70 Suasana rumah duka tampak sangat ramai. Wajah-wajah keluarga besar Bu Melia masih sangat berduka. Terutama kedua putri almarhumah, yang sejak tadi tak hentinya menangis. Kedua pria dewasa yang kukenal sebagai suaminya Retno dan Dinda, yaitu Bayu dan Yono, tengah mengobrol serius bersama ketiga Darmawan bersaudara di sudut kiri ruang tengah rumah. Lima orang remaja, duduk bersila di sudut kanan ruang tengah. Sesekali mereka mengobrol sambil melirik ke arahku dan Teh Siska. Teh Windy tidak ikut ke sini karena anak bungsunya baru sembuh dari sakit. Pak Drajat dan beberapa orang yang dituakan oleh keluarga Bu Melia, menghampiri kelima pria yang masih berdiskusi. Entah apa yang mereka bahas, karena setelahnya kami diminta bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat pemakaman. Mas And

