7. Siap Untuk Membalas

1102 Kata
“Baik ‘lah, kau menang sesi ini. Saya akan buka satu pakaian saya. Hemm, kau boleh pilih, ingin saya buka baju dulu, atau celana dulu?” Dalen menyeringai, ia begitu menikmati permainan itu. Elaina tersenyum kaku. “Kemeja saja, Tuan.” Dalen mengangguk. Ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Dalam aksinya itu, mata elang Dalen tak beranjak dari wajah cantik Elaina. Pria itu seakan sengaja terus memperhatikan Elaina, penasaran dengan tanggapan dan ekspresi gadis cantik itu saat melihatnya membuka baju. Elaina sengaja menunduk, mengalihkan wajah seakan ia tak berani dan malu menatap tubuh kekar Dalen. “Tubuhnya memang begitu bagus, sangat sayang untuk dilewatkan. Tapi kau harus sadar, sekarang sedang berperan sebagai Elaina yang polos dan pemalu,” batinnya. “Angkat kepalamu, dan lihat saya,” titah Dalen datar. Elaina tak menolak, ia mengangkat kepalanya dengan gerakan sedikit kaku dan ragu-ragu. Ia melirik Dalen sejenak, lalu memperhatikan otot perut yang diidamkan para kaum hawa. Tak heran jika para wanita berlomba-lomba ingin jatuh ke ranjang Dalen, dan memeluk tubuh sekekar itu. Dalen melempar baju kemeja putihnya ke lantai. Kini ia tak menggunakan atasan, hanya pakai celana bahan berwarna hitam. Elaina berdeham pelan, mencoba tetap waras saat dihadapkan dengan tubuh seksi penuh godaan itu. “Baik, sekarang giliranmu.” Dalen menyandarkan punggungnya di sandara sofa. Ia masih memandangi Elaina dengan mata setajam silet. Permainan itu terus berlanjut, hingga tiba saatnya Elaina kalah, tak bisa menjawab teka-teki dari Dalen, gadis itu harus sportif—membuka satu pakaian di tubuhnya. Elaina menggigit bibir bawahnya. Ia melirik Dalen yang menunggu dengan seringai khas. Sungguh Dalen begitu menikmati permainan itu. “Cepat buka,” ucap Dalen dingin. Elaina memejamkan mata, lalu mulai mengangkat ujung bajunya ke atas. Gadis itu membuka bajunya sembari memejamkan mata, seakan malu dilihat begitu intens oleh Dalen. Bagaimana tak malu, Elaina hanya menggunakan satu baju, dan jika batu itu dibuka, hanya akan menyisakan dalaman. “Pria b******n. Dia benar-benar menikmati permainan yang menghina ini. Sedari awal dia memang sudah sengaja mempermainkan aku,” batin Elaina geram. Bagaimana pun kekesalan Elaina, ia tak ada pilihan selain buka baju. Hingga bajunya itu terbuka sempurna, Elaina meletakkan satu tangan di depan d**a, dan satu lagi di bagian bawah privasi intinya. Wajah Elaina memerah sempurna, ia benar-benar malu dan kesal, bukan lagi sekadar berakting. Apalagi tatapan nakal Dalen dengan seringai menyebalkan itu membuat Elaina semakin geram. Pria itu bahkan menjilat bibir bawahnya, tak berkedip memperhatikan tubuh indah Elaina. “Ke mari ‘lah.” Elaina meneguk salivanya kasar. “S-saya boleh pakai baju sekarang, Tuan?” Dalen tertawa keras, tetapi itu hanya beberapa detik. Tawa itu berhenti, lalu matanya menyorot tajam ke arah Elaina. “Kau harus seperti ini sampai aku puas.” Tangan Elaina terkepal. “b***t, baginya wanita pasti hanya sebuah maninan dan alat untuk pemuas naf-su,” geramnya dalam hati. “Ke mari ‘lah, jangan pancing emosiku,” desis Dalen. Dengan wajah memerah malu, Elaina berdiri, lalu melangkah ke arah Dalen. Pria itu langsung menarik pinggang Elaina, membawa gadis itu duduk di atas pangkuannya. Dalen memandangi wajah cantik Elaina, lalu mata nakalnya bergerak turun hingga fokus kepada dua gun-dukan indah itu. “Sudah berapa banyak wanita yang memperlihatkan tubuh telan-jangnya di depan mataku. Bahkan menarik tanpa sehelai benang pun sudah sangat sering. Tapi ... kenapa tak ada satu pun yang menarik minatku? Termasuk Paumy sekali pun.” Dalen membatin sembari mengelus lengan putih Elaina yang tak tertutup pakaian. “Lalu, wanita ini datang, dari sorot matanya saja sudah berhasil membangunkan libidoku. Dari suaranya saja sudah mampu mengusik naluri kejantananku. Dan, sekarang dia berhasil mendobrak kesabaran nafsuku. Kali ini kau tidak akan lolos,” sambungnya masih berdesis dalam hati. “T-tuan, waktunya habis.” Elaina mencicit sembari melirik jam di dalam kamar itu. Pergerakan tangan Dalen sempat terhenti. Ia memberikan sorotan begitu tajam kepada Elaina. Dalen sangat tak suka ada orang lain mengganggu kesenangannya, entah itu hanya suara atau sentuhan lain. Meski pun Dalen hanya sibuk dalam batinnya, ia tak suka jika ada suara yang menyela imajinasi liarnya. Grep ... “Akkh!” Elaina merintih kala tangan kekar Dalen mencekik lehernya, sama seperti kemarin. “T-tuan, saya minta maaf. S-saya akan memberi tambahan waktu, sshh, tolongh—ini sakit, Tuanhh, ssh.” Dalen tersenyum miring. Tangannya pun lepas dari batang leher Elaina. Bak manusia yang memiliki kepribadian ganda, setelah mencekik leher Elaina, kini Dalen malah mengusap bekas cekikan itu dengan gerakan begitu pelan terkesan lembut. “Kau akan saya booking satu malam ini, jadi jangan berisik. Saya tidak suka kesenangan saya diganggu,” bisik Dalen penuh penekanan. “M-maaf, Tuan,” cicit Elaina. “Benar-benar manusia berbahaya, jika tidak hati-hati bicara dengannya, nyawa bisa melayang sia-sia,” sambungnya dalam hati. “Buka kakimu.” Elaina memandangi Dalen yang juga sedang menatapnya. Dalen memicing melihat sorot polos gadis cantik itu. “Shi*t!” Elaina terkejut dan heran karena Dalen tiba-tiba mengumpat. “Wanita ini benar-benar penyihir! Kenapa hanya dengan tatapannya, aku dibuat gila?” geram Dalen dalam hati. “T-tuan?” bisik Elaina. Wanita itu menyadari muka Dalen mulai memerah. “Apa dia mulai terpancing? Terang-sang? Aku harus memanfaatkan ini. Perlahan-lahan, aku akan membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya ke dalam genggamanku, Dalen Gabino,” desis Elaina dalam hati. Mata Dalen terpejam. Rahangnya mengeras. “Panggil namaku,” bisik Dalen dingin. Kedua alis Elaina bertaut. Tak ada satu orang pun di dunia ini yang berani memanggil nama Dalen secara langsung, termasuk Paumy sekali pun. “I-ini sepertinya—” “Panggil namaku.” Dalen mendongak, lalu menyorot wajah cantik Elaina dengan mata elangnya. “Call my name, Baby,” bisiknya serak. Elaina terpaku sejenak. Ia meneguk salivanya kasar, lalu tersenyum. “D-dalen,” bisiknya begitu lembut. Dalen menarik pinggang Elaina untuk semakin menempel ke tubuhnya. “Again,” desisnya. Elaina sengaja meletakkan jari lentiknya di leher Dalen, seakan ia tengah berpegangan. “Dalen,” bisiknya lebih sensual. Rahang Dalen mengeras. Ia menarik sebelah kaki Elaina sehingga terbuka di pahanya, lalu pria itu berdiri dan menggendong Elaina ala koala ke arah ranjang. “Hari ini kau tidak akan lolos, Sayang,” desisnya penuh penekanan. Elaina tak memberontak. Kali ini ia siap untuk menerima perlakuan Dalen. Elaina percaya, saatnya ia benar-benar masuk ke dalam kehidupan gelap Dalen, dan melangkah masuk demi balas dendam. Elaina memandangi wajah tampan Dalen yang baru saja melemparnya ke atas ranjang. Ia terus memperhatikan pergerakan Dalen yang tengah membuka ikat pinggang. “Paumy, tunggu aku. Aku segera datang, menjemput semua ketenangan dan kebahagiaanmu. Perlahan, aku akan merebut suamimu, membuatnya cinta mati padaku, dan menjadikan cintanya itu sebagai senjata untuk menggo-rok lehermu secara perlahan-lahan. Kau—pasti akan aku buat sengsara.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN