Rasanya sudah berulang kali Gilbert memprotes Nicolin tentang kekuatannya untuk membuat Gilbert jatuh terhadap kantuk yang luar biasa, tetapi iblis dalam perwujudan pelayan itu tetap saja melakukannya dan seolah sama sekali tidak peduli dengan perintah tuannya sendiri. Alasannya tetaplah sama; Tuan Muda harus beristirahat dan bersiap untuk kegiatan esok hari.
Astaga. Bahkan guru tata kramanya dulu sama sekali tidak berani memerintahkannya seperti itu. Kemungkinan, iblis licik itu memanfaatkan ikatan kontrak mereka. Jelas, Gilbert tidak bisa mengusirnya begitu saja selama kontrak mereka masih belum terpenuhi, dan jujur saja Gilbert tidak ingin dirinya menyia-nyiakan tawaran si iblis untuk memenuhi dendam kesumatnya yang tertancap kuat di dalam hatinya.
Ketika Gilbert bangun, Nicolin telah bersiap seperti biasa tanpa ada penyesalan atas apa yang ia lakukan. Gilbert sudah lelah mengingatkan hal yang sama, maka ia hanya diam dan membiarkan saja Nicolin melakukan tugasnya sebagai pelayan.
“Sebenarnya apa yang kita lakukan di bangunan tua itu semalam?” tanya Gilbert tiba-tiba.
Nicolin melebarkan matanya sedikit—sangat samar, namun Gilbert cukup menyadari hal itu. “Mencarikan Tuan Muda informasi.”
Gilbert menaikkan sebelah alisnya. “Kau yakin? aku tidak melihat ada informasi berguna saat ini. Dan apa hubungannya informasi dengan membawaku ke tempat itu? Kau memanggil kawanmu begitu?”
Nicolin tersenyum. “Benar, Tuan Muda. Ah, tapi mereka bukan kawanku, lebih tepat disebut sebagai bawahan?” dan ia mengangkat bahunya tak peduli.
Gilbert bahkan terkejut Nicolin mengiyakan celotehan asalnya. Gilbert hanya bermain-main secara sakras dengan kalimatnya. Namun dengan jawaban Gilbert, bukan tidak mungkin jika apa yang pelayan itu katakan benar.
“Begitu?”
Nicolin menyelesaikan tugasnya dengan memasangkan sepatu kepada kaki-kaki Gilbert. Ia tersenyum puas atas hasil kerjanya dan segera berdiri satu langkah di belakang Gilbert.
“Dokter Albert, dia masih hidup ‘kan?”
“Seperti yang Tuan Muda inginkan. Aku selalu memeriksanya setiap hari termasuk kesehatannya. Secara fisik, dia cukup sehat. Namun, kemungkinan besar dia stress karena sama sekali tidak boleh keluar dan bahkan tidak tahu siapa yang membawanya kemari.”
“Bagus. Terus awasi dia. Dokter Albert tidak boleh tahu apapun sebelum aku memastikan apakah ritual itu benar sudah dilakukan atau belum.”
Nicolin membungkuk. “Saya mengerti.”
Gilbert bertopang dagu. Bola matanya bergerak-gerak namun sama sekali tidak ada kata yang terucap. Ia hanya diam, mengetuk-ngetukkan jemarinya pada meja kerja sementara Nicolin setia berdiri di belakangnya. Huru-hara yang ia ciptakan untuk menyamarkan pergerakannya, nyatanya tidak terlalu berpengaruh. Ia kira, dirinya bisa lebih leluasa dan mencegah ritual itu terlaksana jika ia membuat pihak Kerajaan sibuk. Namun sepertinya, baik dirinya mau pun Kerajaan sama-sama memiliki urusan sendiri. Dan jelas, Gilbert masih yakin sepenuhnya bahwa ada bangsawan-bangsawan di dalam Kerajaan yang terlibat dalam ritual itu.
“Apa yang mereka lakukan untuk membuat abu pemanggil?”
“Jantung.”
“Hanya jantung?”
Nicolin mengangguk. “Mereka membakar jantung persembahan itu dengan upacara yang telah disiapkan.”
“Lalu?”
“Meniup abu itu dan membiarkan iblis yang mereka panggil memilih sendiri siapa wadah yang diinginkan.”
Gilbert mengernyit. “Lantas, wadah untuk iblis itu bisa jadi bukan wadah yang disiapkan?”
“Itu bisa saja terjadi, Tuan Mua. Meski dalam perkumpulan itu sudah menyiapkan wadah untuk ditempati iblis, saat abu-abu itu melayang, mereka memilih tubuh dan jiwa mana yang cocok dan itu tidak selalu wadah yang sudah disediakan. Dalam beberapa kasus, iblis yang dipanggil bahkan lebih banyak dari yang direncanakan.”
Gilbert menggeleng tak habis pikir. “Orang-orang gila. Bagaimana jika iblis dari abu pemanggil itu masuk ke tubuh yang tidak menginginkannya? Dan apa maksudmu dengan lebih banyak?”
Nicolin tersenyum. “Abu pemanggil tak bisa dilawan, Tuan Muda. Sekali jiwa mereka menyatu, tidak akan bisa lagi dipisahkan hingga kematian. Lagipula, baik si iblis mau pun manusia, sama sekali tidak memiliki kuasa untuk memisahkan diri. Ada banyak kejadian di mana tubuh manusia yang dimasuki iblis terserang penyakit ganas dan menyebabkannya tak lagi mampu beraktivitas normal. Iblis di dalam tubuhnya tetap tak akan bisa keluar meski mereka mau. Selain itu, setiap ritual untuk memanggil iblis dengan abu pemanggil harus menyertakan kategori-kategori yang telah kita bahas sebelumnya. Bisa jadi, si pelaku ritual hanya menghendaki satu iblis untuk dipanggil, atau diwadahkan pada salah satu tubuh yang ia sediakan, namun yang terjadi ketika ritual itu dilakukan, ada dua iblis yang datang dan salah satunya malah menempati dirinya sendiri.”
“Benar-benar menyusahkan. Syarat memanggilnya sangat susah, dan berisiko tinggi.”
“Ya. Tapi seperti yang kukatakan Tuan Muda, tidak semua manusia memiliki jiwa yang kokoh untuk memanggil bangsa kami seperti apa yang Tuan Muda lakukan. Dan Tuan Muda tidak akan mengerti apa yang bangsa kami rasakan, karena sejujurnya, persembahan dengan jantung tiap kategori itu sangatlah rendah harganya untuk kami dibandingkan jiwa seperti Tuan Muda.”
Gilbert tidak ingin mendengar seterusnya. Ia sudah cukup puas dengan pengetahuan seperti itu. Lagipula, tidak ada gunanya ia mempelajari hal-hal berbau iblis yang sama sekali tidak ada kaitan apapun dengan dendamnya. Jika ia ingin segala rencananya tuntas dan mendapatkan seluruh kebenaran yang ia mau, Gilbert harus benar-benar mengenyahkan segala hal yang mengganggu termasuk mengeraskan hatinya dari pengaruh apapun yang mungkin membuatnya goyah.
---
Gilbert dan Nicolin kembali pada bangunan tua yang sebelumnya digunakan Nicolin untuk mengumpulkan iblis bawahannya. Ketika kembali ke sana, Nicolin tak lagi menyuruhnya memejamkan mata. Nicolin juga sama sekali tidak merubah wujud ke bentuk aslinya dan tetap menjadi Nicolin sang pelayan kepala keluarga Grey.
Bangunan tua itu hampir-hampir seperti gereja tua yang telah lama ditinggalkan. Gilbert baru menyadarinya ketika kedatangan keduanya bersama Nicolin kali ini. Semalam mereka hanya berada di luar bangunan itu dan sama sekali tidak masuk. Dengan gelap pekat yang menelan, Gilbert tidak begitu jelas melihat apa sebenarnya bangunan yang berada di depannya, selain ia hanya menyadari bahwa itu sebuah bangunan tua.
Gilbert duduk pada kursi kayu reot di dalam bangunan itu sementara Nicolin berdiri di depannya seolah tengah menunggu sesuatu.
“Apa sebenarnya yang kita lakukan?”
Nicolin tersenyum. “Menunggu informasi penting.”
Tak lama setelah ia mengucapkan kalimat itu, lima orang pemuda dengan pakaian pelayan yang sama seperti Nicolin datang dan membungkuk padanya. Gilbert tidak bisa untuk tidak mengernyitkan dahi ketika melihat hal itu. Memangnya mereka siapa?
“Aku ingat kau bilang tidak ada pihak luar yang akan terlibat untuk penyelidikan ini?”
Nicolin tersenyum. “Mereka bukan pihak luar, Tuan Muda. Mereka ada dalam kuasaku.”
Lima orang pemuda itu berlutut tepat di hadapan Gilbert yang duduk dengan menyilangkan kakinya. Sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu, Gilbert secara samar menegakkan tubuhnya sendiri.
“Kami akan melayanimu, Tuan Muda.” Seru mereka bersamaan.
-----