The Sunshine Girl

3122 Kata
2003 “Selamat ulang tahun.” Delapan anak perempuan bergiliran menjejer kartu ucapan buatan mereka masing-masing di atas meja gadis yang sedang berulang tahun. Anak perempuan mungil dengan kaos kaki yang panjang sebelah menatap mereka santai dengan kaki kanan yang dilipat dan diletakkan di atas lutut kaki lainnya bak bos mafia ditambah dua perempuan kurus rambut hitam keriting dikuncir kuda kembar identik berdiri di belakangnya sambil menyilangkan tangan. Gadis berambut hitam pendek ditutup topi merah putih yang digunakan terbalik asik mengulum permen lolipop rasa jeruk berbentuk bulat, salah satu hadiah untuknya. Kulitnya kecokelatan akibat terlalu lama bermain di bawah sinar matahari, sedang mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuk di atas meja kayu yang penuh dengan coretan pulpen. Mata hitamnya dengan teliti memilih kartu ucapan ulang tahun mana yang paling bagus, agar bisa masuk ke anggota geng anak perempuan kelas. Rata-rata kartu berukuran 8x10 senti terbuat dari karton warna-warni. Ada yang berwarna biru muda polos bergambar kuda poni dengan garis yang meliuk-liuk berambut tiga warna—merah, kuning dan hijau. Terdapat tulisan ‘Selamat ulang tahun Glori’ yang berantakan khas tulisan anak kelas empat SD. “Namaku pakai ‘Y’ bukan ‘I’. Maaf, ya. Kamu ditolak,” ucap Glo sambil mengembalikan kartu ucapan yang dibuat selama tiga hari membuat gadis mungil berkepang dua sedih dan beranjak dari tempatnya. Glo meneliti sekali lagi sambil menopang dagu. Menurutnya tak ada yang menarik. Semua gambar tak ada yang mendekati sebagaimana seharusnya gambar aslinya. Doraemon, Shinchan, sampai gambar bus Tayo pun tak ada sama sekali yang mirip. Bahkan warnanya keluar dari garis. “Sudah kuputuskan,” ucap Glo dengan serius tanpa mengubah gaya duduknya. “Tahun ini kita nggak terima anggota baru.” “Hah?” “Apa?” “Tapi, Glo... Kita ganti hadiah aja, ya?” ucap mereka bersahutan, terkejut. “Apa? Nggak bisa!” cecar Glo. “Tahun ini kita terima anggota baru yang punya bakat menggambar,” tegasnya. Glo sama kecewanya dengan para gadis yang baru saja ditolak dan meninggalkan Glo bersama dua orang pengawalnya. “Gimana, nih Glo. Pengambilan nilai menggambar akhir bulan ini. Kalau kita dapat jelek cuma gara-gara nilai seni budaya, ranking kita bisa turun,” ucap Yosia yang berdiri di samping kanan Glo yang tak mau rankingnya turun satu peringkat menjadi 38 dari 39 siswa. Glo menarik napas panjang. “Benar kata Yosia. Kalau ranking kita turun satu angka, kita benar-benar habis, Glo,” sahut Yosa, sang kakak yang terlahir lima menit lebih awal. “Tenang. Aku pasti bakal nemuin anak yang bisa bantu kita.” “Benar, Glo?” tanya Yosa dan Yosia kompak. Glo mengangguk yakin, walau sebenarnya ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan. Kebiasaan Glo, bertindak dulu sebelum berpikir, membuatnya sering terlibat masalah.   Jam sebelas, para siswa berhambur dengan suka cita keluar dari kelas, kaki kecil mereka melangkah ringan walau tas ransel yang digendong berat berisi buku paket pelajaran tebal. Hanya Glo yang keluar membawa payung lipat dan memantulkan bola basket. Tak seperti siswa lain yang menggendong ransel, ia tak pernah membawa tas ke sekolah karena semua buku pelajaran sudah ia simpan di laci meja kelasnya. Ia akan membawa pulang buku pelajarannya jika ada guru yang memberikan pekerjaan rumah. Glo menenangkan dua anggota gengnya dan meminta mereka untuk pulang lebih dulu. Sedangkan dirinya, pergi ke taman samping sekolah. Hanya di sana terdapat ring basket.   “Dasar babi!” ucap anak laki-laki kerempeng berwajah kotak berseragam putih dengan celana merah selutu sambil mendorong anak laki-laki lain sampai ia tersungkur. Tak ada perlawanan, karena anak laki-laki gemuk berbobot hampir enam puluh kilo di usianya yang baru sembilan tahun itu dikeroyok oleh empat orang yang sebaya dengannya. “Hahaha! Albus Dembudore! Albus Dembudore!” pekik anak laki-laki botak dengan nada mengejek bernama Ilham Kusuma, nama yang tertulis di seragam putih yang mulai menguning. “It’s Dumbledore, stupid!” Ucapan yang membuat anak laki-laki itu semakin kesal. “Nih, makan! Kamu suka, kan?” Anak laki-laki yang mendorong tadi adalah yang paling dominan. Ia sering memberi instruksi lebih banyak kepada teman-temannya untuk mengganggu murid lain. Ia melemparkan remahan roti lalu menyumpal ke dalam mulut kecil bocah yang ia rundung sampai isi roti cokelat mengotori pipi chubby dan seragam putihnya. Sang korban sudah beberapa kali memohon, meminta untuk berhenti dan membiarkannya pulang. Ia tak berniat melawan atau mengadu, ia hanya ingin pulang. Hal ini membuat ia membenci ayahnya yang tak bisa datang menjemput, janji kesekian yang diingkari. “Putera! Stop! Stop! Berhenti,” rintihnya meminta untuk tidak lagi memasukkan makanan karena ia hampir tersedak. “Tian... Tian. Nggak mau tahu! habiskan,” pekik Putera sambil menjambak rambut kecokelatan milik Tian. “Jadi begini kelakuan kalian!” Suara anak perempuan membuat semua orang yang mengelilingi Tian menghentikan aktivitasnya. “G-Glo?” ucap Putera. “Albus Dumbledore itu penyihir yang hebat, tahu!” Tambah Glo. Glo mengambil ranting pohon pepaya yang kering di sampingnya. Walaupun tampak lunak, tapi jika dipecut sampai mengenai kulit tetap akan terasa sakit. Glo dengan membabi buta mengayun-ayunkannya sampai membuat mereka yang tadi berkumpul menjadi berhambur seperti semut yang diganggu ketika mengerumuni permen di tanah. “Glo!” pekik Putera menggunakan kedua lengan sebagai perisai wajahnya. “Pergi! Kalian semua aku keluarkan dari geng!” ucap Glo tanpa menghentikan aktivitasnya. Beberapa menit, Glo akhirnya berhenti setelah semua benar-benar pergi. Ia berlari menuju Tian yang masih tersungkur sambil membuang senjata yang ia gunakan membuat tangannya lengket karena getah. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Glo sambil melingkarkan tangannya ke lengan Tian, membantunya berdiri. “Pergi!” ucap Tian sambil mendorong Glo ketika ia sudah benar-benar berdiri seimbang. Giliran Glo yang tersungkur di pasir putih kasar sampai membuat lututnya lecet karena tak ada yang melindungi kulit kakinya dari lutut ke bawah. “Kamu dorong anak perempuan?!” tukas Glo ketus sambil menatap tajam Tian. Tanpa mengatakan terima kasih atau maaf, Tian berlari meninggalkan Glo sendiri. “Eh, mau kemana?” pekik Glo yang tak mendapat sahutan. Baru beberapa meter Tian berlari, ia berhenti. Menopang setengah bobot tubuh beratnya dengan memegangi lutut, ia mengatur napas. Ia merasa tubuhnya bertambah berat. Tian menoleh ke belakang beberapa kali, memastikan Glo tidak mengejarnya. Lalu, ia kembali melanjutkan perjalanannya dengan berjalan santai. Rumahnya masih berjarak ratusan meter lagi. Pikirannya tak bisa berhenti memikirkan apa yang baru saja terjadi, membuat jalannya sedikit lambat. Baru kali ini, ada orang lain yang memanggil namanya dengan benar selain para guru ketika mengabsen di kelas. Dari kelas satu, tubuhnya memang lebih besar dari teman-teman sekelasnya. Jadi, ia sering menjadi bahan olokan terutama oleh geng yang bernama Elang, masih satu geng dengan geng Glory dan Glorya-lah pemimpin pasukannya. Mereka geng yang menguasai kelas, suka menyontek atau selalu mengerjakan PR di sekolah dengan menyalin buku tugas orang lain. Tapi, tak ada yang berani mengadukan mereka, ujung-ujungnya, pasti mereka akan berkehali di halaman belakang sekolah yang sempit, banyak pohon bambu kuning tinggi dan tempat yang jarang sekali didatangi staff sekolah kecuali Pak Imam, tukang bersih-bersih di sekolah. Tapi, percuma saja jika mereka selalu menyalin tugas, mereka hanya perkumpulan orang-orang bodoh. Peringkat belakang selalu diisi oleh nama-nama mereka. Ada tujuh orang total member, tiga perempuan dan empat laki-laki berandalan tadi. Tian merasa kehadirannya di dalam kelas tak pernah dianggap ada. Teman-temannya hanya melihatnya sebagai anak laki-laki yang berbeda. Di rumah Tian dan keluarganya berkomunikasi dengan bahasa ibu sang ayah dengan aksen british yang kental, membuat Tian sedikit kesulitan berkomunikasi dengan teman sebaya saat masuk sekolah dasar. Ia tidak memilih sekolah internasional yang rata-rata dari mereka bernasib seperti Tian. Lahir dari percampuran ras menyebabkan mereka menggunakan banyak bahasa. Hal yang benar-benar jarang sekali ditemukan di sekolah negeri biasa, membuat Tian menjadi paling menonjol dan yang paling mudah diingat. Walau dari keluarga kalangan atas karena bisnis sang ayah di bidang industri terbilang sukses, bagi orang tua Tian sekolah dimana pun sama bagusnya. Ya, itu menurut orang tua Tian. Faktanya, mereka justru memicu sifat penyendiri Tian. Tian duduk di bangku paling belakang dekat pintu. Itu karena ia paling tinggi dari anak-anak lainnya. Duduk sendirian, tak punya teman bicara, membuat ia harus menghapal seluruh materi pelajaran yang diberikan guru Matematika ketika ia lupa membawa pensil. Karena ia yakin, tak ada yang mau meminjamkannya. “Aku takut nanti jadi cemilan kamu.” Cemooh teman-temannya yang selalu menyinggung bentuk tubuhnya. “Nih. Pakai punyaku aja.” Namun selalu menolak ketika Glo dengan senang hati meminjamkannya. “Cie... cie... Glo suka sama Tian.” Setiap Glo, atau siapapun yang mengajak Tian berbicara. Kebanyakan para gadis meresponnya dengan kalimat jahat. “Jijik.” atau “Amit-amit aku suka sama dia.” dan yang lebih menyakitkan, “Ngaca, dong dia gendut begitu.” Tak terduga, respon Glo justru berbeda. “Lebih baik aku suka dia dari pada aku suka sama kalia. Dia itu Prend (friend) aku juga,” bela Glo ketika mereka baru masuk kelas empat, membuat Tian menahan senyumnya. Namun kali ini Tian bisa tersenyum sepuasnya karena ia pulang ke rumah seorang diri dengan jalan yang sangat lambat. Tersenyum ketika selalu mengingat gadis yang menjadi cinta pertamanya sejak semester awal. Tubuh Tian memang sedang berjalan di pinggir jalan raya, namun pikirannya melayang-layang di dua bulan lalu ketika ia dan Glo menjadi pasangan saat pengambilan nilai badminton ganda. Glo berbakat dalam bidang olahraga terutama basket. Ia kuat, lincah dan suka melompat. Ia juga gadis berani. Buktinya para perundung Tian yang tubuhnya lebih besar dari gadis itu takut padanya. Tak hanya mereka. Tapi juga teman sekelasnya. Ia juga gadis ceria, tidak menangis ketika jatuh. Senyum Tian semakin melebar. Tak fokus pada jalan, sibuk dengan pikirannya yang penuh membayangkan ia menjadi bocah berotot yang melindungi Glo dari para perundung, Tian tak mendengarkan klakson mobil ketika ia menyebrang di zebra cross yang lampu hijau untuk para pengendara masih menyala. Tak bisa mengendalikan mobil Nissan X-Trail silver-nya, pemuda yang baru mendapatkan surat izin mengemudinya membuat tubuh Tian terpental. Brak!!! Suara decitan ban dengan aspal sangat keras, ngeri ketika mendengarnya. Bumper bagian depan melengkung ke dalam setelah berhasil dihentikan oleh tubuh gempal Tian. Tubuh Tian telungkup. Darah keluar dari kepala sebelah kanan. Merasa sakit, namun Tian masih tersenyum dengan mata tertutup. --- Seminggu dirawat di ruang VIP, selama itu pula Glo selalu datang menjenguk Tian yang tangan kanannya dibalut gips pada bagian siku sampai menutupi punggung tangan. Hanya kelima jari bulat Tian yang tampak. Tian selalu gelisah setiap melihat jarum jam tak lelah bergerak menunjuk angka di jam dinding bulat di ruangan yang hanya ada dirinya dan ibunya. Tak pernah bersemangat sebelum jam sebelas siang, riang untuk tiga jam di atasnya, kembali lesu ketika jam dua siang dan ia ulangi keesokan harinya. Ia selalu meminta ibunya untuk membelikan keripik kentang rasa sapi panggang setiap hari. Bukan untuknya. Ia hanya berpura-pura juga menyukai camilan seperti Glo. Ia bahkan juga berpura-pura tidak bisa melakukan banyak hal karena tangan kanannya patah, padahal ia kidal. Jam sebelas lewat tiga puluh, pintu diketuk. Wanita dengan tinggi 171 senti tersenyum melihat wajah anaknya yang berbaring di ranjang berubah menjadi ceria. Wanita berumur awal tiga puluhan dengan wajah bulat yang tenang memalingkan wajah dan berjalan untuk membuka pintu. “Masuk, Sayang,” sapa Mrs.Branwyn sambil mengelus pelan pucuk kepala Glo yang panas diterpa cahaya matahari siang. Dari dulu Mrs. Branwyn ingin sekali memiliki anak perempuan. Itulah kenapa ia menyayangi Glo selain ia adalah teman pertama puteranya, Glo juga anak yang sopan dan suka mengoceh. Ia selalu datang sambil membawa banyak cerita. Kamar yang biasanya hanya terdengar suara mesin pendeteksi jantung, ruangan menjadi ramai ketika Glo datang. Tak hanya Tian, sang ibu juga selalu menunggu kedatangan Glo. “Terima kasih, Tante.” Glo membungkuk sesaat saat melewati Mrs.Branwyn yang masih memegang gagang pintu bermaksud hendak menutupnya kembali setelah Glo masuk. “Tian!” Glo membanting tubuhnya di atas kursi samping ranjang Tian. “Aku mau cerita, deh.” Wajahnya cemberut. “Semoga tangan aku juga patah kayak kamu.” “Hush!” ucap Tian dan Mrs. Branwyn kompak. “Kesel banget sama Pak Budi. Bayangin aja, Pak Budi daftarin namaku untuk tiga lomba sekaligus,” tukas Glo sambil mengacung tiga jarinya. “Hah?” tanya Tian menunggu penjelasan Glo. “Iya. Bola voli, basket dan badminton.” Glo mendengus kesal, menyandarkan punggungnya kasar sambil menyilangkan tangannya. “Dasar Pak Budi. Dia aja jarang masuk kelas buat ngajar olahraga apalagi untuk latih kita. Terus kita mau latihan dimana?” keluhnya. Tian hanya tertawa. “Kamu bisa latihan di rumahku.” Glo mengedikkan bahu, tak peduli. “Oh, iya. Gimana tawaranku kemarin?” Tian membuang wajah. “Aku nggak suka masuk ke dalam geng-gengan begitu.” “Geng? Sebenarnya kita itu kelompok belajar tahu.” “Kelompok belajar? Tapi kenapa suka berantem?” “Maaf, aku salah terima anggota. Kamu cukup ajarain kita menggambar. Tangan kamu sudah bisa sembuh minggu depan, kan?” “Tawaran apa, nih?” tanya Mrs.Branwyn penasaran. “Tian, kan pintar bahasa inggris dan menggambar, kita butuh dia untuk ajarin kita Tante. Tante setuju, kan?” “Setuju, dong. Kalian, kan mau belajar. Kenapa Tante nggak setuju.” Glo mengangguk senang. “Tuh, Mamah kamu setuju.” Tian tak menjawab. “Aku dan teman-temanku juga bisa ajarin kamu, kok. Yosa itu pintar Matematika, Yosia dia pintar pelajaran IPA. Aku bisa ajarkan kamu olahraga. Kita tunggu tangan kamu sembuh.” “Sembuh?” Mrs. Branwyn kembali ikut dalam percakapan mereka. “Besok Tian boleh pulang. Nggak perlu tunggu sembuh. Tian, kan mirip Papahnya. Kidal.” Lama tak merespon, Glo mengalihkan wajahnya perlahan menatap datar Tian yang gelisah. Pandangannya menatap isi ruangan liar, menghindari tatapan Glo yang semakin tajam. “Tante ambil minum dulu, ya.” Mrs. Branwyn bangkit dari sofa hendak keluar. “Mamah jangan pergi dulu,” pinta Tian memelas. “Tian, kan ada yang nemenin. Glo jaga Tian sebentar, ya.” Ketika ruangan hanya tinggal mereka berdua, Glo mulai tertawa kecil tanpa mengalihkan tatapannya ke Tian yang meringis. “Pembohong,” gumam Glo sambil menggenggam jari kanan Tian kuat. “A-A... Glo... sakit... sakit,” rintih Tian. “Sakit? Selama apapun tangan kamu sakit, kamu tetap selalu pakai tangan kiri, kan?” ucap Glo ketus, mempererat genggamannya. Membuat Tian mengerti, kenapa Glo ditakuti di kelas. “Sorry...Sorry... lepasin, dong.” “Nggak!” “Aku minta maaf.” “Nggak!” “Oke... oke. Aku masuk ke geng kamu.” Tersenyum puas, Glo melepaskan genggamannya. “Gitu, dong. Sekalian aku latihan basket di rumah kamu, ya.” Tian menghela napas panjang, memaksakan senyum sambil mengangguk.   “Ini catatan pelajaran hari ini.” Glo mengeluarkan tiga buku dari dalam tas ranselnya. “Bikin repot, deh. Gara-gara kamu aku harus bawa tas. Berat tahu.” Tian menerimanya dengan senang hati, menatap sampul buku yang sobek sesaat, lalu menumpuknya di nakas samping ranjang. “Rasanya nggak mau lagi balik ke sekolah.” “Kenapa? Kamu mau berhenti sekolah? Atau takut diganggu lagi? Tenang, aku bakap pukul kalau ada yang ganggu kamu lagi. Kamu sekarang anggota geng Glory.” “Bukan.” Tian menatap tangannya yang di gips. “Bosan. Aku cuma datang, duduk, diam, belajar, makan siang, belajar, terus pulang.” “Kita, kan teman. Kita bisa main bareng.” Tian kembali diam. “Kenapa kamu mau jadi temanku?” “Memangnya kenapa? Kita saling kenal, kita teman sekelas, otomatis kita teman. Dan Mama aku pernah bilang, kalau teman harus selalu membantu temannya.” “Kalau kita nggak kenal karena aku bukan teman sekelasmu, kamu masih mau jadi temanku?” Glo memasang wajah serius, berpikir serius, lalu mengangguk. “Kita bisa kenalan, baru jadi teman.” “Kenapa kamu mau kenalan sama aku?” “Karena kamu bisa bahasa inggris dan menggambar. Kamu juga pinjamkan aku rumahmu buat latihan. Omong-omong, kamu bisa bahasa lain?” “Bisa.” “Bahasa apa?” “Jerman.” “Oh, ya? Coba, dong.” “Bkzkhrkhskhhrkri gud.” “Keren.” Mrs. Branwyn tertawa kecil di balik pintu. Tak mau mengganggu percakapan lucu mereka sambil memegang gagang cangkir teh panas di tangan kanannya. --- Tiba di rumah, Glo mencari-cari keberadaan ayahnya. “Ayah? Di rumah?” ucap Glo dengan suara lantang namun tak ada jawaban. Rumah glo tidak bertingkat. Dinding batu berkali-kali diganti cat karena mudah berlumut akibat air yang mudah menyerap ketika hujan deras. Glo meletakkan tas ranselnya dan kembali pergi ke rumah. Ia berjalan menuju belakang rumahnya yang terdapat bangunan bercat hijau muda tingkat dua yang memiliki sepuluh pintu. Ia tersenyum saat melihat pria akhir tiga puluhan sedang mengepel lantai keramik putih di lantai satu. Carissa Fayre Glorya, namanya diambil dari bunga Morning Glory yang memiliki makna pagi yang mulia sebagai anugerah atas keagungan Tuhan. Glo lahir pukul tujuh pagi sembilan tahun lalu. Pasca bercerai dengan sang ibu dua tahun lalu, Glo tinggal bersama ayahnya yang membuka usaha kos-kosan putera yang masih sepi penghuni dan ia beri nama Kos SleepyWell. Modal yang didapat dari tabungan ayahnya ditambah hasil warisan orang tua, Pak Martono memilih pensiun dini dari pekerjaan lamanya sebagai manager di kantor pos. Setiap akhir pekan, biasanya Glo akan mengunjungi ibunya yang berada di beda kota yang jaraknya dua jam dari rumah Glo. Ibunya juga membuka usaha salon walau tak besar. Akibat perceraiannya, Glo belum tahu dengan jelas. Yang ia ingat, orang tuanya bertengkar sambil menyebut nama Laura. Entah siapa wanita yang disebut Sulistiawati. Martono dengan susah payah membujuk mantan istrinya agar Glo bisa bersamanya ketika weekdays. Butuh satu semester setelah dua minggu mereka bercerai. Baginya, satu-satunya hiburan untuknya, adalah ketika ia mendengar suara Glo yang mengisi kosongnya rumah. Glo yang suka tertawa, tak pernah berhenti bicara dan selalu bisa membuat suasana bahagia membuat Martono kembali bangkit dan bersemangat untuk hidup. “My Sunshine Girl! Udah pulang, ya? Maaf Ayah nggak dengar,” ucap Martono yang melempar gagang pelnya agar bisa memeluk tubuh mungil Glo. “Ayah nggak capek?” tanya Glo. Martono tak pernah jujur jika anak satu-satunya bertanya pertanyaan yang sama. “Nggak,” ucapnya sambil menggeleng. “Tadi jenguk Tian, ya? Dia udah sehat.” Glo mengangguk kuat. “Tian nggak cuma bisa bahasa Inggris, lho, Yah. Dia juga bisa bahasa Jerman.” “Oh, ya?” “Tadi Glo juga tanda tangan di perban Tian pakai spidol merah.” “Tanda tangan?” “Iya. Begini.” Glo menulis di udara. Hanya dia yang mengerti apa yang ditulisnya. “Hari ini berkelahi lagi?” tanya sang ayah yang sudah berkali-kali memenuhi panggilan sekolah karena Glo yang melukai anak lain. Nggak, Yah. Glo udah janji supaya nggak terlalu sering berantem.” Sifat tomboynya menurun dari sang ibu. Ditambah Martono senang mengajak Glo bermain bola, basket atau badminton. Baginya, Princess tidak perlu terlalu kemayu. Kata orang, para gadis yang tomboy semasa kecil akan menjadi wanita anggun ketika mereka dewasa. Jadi, hanya masalah waktu, Martono tidak mau menghalangi hobi Glo. “Oh, iya. Di sekolah—“ dan seterusnya cerita Glo tidak berhenti sampai ayahnya selesai mengepel di lantai dua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN