Lembayung senja yang menggantung di langit disertai suara koakan serak dari burung gagak yang hinggap di pagar balkon, membuat Lily terbangun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan diri dan menoleh ke arah pintu kaca balkon di mana gagak itu terlihat sedang menatapnya dengan sepasang matanya yang hitam. Setelah beberapa detik, ia mulai merasakan rasa tidak nyaman di tubuhnya. Lalu memori itu pun datang dan menerjangnya bagai tsunami. Dengan segera ia bangkit terduduk dan memeriksa tubuhnya. Namun, ia segera menghembuskan nafas lega ketika melihat pakaiannya masih lengkap. Beranjak dari ranjang, ia berjalan menuju kamar mandi dalam keadaan linglung. Tubuhnya terasa sakit di beberapa bagian dan ingatannya menjadi tumpang tindih. Ia tidak tahu kejadian mana yang benar-ben

