69 Suasana ruang tunggu rumah sakit ini cukup ramai. Beberapa pasangan tampak duduk menunggu dengan berbagai ekspresi. Ada juga beberapa orang perempuan hamil yang bolak-balik ke kamar mandi di sudut kanan ruang tunggu. Aa' Andre duduk bersandar di sandaran kursi, sementara aku bersandar ke dadanya yang empuk. Degup jantungnya berdetak seiring dengan helaan napas, terasa menghanyutkan dan mulai membuatku mengantuk. "Jangan tidur atuh, Mi," bisiknya. "Ngantuk," balasku sembari menguap. "Bentar lagi giliran Mami yang dipanggil. Ngantuknya ditunda sampai ke mobil." Suara asisten Dokter yang memanggil namaku, memutus obrolan kami. Aa' Andre membantuku berdiri dan jalan memasuki ruangan yang sangat nyaman. Dokter Olivia menyapa dengan ramah. Beliau menanyakan kabar dan keluhan-kelu

