Setelah sampai sejauh ini, Alexa tiba-tiba merasakan perasaan yang harusnya tak pernah ia rasakan, sebuah keraguan. Mengapa ia harus merasa ragu saat fakta yang sebenarnya sudah ada di depan mata, pertanyaan itulah yang kini tengah berputar-putar di kepalanya. Netra karamelnya masih memaku pada gedung lumbung berwarna merah terang berjarak beberapa meter di depannya, tak ingin maju satu langkah pun, meski seluruh syaraf pada otaknya memerintahkannya untuk maju untuk melihat fakta yang sebenarnya. Tetapi, pada akhirnya hanya berakhir dengan meneliti setiap detil yang ada—tanpa beranjak sedikitpun, yang mana ternyata benar-benar sama persis seperti apa yang sering ia lihat di mimpinya, mimpi buruknya yang kacau balau, seperti dikacaukan oleh sesuatu atau seseorang. Lalu, Alexa pun segera ter

