CHAPTER 4 : THE KING OF MONSTERS

1885 Kata
"Dan aku tau siapa dalang dari kematian adik mu. Aku tahu dengan sangat jelas siapa pelakunya, sejelas diriku yang bisa melihat kilatan kebencian di kedua matamu yang cantik." bisik sang iblis di telinga Alexa, dan sengaja berlama-lama disana, memperhatikan setiap ekspresi yang muncul di wajah wanita yang menarik perhatiannya itu. Netranya yang sehijau daun musim semi berkilat ketika bertemu pandang dengan netra cokelat karamel milik Alexa yang sedang mendongak dan menatapnya dengan tatapan menilai. Sang iblis mengakui pesona kuat yang dimiliki oleh wanita di depannya. Pesona langka yang hanya akan muncul seribu tahun sekali, pesona yang mampu membuat para makhluk kegelapan dengan sukarela tunduk padanya. Sumber kekuatan sekaligus kehancuran bagi para penghuni alam bawah. Namun, bagai madu yang begitu lezat, tak ada satupun yang mampu menolak godaan manisnya, meski pada akhirnya mereka akan hancur tak bersisa. Dan itulah yang kini sedang dilakukannya, meski taruhannya adalah nyawanya sendiri, ia tak akan mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi rasa manis itu, meski ia tahu ulahnya ini akan menimbulkan peperangan besar nantinya. "Padahal kau bisa membuat semuanya menjadi lebih mudah. Sayang sekali, tapi aktingmu tadi benar-benar bagus, Sayang." ujar nya lagi sembari menyeringai lebar tatkala melihat ekspresi Alexa yang seketika menjadi kaku disertai kebisuannya. "Ah...kau diam saja sudah terlihat sangat cantik. Bagaimana kalau—..."perkataannya terpotong karena ia dengan tiba-tiba menarik tubuh Alexa hingga menabrak d**a bidangnya, lalu dengan gerakan cepat ia hampir berhasil menyambar bibir merah milik Alexa. Untung nya Alexa memiliki refleks yang bagus, ia pun langsung meninju wajah sang iblis penguasa para monster itu hingga menyebabkan tulang rahang milik sang iblis bergeser. Namun, bukannya teriakan kesakitan yang keluar, iblis itu justru tertawa kencang seolah mengejek kekuatan Alexa yang sama sekali tak memberikan efek apapun padanya. Lalu dengan mudahnya ia mengembalikan tulang rahangnya itu ke tempat semula. Di tengah lorong goa yang sepi dan hanya diterangi oleh nyala api obor-obor yang tergantung di dinding goa, Alexa tanpa sadar telah membuat kesalahan yang fatal. Iblis Behemoth bukanlah iblis yang bisa dieremehkan, ia adalah rajanya para monster yang hidup di daratan, dan kini Alexa sudah membuat sang raja marah besar dengan penolakannya. Melihat hal itu, Alexa pun segera berlari meninggalkan sang iblis yang tengah menertawakannya. Tawa mengejek yang sama seperti suara tawa Mr. Hemlock dulu saat melihatnya mencoba kabur dari genggaman nya. Ia pun semakin mempercepat larinya, akan tetapi lorong di depannya tiba-tiba memiliki dua persimpangan, Alexa memilih lorong di sebelah kanan karena menurutnya kanan selalu identik dengan kebaikan. Namun beberapa menit setelahnya ia menertawakan pikiran konyolnya itu karena kini justru ada tiga lorong yang membentang di hadapannya. Suara geraman binatang buas tiba-tiba saja terdengar. Suara geraman itu terdengar sangat dekat, gemanya bahkan menggetarkan dinding-dinding goa yang ada di sekelilingnya. Alexa pun menoleh ke belakang, ke asal suara tersebut dan menemukan sepasang batu Ruby berbentuk bulat kecil mengambang di udara tak jauh di belakangnya, batu Ruby itu berkilat-kilat bak sorotan sinar laser. Namun, sepasang bulatan merah kecil itu perlahan membesar, hingga Alexa pun menyadari jika itu bukanlah batu Ruby melainkan sepasang mata merah menyala milik sesosok monster berbentuk kepala banteng dengan tanduk hitam besar nan tajam di kepalanya, bertubuh selayaknya manusia raksasa berotot yang sedang menenteng gada raksasa di tangannya yang gemuk. "Minotaur? Bukankah makhluk purba itu seharusnya sudah punah?"gumam Alexa bertanya-tanya, sembari berjalan mundur mencoba menghindari banteng purba itu yang terus merangsek maju. Minotaur berukuran raksasa itu kemudian berjongkok tak jauh dari hadapan Alexa, lalu mendengus keras yang langsung membuat Alexa sedikit terlonjak di tempat. Kedua mata merahnya yang menyala menatap Alexa lekat tak berkedip. Ketika salah satu tangan gemuknya terjulur mencoba meraih Alexa, tanpa pikir panjang lagi Alexa pun langsung berlari kabur. "Apakah minotaur itu sengaja di panggil oleh Behemoth untuk membunuhku? Ah, aku lupa jika semua iblis itu pendendam. Kalau begini tak ada pilihan lain selain sebisa mungkin mencoba untuk tak tertangkap. Semoga saja yang di panggilnya hanya minotaur bodoh itu saja. Ku harap tak ada monster lainnya."gumam Alexa di dalam hati seraya terus berlari menghindar dari kejaran banteng raksasa purba yang ikut berlari di belakangnya. **** Di lain tempat, Mr. Hemlock sudah memporak-porandakan hampir lima mansion milik Behemoth, atau di dunia manusia lebih dikenal dengan nama Nicholas Foster, seorang aktor muda yang kini tengah naik daun. Dalam bentuk badut iblisnya, ia dengan santai mengoyak tubuh orang-orang kepercayaan Behemoth hingga jadi seonggok mayat yang tercabik, membuat Richard, tangan kanannya, harus bekerja ekstra untuk membereskan kekacauan yang di timbulkan tuannya itu. Namun, tuannya justru tertawa sinting melihat pemandangan mengerikan yang telah ia ciptakan. Percikan darah, serta potongan-potongan tubuh yang tercecer menghiasi hampir setiap sudut mansion itu. Bau amis darah memenuhi udara, membuat siapa saja yang menghirupnya akan merasa mual karena jijik. Tapi itu tak berlaku bagi Mr. Hemlock, meski rambut cokelat gelapnya menjadi amat sangat berantakan dan lengket karena cipratan darah, tak menyurutkan antusiasme nya. Ia justru merasa semakin bersemangat ketika mencium aroma darah dari para pendosa seperti mereka, sudah menjadi rahasia umum jika bersekutu dengan iblis dan menjadi pesuruhnya adalah sebuah dosa besar. Mereka akan menjadi manusia-manusia kotor yang selamanya tak akan mampu melepaskan diri dari jeratan iblis itu, sekali masuk kau tak akan bisa lagi keluar. Seringai puas terukir lebar di wajah Mr. Hemlock yang seputih mayat, lingkaran hitam di sekeliling matanya semakin membesar dan menghitam setiap ia selesai membantai banyak pendosa dan mengirim roh mereka ke siksaan tiada akhir di neraka. Seperti zat dopping yang membuatnya kecanduan dan tak berhenti membunuh makhluk hidup apapun di depannya hingga tak bersisa. Sudah sangat lama ia tak merasakan kepuasan sehebat ini, energi nya terasa seperti telah terisi kembali. Namun, tetiba saja ia teringat akan janjinya pada Alexa untuk berhenti membunuh seperti monster haus darah, lalu ia pun ingat bagaimana ekspresi yang di tampilkan istrinya itu saat ia terakhir kali membunuh seorang manusia, ekspresi marah yang bercampur kekecewaan yang kental, serta ekspresi kebencian dan rasa jijik. Mengingat semua itu, ia pun menjadi lebih pucat dari sebelumnya. Bagai robot, ia pun dengan panik berusaha membereskan kekacauan yang ia buat, tetapi hal itu justru membuatnya menjadi panik ketika ia menyadari bahwa ia baru saja mendatangkan bencana besar dalam hidupnya. "Alexa tak boleh meninggalkanku. Alexa tak boleh meninggalkanku! Tak boleh.Tak boleh! Tak akan pernah ku biarkan! Tidak akan pernah...!"ucapnya berulang-ulang sembari mondar-mandir di hall utama mansion itu yang kini tak ubahnya bak lautan darah serta potongan tubuh yang bergelimpangan dimana-mana. Ia menjambak rambutnya frustrasi demi menemukan cara untuk menutupi hal ini agar tak tercium oleh sang istri. "Tuan, bagaimana jika mereka di jadikan bahan eksperimen yang sedang anda kerjakan? Saya rasa hanya itu satu-satunya jalan terbaik untuk menutupi jejak. Lagipula mereka akan jadi lebih berguna nantinya jika menjadi salah satu bagian dari mahakarya anda daripada mati secara sia-sia seperti ini."usul Richard secara tiba-tiba. Mr. Hemlock pun segera menyetujui rencana brilian orang kepercayaannya itu dan menyuruhnya untuk memindahkan semua mayat beserta potongan-potongan tubuh itu ke laboratorium miliknya, lalu membereskan sisanya. "Pastikan tak ada jejak yang tersisa. Bersihkan serapih mungkin dan rahasiakan semua ini dari istriku. Jika dia sampai tahu, maka taruhannya adalah nyawamu." ujar Mr. Hemlock dengan nada dingin mengancam. Dengan patuh Richard pun segera melaksanakan perintah dari Tuan nya itu. "Dasar makhluk sial. Beraninya kau menculik istriku dan menyembunyikannya! Tak akan ada ampunan bagimu jika aku berhasil menemukanmu. Akan ku hancurkan kau hingga lenyap tak bersisa!"gumam Mr. Hemlock dengan amarah yang menggelegak, netra semerah daranya menatap bengis pada langit sore yang terbentang di cakrawala. Ia amat marah karena lagi-lagi bulan madunya kembali diusik. **** Sementara itu, Alexa sudah tak sanggup lagi berlari dan memutuskan untuk berhenti sejenak untuk mengambil nafas, apalagi di depannya kini justru terbentang sebuah danau kecil yang berada di tengah-tengah goa yang tak ia tahu sedalam apa danau itu. Airnya yang berwarna hitam pekat membuat Alexa semakin merasa sanksi untuk berenang menyeberangi nya. Di seberang danau itu terdapat dua persimpangan berbentuk lorong panjang nan gelap. Alexa mencoba mencari jalan memutari danau itu daripada harus berenang di dalamnya. Dan ia menemukan tonjolan bebatuan di sebelah kirinya, tonjolan bebatuan itu bisa ia jadikan pijakan kakinya selama memutari danau tersebut. Setelah merasa cukup kuat, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya. Sebisa mungkin Alexa menempel di dinding goa dan berjalan hati-hati di atas tonjolan bebatuan itu agar tak terjatuh ke dalam danau tersebut. Namun, sekonyong-konyong, sesuatu menariknya kasar hingga membuatnya terjatuh ke tempat semula. Alexa pun menoleh dan mendapati monster berkepala serigala dengan mahkota di atas kepalanya, juga sepasang sayap hitam besar memerangkap tubuhnya. Kedua tangannya yang berotot serta berkuku tajam menahan kedua tangan Alexa di atas kepalanya, sedangkan moncongnya yang bergigi tajam dengan liur yang menetes-netes mencoba menciumi wajah Alexa. Dengan marah Alexa mencoba menyingkirkan moncong menjijikan itu dari wajahnya, ia meninju, memukul dan mencakar dengan membabi buta, hingga akhirnya ia dilempar oleh monster itu sampai membentur dinding goa dengan sangat menyakitkan. Gema tawa monster itu menggetarkan dinding-dinding goa, ia menyeringai tatkala melihat ekspresi kesakitan di wajah Alexa yang tengah terduduk tak berdaya. "Seharusnya kau tidak menolak atau memberontak seperti tadi, maka semuanya akan jadi lebih mudah." desis Behemoth dalam wujud iblisnya. Aroma memabukkan tiba-tiba menguar, membuat sang iblis menghirupnya dengan rakus, aroma darah Alexa. Seketika naluri k**********n nya aktif secara penuh akibat pengaruh dari aroma darah Alexa. Ia pun mendesis kemudian menggeram, netranya berubah menjadi hitam dengan titik merah menyala di bagian tengahnya. Sembari menggeram, kedua netranya tertuju tepat ke arah Alexa, menargetkannya. Meski kepalanya terasa sangat sakit dan mengeluarkan darah, Alexa sekuat tenaga mencoba bangkit dan balik menyerang. Tepat ketika sang iblis berlari ke arahnya, ia pun menutup kedua matanya dan membayangkan iblis itu terpelanting ke dinding goa. Ia membuat monster itu juga merasakan hal yang sama sepertinya, terpental membentur dinding goa namun kali ini dengan cara yang lebih menyakitkan, bahkan dinding goa itu sampai jebol akibat hantaman itu. Memanfaatkan kelengahan sang iblis monster, Alexa dengan tertatih mencoba berlari untuk menggapai tempat tonjolan bebatuan tadi. Dengan terburu-buru ia mencengkram dinding goa yang kasar lalu berjalan cepat untuk mencapai ke seberang. Tetapi ia tak menduga jika dua lorong yang tadi ia lihat ternyata cukup tinggi letaknya untuk ia gapai. Ia pun berusaha melompat-lompat untuk menggapai pinggiran lubang tersebut, sebelum suara letupan-letupan gelembung tiba-tiba terdengar dari tengah-tengah danau. Alexa pun menoleh ke arah danau karena penasaran, gelembung-gelembung itu semakin lama semakin banyak dan air danau itu juga mulai bergelombang, seperti sesuatu sedang mencoba berenang keluar dari danau tersebut. Melihat hal itu, Alexa segera mengerahkan segala kekuatan nya untuk cepat-cepat menggapai sisi lubang, karena ia memiliki firasat buruk soal danau itu jadi ia harus segera lari dari sana. Berulang kali mencoba, hingga akhirnya tangannya berhasil menggapai sisi lubang itu, dengan segera ia pun memanjat naik dengan cepat seiringan dengan bebatuan di bawahnya yang mulai bergetar dan terdengar menggeram. Dan tepat ketika kedua kaki Alexa sudah berada di dalam lubang itu, Alexa di kagetkan oleh suara raungan sang minotaur. Alexa pun segera berbalik cepat dan menemukan minotaur raksasa itu sudah tersedot masuk ke dalam mulut ular raksasa yang ternyata mendiami danau hitam itu. Tanpa sadar Alexa beringsut mundur menjauhi mulut lubang itu ketika menyadari tonjolan batu yang tadi ia jadikan pijakan ternyata merupakan gigi-gigi milik monster ular itu, segera saja Alexa bangkit berdiri dan berlari secepat yang ia bisa, menjauh dari tempat mengerikan itu. Dari kejauhan ia bahkan masih bisa mendengar raungan kesakitan dari sang minotaur yang mencoba berontak dari cengkraman sang monster ular itu. Sedangkan sang iblis menyeringai licik mendapati mangsanya lari ketakutan ke arah yang salah. "Ah, ini akan jadi semakin menarik."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN