CHAPTER 5 : THE GATE OF ILLUSION

1419 Kata
Lorong gelap nan lembab itu seakan tak memiliki ujung, dengan nafas yang sudah sangat tidak beraturan Alexa masih terus berlari, namun kegelapan itu tak kunjung selesai. Sedangkan suara geraman kasar di belakangnya terasa semakin dekat tiap detiknya. Setelah terus berlari tanpa henti, ia malah dihadapkan dengan jalan buntu. Tak ada jalan keluar apapun selain dinding batu yang kasar dan lembab. Alexa sadar ia telah salah memilih jalan, dan tak ada jalan kembali. Ia sangat yakin jika sang iblis pasti lah tak jauh berada di belakangnya, dan hanya tinggal menunggu waktu saja sampai ia akan benar-benar terperangkap tanpa bisa kabur lagi. Namun demikian, ia tetap tak ingin menyerah, walaupun kemungkinannya untuk bebas nyaris tak ada, ia tetap tidak akan berdiam diri dan pasrah. Pasti ada cara untuk melarikan diri, ia masih meyakini hal itu. Tangannya terjulur meraba dinding batu yang kasar dan dingin, mencoba mencari segala kemungkinan sekecil apapun, sebuah retakan atau apapun itu. Menarik nafas pelan, ia mencoba meningkatkan kepekaan indera nya, namun tangannya tanpa sengaja menyenggol sebuah tonjolan batu, membuatnya bergeser ke arah kanan dan tetiba dinding batu itu bergetar sebelum perlahan bergeser terbuka. Suara geraman semakin jelas terdengar diiringi suara langkah kaki kasar, iblis itu benar-benar berada tak jauh di belakangnya. Alexa pun dengan sekuat tenaga mendorong lempengan batu itu agar segera terbuka supaya ia bisa cepat-cepat melarikan diri. Celah yang berhasil terbuka baru setengahnya, namun suara geraman dan langkah kaki sang iblis semakin dekat terdengar, membuat Alexa segera menyelipkan tubuhnya diantara celah sempit itu. Sembari mendorong lempengan dinding batu itu dengan sisa tenaganya, Alexa mencoba membebaskan tubuhnya dari sana. Dan benar saja dugaannya, salah satu kakinya tiba-tiba di cengkram kuat ketika ia hampir berhasil keluar dari lorong gelap itu, kemudian rasa pedih pun tiba-tiba menjalari kakinya. Ia mencoba berontak dan menendang-nendang sekuat tenaga, hingga tendangan itu tak sengaja mengenai kepala sang iblis dengan telak, membuatnya berhasil melepaskan diri. Tanpa mempedulikan luka robek menganga di pergelangan kakinya, Alexa pun kembali berlari sembari menahan pedih akibat luka robek itu. Akan tetapi ia seketika mematung di tempat ketika menyadari bahwa ia telah memasuki dimensi yang berbeda. Langit di atasnya berwarna putih ke abu-abuan, sedangkan pepohonan dan segala benda di sekitarnya berwaran hitam. Ia merasa seperti sedang terjebak di dunia hitam putih. Namun ia tak sempat memikirkan alasannya, karena sang iblis yang kini terbang di atasnya, lalu mendarat tak jauh di depannya. "Bukankah sudah kubilang untuk tidak memberontak? Lihat kan, kau hanya akan semakin terluka, Sayang."ujar sang iblis sembari mengelus lembut pipi Alexa, membuatnya refleks beringsut mundur menjauhi sentuhan itu sembari melayangkan tatapan sengit pada sang iblis. "Sayang sekali, tapi maaf, nama belakangku akan tetap Hemlock selama aku masih hidup. Jadi, jika kau ingin mengubahnya, maka langkahi dulu mayatku." ujar Alexa balik mengejek yang justru di balas dengan tawa mengejek yang nyaris membuat Alexa naik pitam, namun ia tahu jika ia tak boleh gegabah sekarang. Tetiba, Alexa menyadari atmosfer di sekelilingnya berubah menjadi lebih berat dan pekat. Tatapan mengejek itu pun kini berubah menjadi tatapan serius yang membuat Alexa langsung merasa curiga. Wujud iblisnya pun perlahan ikut berubah, kini ia telah kembali menjelma menjadi Nicholas Foster, sang aktor muda tampan dan berbakat. Bibirnya menampilkan senyum miring dengan tatapan yang menghunjam tepat ke kedua mata Alexa. Kemudian ia mengatakan sesuatu yang tak bisa Alexa percayai. "Kalau begitu, jadikan aku yang kedua." **** Apa semua iblis itu memang sinting? Atau mereka memang diciptakan tanpa harga diri? Bukankah itu terlalu berlebihan meminta untuk dijadikan simpanan? Aku benar-benar tak habis pikir dengan iblis di depanku ini. Meskipun ia seorang iblis tidakkah seharusnya ia masih memiliki harga diri?. Wah, aku bahkan sampai tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar permintaan tak masuk akalnya barusan. Aku hanya bisa menatapnya tanpa berkedip. "Bagaimana—....Tidak. Kenapa kau—sampai berkata seperti itu? Apa kau seputus asa itu sampai-sampai mengatakan hal tak tahu malu seperti itu?"tanyaku masih tak percaya. "Apa kau percaya pada cinta pandangan pertama?"ujarnya. Dan aku pun tak sanggup lagi menahan derai tawaku lebih lama lagi setelah mendengar perkataannya yang terdengar semakin konyol. "Aku tidak tahu jika iblis sepertimu ternyata memiliki selera humor yang sangat buruk. Dan, tidak. Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama jika yang mengatakannya adalah kau."sindir ku pedas yang langsung membungkamnya. "Nah...kalau tak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pamit. Aku tak mau membuat suamiku marah karena telah membuatnya menungguku terlalu lama. Dan well, kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi."tekan ku pada kalimat ku yang terakhir. Ku harap ia mengerti maksudku dan tak lagi mengusikku ke depannya karena aku tak yakin aku akan sabar ketika melihat wajahnya lagi. Setelah melihat reaksi nya yang terdiam ku simpulkan jika ia sudah paham maksudku, jadi aku pun berbalik pergi meninggalkannya. "Kalau begitu, kau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengungkap misteri kematian adik tersayangmu."selanya tiba-tiba, kini giliran ku yang terdiam di tempat. "Bukankah sedari dulu kau sangat ingin tahu siapa dalang yang sebenarnya?"tanyanya dengan mengejek. "Bukankah tak ada alasan untukku mempercayai omong-kosong mu itu?"balasku balik mengejeknya. Namun, iblis itu tiba-tiba saja menarikku kasar dan mencoba menciumku dengan paksa. Sekuat tenaga aku mencoba menjauhkannya, tetapi ia malah memelukku semakin erat. Tenaga ku sama sekali tak sebanding dengan tenaganya yang bagaikan banteng yang sedang mengamuk. Ia menahan wajahku dengan kuat, namun sebelum bibirnya berhasil menyentuh bibirku, aku berhasil membuatnya bergulingan di tanah dan menjerit-jerit kesakitan. Tenaga ku mungkin memang tak sebanding, tetapi jika tenaga yang tak sebanding itu di arahkan ke titik sasaran yang tepat, itu akan menghasilkan sebuah pukulan yang telak. Aku berhasil menendang titik vitalnya, dengan sangat telak, karena itulah ia kini bergulingan di tanah sembari menjerit-jerit seperti wanita. Tanpa membuang kesempatan itu, aku pun segera kabur dari sana sebelum iblis itu berhasil bangkit kembali kemudian menangkap ku. Ku percepat lari ku tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Namun, entah mengapa aku justru merasa pepohonan di sekelilingku menjadi semakin rapat. Hampir tak ada cahaya disini, langit keabuan di atasku kini sudah tak terlihat lagi. Suasana hutan yang sangat sunyi membuatku meningkatkan kewaspadaan ku. Ku hentikan lari ku dan lebih memilih berjalan kaki karena gelapnya hutan di sekelilingku. Semakin lama justru aku semakin merasakan suatu keanehan janggal. Aku merasa seperti sedang diawasi oleh sesuatu. Namun tak dapat menemukan apapun sebagai petunjuk. Aku pun memutuskan untuk kembali berlari, jalanan di depanku seperti jalan beraspal yang landai, jadi aku tak perlu khawatir akan tersandung sesuatu, meskipun gelap karena tertutupi rimbunnya pepohonan. Lalu sekonyong-konyong, aku tiba-tiba saja mendengar suara desisan ular yang langsung membuatku otomatis menghentikan langkahku. Ku perhatikan sekelilingku dengan seksama, tak ada apapun disana, hanya siluet gelap pepohonan yang menemani. Akan tetapi, kemudian aku melihat sesuatu merayap keluar dari balik sesemakan yang berada tak jauh di depanku. Tanpa sadar aku pun beringsut mundur yang mana malah membuatnya langsung berdiri tegak dan mendesis. Mata kuningnya berkilat dalam kegelapan, menatapku dengan lekat seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku adalah mangsa yang layak untuk di makan atau justru lebih layak untuk dibunuh. Itu adalah ular kobra terbesar yang pernah kulihat seumur hidupku. Saat ular kobra raksasa itu maju mendekati ku, tanpa pikir panjang aku pun langsung berlari ke arah sesemakan yang ada di sampingku. Berusaha sebisa mungkin agar tak terkena gigitan nya yang mengandung racun yang berbisa. Berkali-kali aku berhasil menghindari serangannya sebelum aku tiba-tiba menemukan tanah lapang dengan pintu raksasa di bagian lainnya. Pintu raksasa itu nampak berkilauan dan transparan, bagai portal raksasa yang berdiri tegak di tengah padang rumput yang luas.Tanpa pikir panjang aku pun berlari ke arahnya. Tepat sesaat setelah aku berhasil melompat masuk menembus portal raksasa itu, pintu portal itu pun tertutup tiba-tiba, menyisakan sebagian kepala ular kobra raksasa yang berhasil mengikutiku menembus masuk ke dalam pintu portal dalam keadaan terpotong dan menggelinding di tanah tak jauh dari tempatku berada. **** Alexa pun menghembuskan nafas lega, karena akhirnya berhasil selamat dari kejaran kobra raksasa. Sebuah suara yang familiar tiba-tiba memanggil namanya. Ia pun menoleh dengan sangat terkejut, tak percaya jika ia akan sebahagia ini ketika namanya di panggil olehnya. "Akhirnya, aku menemukanmu, Sayang."ujarnya sebelum mendekap erat tubuh Alexa dalam pelukannya. "Aku—aku...kembali? Aku berhasil kembali. Aku berhasil."gumam Alexa masih tak percaya jika ia akan merasa sebahagia ini tatkala di peluk oleh suaminya, Nathan. Di belakangnya, dunia hitam putih yang aneh terkunci rapat oleh sebuah portal raksasa ajaib yang bening dan berkilauan, bagai kaca raksasa yang memantulkan langit sore kemerahan yang indah. Hembusan angin sepoi yang menyejukkan, membuat Alexa tak henti-hentinya mengucap syukur di dalam hati seraya tersenyum lega. Alexa pun membalas pelukan erat sang suami, berpelukan erat di bibir tebing pembatas tanpa tahu jika mimpi buruk yang sebenarnya justru kini berada tepat di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN