6. Permainan Licik Dalen

1374 Kata
“Kenapa masih berdiri di situ? Cepat masuk.” Elaina tersenyum sembari menunduk mendengar kalimat Toris. “Boleh, Tuan?” Toris memperhatikan Elaina. Ia menerka gadis itu takut dan masih trauma dengan kejadian kemarin, saat Dalen tiba-tiba mencekiknya. “Boleh, karena Tuan Gabino sudah menyuruhmu ikut dengannya, jadi silakan ikuti dia, termasuk ke dalam kamar. Apalagi, kau sudah di-booking oleh Tuan Gabino malam ini untuk menemaninya minum.” Elaina menunduk hormat. “Baik, saya izin masuk, Tuan.” “Hem.” Toris mendorong pelan daun pintu kamar VIP milik Dalen di Klub SpoonX. “Kalau kau masih ingin hidup, layani Tuan Gabino baik-baik. Lakukan apa yang dia suruh dan jangan bertingkah jika tidak dia suruh.” “Saya paham, Tuan.” Elaina kembali menunduk, lalu melangkah masuk ke dalam kamar keramat itu. Kamar keramat? Karena ada banyak nyawa yang sudah melayang dalam kamar itu. Alasannya tentu saja karena mereka berani mengusik Dalen. Entah itu pria atau pun wanita, tetapi kamar ini rata-rata dipenuhi oleh darah wanita yang ingin merayu Dalen demi bisa naik ke ranjang pemimpin mafia itu. Ketika pintu kamar itu ditutup oleh Toris dari luar, ekspresi Elaina pun berubah. Ia tersenyum miring, tetapi kepalanya masih tertunduk. “Aku yakin, berita tentang Dalen yang membawa wanita masuk kamar VIP-nya, sudah tiba di telinga Paumy. Bahkan mungkin cerita kemarin pun sudah ada yang melapor kepada wanita baji-ngan itu. Dan, aku yakin dia pasti sedang murka, kepanasan sendiri karena suaminya membawa wanita ke kamar, karena selama ini dia pun jarang disentuh.” Elaina tertawa puas dalam hati, ini baru permulaan, tetapi ia sudah cukup senang dengan pembukaan balas dendamnya. “Kenapa kau masih berdiri di situ?” Suara berat nan dingin itu menggema, menyadarkan Elaina yang masih berdiri tak jauh dari pintu masuk kamar. Seketika ekspresi Elaina kembali berubah layaknya wanita manis nan polos. Elaina mengangkat kepalanya, lalu menatap Dalen yang sedang berdiri menunggunya. “Saya boleh masuk semakin ke dalam, Tuan?” tanya Elaina lembut. Dalen memiringkan kepalanya. Ia memperhatikan wajah cantik Elaina yang berdiri dengan kedua tangan tertaut di depan perut. “Ke sini.” “Baik, Tuan.” Elaina menunduk hormat sebelum melangkah mendekat ke arah Dalen. Langkah Elaina yang begitu berayun dan serba gemulai, membuat Dalen menggigit bibir bawahnya. “Saat berjalan pun tubuhnya seakan menggodaku. Saat sudah seperti ini, dia berniat kabur dariku? Cih, apa dia kira bisa kabur tanpa seizin dariku?” decihnya dalam hati. Dalen pun mendekat ke arah sebuah sofa. Ia duduk di sana, dan terus menunggu Elaina mendekat ke arahnya. Elaina berdiri tak jauh dari sofa tempat Dalen duduk. “Anda ingin minum sekarang, Tuan?” tanyanya sopan. “Hem.” Elaina segera berjongkok. Ia meraih botol wine, lalu mulai mengisi gelas kecil di atas meja. Dengan pergerakan begitu pelan dan hati-hati, Elaina mendekat menyodorkan gelas kecil itu ke arah Dalen. “Silakan, Tuan.” Dalen memandangi gelas itu sejenak, lalu perhatiannya teralihkan kepada jari tangan yang begitu lentik, berangsur pindah ke area kulit lengan yang putih bersih bak s**u, terus bergerak hingga ke bahu yang terbuka dan terus ke bawah. Mata elang Dalen bergerak liar memandangi setiap sudut tubuh mo-lek Elaina, dan gadis itu menyadarinya. Mata Dalen begitu nakal, tetapi Elaina hanya diam, pura-pura tak tahu—ia pura-pura polos, bukan? “Mendekat,” titah Dalen dingin. Dengan patuh Elaina mendekat menggunakan lututnya sebagai tumpuan di lantai. Gadis cantik itu terus bergerak, hingga ia tiba tepat di lutut Dalen. Dengan tenangnya Elaina mendongak sembari menyodorkan gelas berisi wine itu mulut Dalen. Mata Dalen memicing. “Apa selalu begini caramu memperlakukan pelanggan?” desisnya. Elaina diam memperlihatkan sorot polos. “Iya, Tuan, karena atasan kami mengatakan ini hal dasar yang harus kami lakukan kepada pelanggan.” Dalen menyeringai mendengar jawaban Elaina. “Oh, ya? Lalu, bagaimana dengan menyuapi minuman dari mulut ke mulut?” Kening Elaina berkerut. “Maksud Anda, Tuan?” Dalen tersenyum penuh makna. Ia menarik lengan Elaina untuk berdiri, lalu langsung membawa gadis itu duduk di atas pangkuannya. Dalen menarik tangan Elaina yang masih memegangi gelas wine. “Suapi saya,” bisik Dalen tepat di depan wajah Elaina. “Suapi? Oh, silakan, Tuan.” Elaina pura-pura tak paham, ia malah menyodorkan bibir gelas itu ke mulut Dalen. “Suapi mulut ke mulut. Kau minum dulu, nanti suapi ke mulut saya melalui mu-lutmu. Apa kau tidak diajarkan hal ini?” bisik Dalen lagi. Elaina menggeleng. “Tidak, Tuan, kami tidak diajarkan hal ini. Kami hanya—” “Persetan,” tukas Dalen dingin, “saya tidak peduli kau diajarkan atau tidak, yang penting lakukan apa yang saya perintahkan sekarang. Bukannya kau pelayan yang harusnya menemani pelanggan minum? Sekarang lakukan pekerjaanmu.” “T-tapi saya tidak paham bagaimana caranya, saya tidak pernah mencobanya dan tidak pernah melihatnya sebelumnya, Tuan. S-saya sungguh minta maaf,” cicit Elaina sembari menunduk takut, “pria me-sum ini benar-benar. Gatal sekali bibirnya ini ingin menciumi wanita,” lanjut Elaina menggerutui Dalen dalam hati. Tiba-tiba Dalen mengambil gelas wine itu, lalu memasukkan cairan dalam gelas itu ke dalam mulutnya. Elaina sempat terkejut, apalagi ia merasakan bibir Dalen di jari telunjuknya yang masih memegangi gelas kecil itu. Grep ... Elaina semakin terkejut ketika Dalen menarik tengkuknya, lalu mencium bibirnya. Mata Elaina membulat kala Dalen membuka mulut, dan mulai melakukan aksi gilanya memindahkan wine dari mulut ke mulut yang ia maksud tadi. Secara spontan Elaina menelan ludah, sehingga wine yang baru saja dipindahkan itu pun ikut terteguk. Dalen melepaskan tangannya pada tengkuk Elaina. Ia menyeringai menatap Elaina yang sedang mengusap sedikit wine di sudut bibirnya. Gadis itu masih tampak syok tak percaya. “Begitu caranya. Paham sekarang?” “Hah?” Elaina menatap Dalen dengan ekspresi melongo. Dalen menarik dagu Elaina, lalu memandangi mata abu-abu muda yang tadi sempat membulat ketika ia beraksi. Entah kenapa, Dalen begitu menyukai manik abu-abu muda itu. “Cepat lakukan, suapi saya dari mulut ke mulut,” bisiknya tepat di depan bibir Elaina. “Gila, aku tidak pernah berpikir jika pria iblis ini akan begitu ganas ketika terpancing hasrat. Aku tidak tahu, ini jadi hal baik atau hal buruk untukku, karena harus terus melayaninya seperti ini. Di balik wajah dinginnya yang mengaku anti perempuan ini, rupanya tersembunyi hasrat liar yang ganas, dia ini pria me-sum berkedok manusia antik perempuan.” Lagi-lagi Elaina menggerutu dalam hati. “Kenapa masih diam? Kau tidak ingin melakukannya? Atau kau ingin saya suruh melakukan hal yang lebih panas dari ini?” Elaina segera tersadar. Ia langsung menggeleng. “Saya akan ambil wine-nya dulu, Tuan.” “Tidak boleh turun dari paha saya.” Pergerakan Elaina terhenti. Ia menatap Dalen sejenak, lalu melirik botol wine yang cukup jauh, sehingga tidak terjangkau oleh tangan pendeknnya. “Kalau begitu, saya tidak bisa mengambil botol wine-nya, Tuan. Tangan saya terlalu pendek, tidak sampai.” Dalen memperhatikan tangan Elaina yang berusaha menggapai botok wine tanpa berasak dari pahanya. Otak nakalnya pun langsung bekerja, melahirkan ide lain untuk ia permainkan. Seketika senyum miring Dalen terbit menghiasi wajah tampan itu. “Bagaimana kalau kita main game?” Elaina menoleh, menatap Dalen yang juga tengah memandanginya dengan sorot penuh arti. “Game?” “Kita bermain teka-teki. Kita mengajukan teka-teki secara bergantian dan jika teka-tekinya bisa terjawab oleh lawan, maka dia kalah. Bagi yang kalah, buka satu pakaian yang melekat di tubuhnya.” Dalen tersenyum sembari memiringkan kepalanya. “Bagaimana? Berani?” “Benar, ‘kan? Om-om otak me-sum,” gerutu Elaina dalam hati. “Kenapa diam? Tidak berani?” decih Dalen. “K-kalau saya tidak berani, bagaimana, Tuan? Pakaian saya hanya satu lapis, kalau saya kalah satu kalii—itu akaan ....” Elaina tak melanjutkan kalimatnya. Seringai nakal itu malah semakin terbit di wajah tampan Dalen. Memang itu yang ia inginkan. Cukup dengan satu kali kalah, Elaina akan membuka baju seksinya itu.” “Kau tidak ada hak untuk menolak, Baby,” bisik Dalen di sela senyum miringnya, “kita lakukan sekarang. Saya duluan, dengar teka-tekinya baik-baik dan jawab supaya kau menang. Kalau kau tidak bisa jawab ... maka siap-siap buka baju untukku,” desisnya. “Manusia licik ini isi otaknya hanya buka baju dan buka baju saja. Apa tidak cukup kemarin dia merobek bajuku? Kalau bukan karena masih sayang nyawa, sudah aku tempeleng kepalanya ini.” Lagi dan lagi Elaina hanya bisa menggerutu di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN