53 Malam harinya, Evita pulang ke rumah dengan wajah sumringah. Menciumi pipi pangeran kecil yang sepertinya biasa saja menyambut kedatangan bundanya. Revanaka malah sibuk hendak mengambil ikan yang mulutnya menganga, di mainan terbarunya. Ralat, mainan terbaru papinya. Karena sang putra hanya bisa memandangi saat sang papi mencoba menangkap ikan dengan pancingan berujung magnet. "Itu mainan, siapa yang beli?" tanya Evita sambil duduk di sebelahku. "Aku, tadinya buat anak yang kecil, tapi ternyata anak yang gede lebih semangat mainnya," jawabku sembari memotong-motong buah apel. "Boys ia always boys, Aska." "Hu um, sampai tua pasti gitu." Sesaat kami saling melirik dan mengulum senyum. Sementara sang bayi besar dan bayi kecil masih sibuk dengan ikan-ikan. Suara bentakan sert

