi dari sini sekarang, El?” tanya Rom. Elaina menggeleng. “Jangan dulu, Kak.” Kening Rom berkerut. “Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi, sampai kamu kembali seperti ini. Apa yang dia lakukan padamu, El?” Elaina memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas dalam, sebelum memulai ceritanya tentang semua kejadian tadi memberitahu Rom. “Jadi, saat aku masuk ....” Tangan Rom terkepal kuat. Ia marah mendengar cerita Elaina. “Rupanya dia memang baji-ngan. Gosip tentang dia yang anti wanita, itu hanya omong kosong! Kurang ajar! Dia sudah melecehkanmu, El,” geramnya. Elaina mengembuskan napas pelan. “Memang ini yang aku inginkan sedari awal, Kak. Aku yang sengaja datang untuk menggodanya dan menarik perhatiannya. Jadi aku tidak bisa marah karena dia berhasil terpancing. Hanya saja, memang masih agak berat dan sulit untukku jika menyangkut hal sensitif ini.” Rom menatap Elaina dengan sorot sendu. “Aku minta maaf, El. Kalau aku lebih kuat, kamu tidak harus melakukan ini.” Elaina menoleh, ia terkekeh melihat wajah bersalah Rom. “Kakak tidak salah. Dari awal kita ‘kan memang sudah merencanakan ini. Aku harusnya senang karena rencana dan targetnya hampir tercapai dalam satu kali pertemuan. Andai saja aku tadi tidak menangis, mungkin sekarang semuanya benar-benar tercapai sesuai keinginanku. Hanya saja, setelah aku pikir-pikir, sepertinya kondisi seperti sekarang ini bagus juga.” Kening Rom berkerut. “Maksudmu?” “Sesuatu yang didapatkan dengan mudah, pasti akan dilupakan dengan mudah pula, dan itu akan terasa lebih hambar. Beda lagi jika sesuatu didapatkan dengan susah dan butuh sedikit perjuangan, maka orang itu harusnya akan lebih menghargainya. Begitu pula dengan kondisiku saat ini. Jika Dalen bisa mendapatkan aku terlalu mudah, dia pasti akan cepat bosan dan merasa tidak ada tantangannya. Saat dia bosan, dia akan melepaskan kita dan membuang begitu saja seperti barang tak berharga. Orang seperti Dalen, sudah terlalu biasa dengan segala kemudahan atas apa yang dia inginkan. Dia pasti akan merasa tertantang karena aku tidak bisa dia dapatkan dan dia nikmati dengan mudah. Rasa penasarannya pun akan tumbuh, dengan begitu dia tidak akan bersedia melepaskanku, dan ingin berusaha melakukan sesuatu supaya aku bisa menjadi miliknya dan terus berada dalam genggamnya. Burung liar lebih menarik dari pada burung yang sudah jinak.” Rom mengangguk pelan. “Kamu benar. Berarti, meski dia sekarang menyuruhmu pergi, melepaskanmu seperti ini, kemungkinan dia akan kembali mencarimu dan melakukan sesuatu untuk mengikatmu?” Elaina menoleh, lalu mengangguk sembari tersenyum miring. “Betul, dan ini yang aku inginkan. Dia sendiri yang terus berusaha menjeratku, padahal tanpa dia sadari, dia sedang menjerat lehernya sendiri dan memberikan tali itu ke tanganku supaya aku bisa menyetirnya di kemudian hari.” Rom memandang Elaina dengan raut khawatir. “Apa ini tidak terlalu berisiko, El? Aku takut kamu kenapa-napa. Sungguh, Dalen bukan manusia biasa, aku takut dia menyakitimu. Apalagi jika nanti dia tahu kalau kamu sengaja mendekatinya hanya demi memanfaatkannya untuk balas dendam kepada istrinya. Aku takut itu terjadi, El.” Elaina tersenyum, lalu menepuk lengan Rom. “Kak Rom tenang saja, aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku akan sangat hati-hati. Kalau Kakak pun hati-hati dan bermain bersih dengan biodataku, pasti dia juga tidak akan tahu tentang jatidiriku sebenarnya.” *** “Tuan.” Dalen mengambil tablet yang diberikan Toris. Ia memandangi layar tablet itu dengan wajah dingin. Baru membaca halaman pertama, senyum miring Dalen sudah terbit. “Benar hanya pelayan biasa, ya?” desisnya. “Nama panjangnya Elaina Natulame, usinya 22 tahun, dia baru lulus kuliah dan sekarang tinggal sebatang kara karena orang tuanya sudah meninggal dunia. Dari penjelasan di biodata itu, Elaina adalah pelayan baru di Klub SpoonX, baru masuk bulan ini, sekitar 2 minggu lewat. Katanya dia diseret paksa bekerja di Klub SpoonX karena mendiang ayahnya berhutang banyak di klub itu. Sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa, Elaina diseret untuk membayar hutan mendiang ayahnya, jadi bekerja di klub itu tanpa gaji, hanya diberi tepat tinggal dan makan gratis sebagai karyawan klub. Dari kontrak yang tertera di dokumen Klub SpoonX, Elaina harusnya bekerja tanpa gaji di sana selama 10 tahun, sesuai dengan perkalian hutang mendiang ayahnya.” “10 tahun?” gumam Dalen. “Iya, Tuan. Ini karena Elaina hanya memilih menjadi pelayan biasa. Katanya pihak Klub SpoonX sudah menawarkan Elaina untuk menjadi pelayan khusus, melayani tidur pelanggan yang datang. Dari wajah cantik dan tubuh bagusnya, harusnya Elaina bisa mendapatkan banyak pelanggan dalam waktu sebentar, dan bisa mengumpulkan uang lebih cepat untuk membayar hutang ayahnya. Tapi Elaina menolak, meski pihak klub mengatakan masa kontrak sebagai pelayan khusus hanya 2 sampai 3 saja, tidak sampai 10 tahun sebagai pelayan biasa,” lanjut Toris menjelaskan hasil pencariannya tentang Elaina. Dalen tersenyum miring. “Dia memang berbeda. Dan, ini membuatku semakin tertarik.” Dalen mengembalikan tablet tadi kepada Toris. “Pantas tadi malam dia begitu menolak, rupanya dia begitu berjuang mempertahankan kesuciannya. Heh, sayangnya ini tidak akan lama, Sayang. Jika aku menginginkanmu, maka kamu pasti aku dapatkan.” Lagi-lagi Dalen menyeringai penuh makna. Dalen berdiri dari duduknya. Ia keluar dari meja kerjanya, lalu bergerak ke arah pintu ruangan. Tiba-tiba langkahnya terhenti, tanpa menoleh ke belakang, Dalen pun bertanya. “Di mana tempat tinggalnya?” “Tempat tinggal para karyawan Klub SpoonX masih dalam gedung klub, Tuan. Hanya saja, kamar-kamarnya dikelompokkan berdasarkan level karyawan alias ketenaran si pelayan di klub tersebut. Karena Elaina masih baru, jadi dia berada di kamar level terendah, di sudut belakang gedung klub.” Dalen kembali melanjutkan langkahnya. “Atur kunjunganku ke Klub SpoonX, dan minta mereka menyiapkan Elaina sebagai pelayan untuk menemaniku minum malam ini.” “Baik, Tuan.” “Tidak usah ambil ruangan VIP, langsung suruh ke kamarku.” “Baik, mengerti, Tuan.” Dalen mengambil sebatang rokok, lalu menyeringai. “Kita akan bertemu lagi, Sayang. Kau ingin bermain-main, ‘kan? Ayo kita main-main.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN