8. Dalen Bingung

1326 Kata
“Tidak keluar semalaman?” desis Paumy. “Iya, Nyonya. Bahkan kabarnya sampai sekarang masih belum keluar dari kamar Tuan Gabino. Tuan Gabino pun belum keluar dari tadi malam.” Paumy memicing, matanya memerah penuh amarah. “Orang suruhanmu tidak lewat barang satu menit pun, ‘kan?” tekannya memastikan. “Tidak, Nyonya. Satu tim ada 5 orang, dan mereka bergantian berjaga sepanjang malam. Benar-benar tidak ada pergerakan keluar dari kamar VIP Tuan Gabino. Semenjak Tuan Gabino masuk dengan perempuan, tak terlihat lagi mereka keluar, hingga pagi ini.” “b*****t! Tidak mungkin!” Paumy kembali murka. Lagi-lagi seluruh barang di sekitarnya dilempar ke lantai hingga berhamburan. “Dalen tidak mungkin benar-benar terjerat oleh wanita itu, ‘kan? Selama ini dia tidak pernah tidur dengan wanita mana pun. Jika pun ada wanita yang masuk ke kamarnya, itu hanya untuk bersenang-senang bahkan tidak sampai satu jam pasti sudah didepak keluar. Bagaimana mungkin wanita itu tidak keluar dari tadi malam?” “Saya juga merasa heran, Nyonya. Apalagi biasanya Tuan Gabino selalu berangkat pagi-pagi sekolah ke kantor, dia seorang pria yang gila kerja, rasanya sangat aneh sekali karena sekarang malah bersedia berangkat lebih lambat dari jam biasanya dia ke kantor.” Kalimat bawahannya itu membuat amarah Paumy semakin bergejolak. “Aku masih tidak percaya Dalen benar-benar menidurinya. Bisa jadi, wanita itu tidak keluar dari kamar itu karena sebenarnya dia sudah mati. Iya ‘kan? Pasti Dalen sudah membu-nuhnya, dan sekarang wanita itu sudah menjadi mayat. Pasti begitu.” Paumy tersenyum miring, masih mencoba berkilah dengan kenyataan. “Tapi Nyonya ... biasanya Tuan Gabino tidak pernah membiarkan kamarnya dihuni oleh mayat. Jika pun benar wanita itu dibu-nuh, harusnya tadi malam sudah langsung dieksekusi dan mayatnya pasti langsung disuruh seret keluar. Menurut saya, sangat tidak masuk akal Tuan Gabino masih membiarkan mayat wanita itu berada di kamarnya semalaman, bahkan sampai pagi begini masih belum dikeluarkan. Jadi, sepertinya wanita itu belum mati.” Tangan Paumy kembali terkepal. “Lalu, apa menurutmu Dalen benar-benar meniduri wanita breng-sek itu? Apa menurutmu dia lebih memilih tidur dengan pelac*ur baji-ngan itu dibandingkan tidur denganku? Berarti menurutmu, aku lebih hina dari pada pelac*ur bang-sat itu, hah?! Iya begitu?!” murkanya. Bawahan Paumy seketika berlutut panik, lalu menggeleng cepat. “B-bukan begitu maksud saya, Nyonya. Anda adalah wanita paling baik dan paling cocok bersanding dengan Tuan Gabino. Tak ada satu wanita pun di dunia ini yang bisa dibandingkan dengan Anda.” Paumy memejamkan matanya, lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku ingin melihat sendiri, seperti apa wanita itu. Apa yang dia banggakan sampai berani bermalam di kamar Dalen. Bahkan aku saja tidak pernah mendapatkan kesempatan itu,” desisnya. “A-apa kita perlu menangkap wanita itu saat nanti keluar dari kamar Tuan Gabino, Nyonya?” “Apa hal ini masih perlu ditanyakan? Bukankah ini sudah menjadi tradisi dan pekerjaanmu dari dulu?” geram Paumy. “M-maaf, Nyonya. Saya akan segera menangkapnya setelah keluar dari kamar Tuan Gabino.” Pria itu berdiri, lalu menunduk sopan ke arah Paumy. “Apa saya juga langsung siapkan tim untuk mengeksekusinya, Nyonya?” “Hem, tapi tunggu aba-aba dariku dulu sebelum bertindak. Aku ingin bertemu dengannya dulu, aku ingin lihat langsung seperti apa wanita ini, sehingga punya nyali begitu besar menggoda suamiku.” Paumy berdesis dengan sorot penuh amarah. *** Dalen memasang kancing kemejanya sembari menatap Elaina yang sedang duduk di ranjang. Elaina terus menunduk sedari tadi, dan itu membuat Dalen tak suka. “Apa kau merasa menyesal setelah tidur dengan saya?” desis Dalen. Elaina menggeleng pelan. “S-saya tidak berani, Tuan.” Mata Dalen memicing. Dengan kondisi kancing kemeja belum terpasang seluruhnya, Dalen mendekat, lalu mencengkram dagu Elaina hingga mendongak menatapnya. “Ada begitu banyak wanita yang berusaha bisa naik ke ranjang ini, bahkan mereka melakukan berbagai cara licik untuk bisa tidur dengan saya. Kau mendapatkan kehormatan itu, tapi kau malah memasang wajah seperti ini setelah bercin-ta dengan saya?” bisiknya dingin. Elaina menggeleng. Ia mengeluarkan jurus andalannya—tatapan sayu yang begitu polos menggoda. “Maaf, Tuan,” cicitnya dengan mata berkaca-kaca. Dalen tertegun. Ia terdiam melihat bola mata abu-abu muda yang ia sukai itu malah berkaca-kaca. “Sebutkan saja nominal yang kau inginkan. Saya pasti akan bayar mahal. Jangan perlihatkan ekspresi seperti ini di depan saya, saya tidak suka!” Elaina kembali menunduk. “Apa artinya banyak uang yang saya dapatnya, jika setelah ini saya akan mati, Tuan?” Kening Dalen berkerut. “Mati?” Setetes kristal bening itu akhirnya lolos dari pelupuk mata Elaina. Gadis itu mendongak, lalu memandangi Dalen dengan pipi mulai basah. Dalen pun terpaku melihat itu. Pria kejam seperti Dalen, yang sudah begitu biasa mendengar jeritan kesakitan, tangisan minta tolong, tangisan minta ampun, sehingga tak ada lagi perasaan iba di hatinya. Bahkan tak pernah memandang tawanannya sebagai manusia yang pantas dikasihani. Entah kenapa sekarang malah dibuat terpaku melihat Elaina menangis dengan sorot begitu sendu, seakan penuh rasa takut. “Meski saya masih baru di klub ini, tapi saya sudah mendengar banyak cerita tentang nasib wanita-wanita yang berhasil menyentuh Anda, Tuan. Mereka semua pasti berakhir tragis, meninggal karena ... karena dibunuh oleh istri Anda. Dan, setelah ini saya pun akan menyusul mereka. Apa menurut Anda, saya masih perlu uang yang banyak, sedangkan sebentar lagi saya akan mati?” Dalen terdiam mendengar itu. Suara lirih Elaina yang sedikit sesenggukan karena menangis, mata indah tertutupi kabut kesedihan, pipi merah dibanjiri air mata, dan sorotan sendu Elaina kepadanya membuat Dalen tak nyaman. Dalen melepaskan cengkramannya pada dagu Elaina, lalu ia menegakkan tubuh. Pria itu mengalihkan wajah, lalu menekan diri sendiri yang tengah bingung dengan perasaan yang ia alami saat ini. “Kenapa perasaanku tidak nyaman?” Dalen bergumam, lalu kembali menatap Elaina yang masih sesenggukan pelan di atas ranjang. Ia mengembuskan napas kasar. “Diam ‘lah, berhenti menangis.” “S-saya tidak menangis, kok,” sahut Elaina malah semakin sesenggukan. Dalen melongo sejenak melihat tanggapan polos Elaina. Setelahnya ia berdecak. “Lalu itu apa namanya? Bernyanyi? Ck, saya suruh berhenti menangis, kau harus berhenti! Diam ‘lah!” Elaina langsung melipat bibirnya, menahan tangis. Ia mengusap air mata di pipinya dengan gerakan bak anak kecil takut dimarahi. Meski suara isakannya sudah memudar, tetapi gadis itu masih sesenggukan. Ia memaksa dirinya berhenti menangis, sehingga bibirnya sedikit bergetar. Dalen mengembuskan napas kasar melihat itu. “Tidak ada yang akan membunuhmu. Itu hanya gosip.” Elaina mengerutkan kening. “Gosip? Jadi dia ini benar-benar tidak tahu prilaku gila istrinya, atau hanya pura-pura tak tahu? Atau malah dia tak mau tahu? Dia ‘kan Dalen Gabino, dia mana peduli dengan nyawa orang lain. Jadi jika si Paumy membunuh orang pun, dia tidak akan peduli, bukan? Cih, mereka ‘kan sama,” desis Elaina dalam hati. “Ambil cek ini, kau bisa tulis berapa nominal yang kau inginkan. Sekarang keluar dari kamar ini.” Dalen melempar cek kosong kepada Elaina. Elaina mendongak menatap Dalen. “Jika memang itu gosip, syukur ‘lah. Tapi, kalau itu nyata ... berarti memang sudah nasib saya.” Dalen menatap Elaina yang bergerak ke tepian ranjang menggunakan selimut. “Kalau dia ingin menulis nominal sesuai hutan ayahnya, berarti dia akan segera pergi dari klub ini? Tapi, kenapa aku merasa tidak senang membayangkan wanita ini pergi?” batinnya semakin bingung dengan diri sendiri. Sett! Elaina terkejut ketika Dalen tiba-tiba merampas kembali cek kosong yang tadi ia berikan. Elaina mendongak, lalu menatap Dalen dengan wajah bingung. Dalen sendiri berdeham, lalu merobek cek kosong itu. “Kau harus menemani saya satu malam lagi, setelah itu baru saya berikan cek ini, bahkan dua cek saya berikan besok.” Elaina tersenyum sinis dalam hati. “Sepertinya kau mulai masuk pesonaku, Dalen Gabino.” “Setelah satu malam lagi, pasti aku akan bosan padanya. Iya, pasti hanya karena ini, makanya aku tidak senang. Aku masih penasaran pada wanita ini dan masih belum puas dengannya tadi malam. Setelah dua malam berturut-turut dengannya, mustahil aku tidak merasa bosan, bukan? Besok aku pasti akan campakkan dia, terserah dia ingin ke mana,” batin Dalen masih bertingkah angkuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN