Sahabat Selamanya

1549 Kata

55 Harum aroma masakan membuat hidungku menari. Berjalan cepat menuju dapur dan nyaris menabrak Isah yang hendak ke luar dari pintu kaca. "Aih, Teteh, mah. Gradak-gruduk wae," protesnya. "Nyium wangi masakan, jadi lapar," sahutku sambil merangkul pundaknya. Kami jalan bersama memasuki dapur. Ketiga perempuan di sana sepertinya baru selesai memasak. Wajah mereka yang sedikit memerah dan beberapa bulir keringat di dahi, merupakan petunjuk bahwa mereka baru selesai bertempur dengan wajan, panci dan cowet. (cobek) "Ayo, kita sarapan," ajak Bu Rahmi sambil menggamit lenganku menuju meja makan. "Papi lagi mandi, Bu. Apa kita makan duluan aja?" tanyaku sembari menarik kursi di meja makan. "Nggak usah, kita tunggu nak Andre aja. Biar makannya sama-sama," sahut beliau. Putra bongsorku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN