"Sayang, ibu akan pulang nanti. Sekarang Billy harus tidur," tutur Bian menenangkan putranya. Meskipun sebenarnya ia juga merasa bingung harus dengan cara apa agar bisa rujuk dengan Nana.
"Tapi ayah janji mau bawa ibu, kan? Billy kangen ibu," jawab Billy dengan memelas. Bian yang melihat hal ini merasa tersentil. Anak sekecil Billy harus kehilangan ibunya, ditambah kebencian yang akan Nana berikan padanya. Namun, Bian berharap Nana tidak akan membenci putranya. Ia yakin jika Nana masih bisa bersikap dewasa dan mau mengakui Billy sebagai putranya.
"Iya, sayang. Ayah janji akan bawa ibu ke rumah ini lagi, tapi sekarang kita harus istirahat. Besok kita akan ketemu ibu. Billy mau ikut kan," ucap Bian menenangkan putranya dan segera mengambil sang putra dari kursi roda.
Pria itu segera melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar, yang ada di lantai bawah pojok ruang tamu. Kamar itu yang akan dipakai oleh Billy, karena ia tidak mungkin membawa Billy ke lantai atas, demi keamanannya.
*
Pagi hari ini di dalam keluarga Abraham Sudah siap untuk sarapan bersama. Tuan dan nyonya Abraham pun sudah duduk dengan tenang. Sedangkan Nana terlihat masih dingin dan jarang bicara. Apalagi setelah kepulangan Bian semalam, membuatnya semakin tertekan.
"Sayang, ayo makan dulu sarapan mu. Jangan cuma diliatin aja. Atau kamu mau Mama suapin?" Tanya Oliver pada sang putri sambil menggodanya. Nana yang mendengar hal itu pun terlihat sangat kikuk dan langsung memakan makanan yang telah disiapkan, tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.
"Apa benar kamu ingin bekerja di kantor papa?" Tanya Arsenio pada sang putri setelah mereka selesai sarapan. Arsen memang masih aktif di kantor, tapi untuk posisi CEO, sudah ia percayakan pada orang lain. Nana yang dulu memilih untuk menikah dan melepaskan semua pasilitas dari keluarga Abraham, membuat Arsen cukup kecewa. Akan tetapi, saat ini ia sangat senang, karena Nana mau kembali ke perusahaan miliknya lagi.
"Iya pah. Aku udah memutuskan ini sejak lama. Apa papa keberatan? Aku tidak akan minta posisi CEO, karena aku juga belum paham semuanya."
"Mana mungkin papa keberatan. Justru inilah yang papa tunggu sejak dulu. Kau kembali ke perusahaan dan mengelola bisnis keluarga. Betul kan mah?" Tanya Arsen pada istrinya, Oliver, yang langsung dijawab sebuah anggukan kepala tanda setuju.
"Apa yang dikatakan papa mu benar, Na. Justru kami senang kalo kamu mau mengelola bisnis keluarga. Kamu adalah satu-satunya harapan bagi kami. Jika bukan kamu, lalu siapa lagi."
"Tapi kamu tidak bisa berangkat kerja hari ini, karena ada sedikit kekacauan dan papa ingin kamu menyiapkan sesuatu dengan perasaan yang jauh lebih baik. Besok kamu akan mulai langsung bekerja di bawah naungan Dean."
Nana mengernyitkan dahinya, Dean? Kenapa harus Dean? Mengapa Dean bisa mengelola perusahaan papa, dan apa yang sebenarnya terjadi saat ia meninggalkan rumah? Saat ini ada banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Nana, tapi ia memilih diam dan tidak membuat papanya kesulitan.
"Baik, pah. Aku ikuti arahan papa saja. Apa papa hari ini tidak pergi ke kantor?" Tanya Nana yang penasaran saat papanya terlihat santai, padahal waktu sudah hampir masuk jam kerja.
"Ada Dean, tapi papa akan segera ke sana agak siangan. Selama ini, dia yang mengelola semuanya dan papa hanya memantau pekerjaan Dean. Anak itu cukup cerdas dan kemampuannya sangat mumpuni. Tak heran jika perusahaan papa meningkat pesat dan makin berkembang."
Nana hanya menganggukkan kepalanya tanda paham apa yang dibicarakan oleh sang ayah. Ia juga menarik kesimpulan bahwa ayahnya begitu bangga pada sosok Dean yang kompeten dalam bekerja. Ya, Nana cukup penasaran pada pria itu setelah sekian lama. Pria yang sempat dekat dengan keluarganya. Dan juga pria yang ketus dengan wajah dinginnya.
Namun, tak berselang lama, terdengar suara bel berbunyi dari arah luar. Siapa yang pagi-pagi sudah bertamu? Begitu pikir Nana.
"Papa punya tamu?" Nana bertanya saat papa dan mamanya hanya diam dalam keheningan.
"Tidak, pagi ini papa justru banyak waktu senggang. Tidak mungkin orang kantor datang ke rumah untuk memberikan berkas."
"Bi Marni! Ada tamu di luar, tolong bukain pintunya!" Teriak Mama pada sang asisten rumah tangganya yang sibuk di dapur. Sebenarnya ada tiga pembantu di rumah Abraham, yaitu bi Marni, bu Minah dan Santi.
Bi Marni sudah lebih dulu bekerja di sana. Usianya juga sudah tua, ia bekerja hanya memasak dibantu oleh bu Minah. Sedangkan bu Minah sendiri yaitu adalah anak dari bi Marni yang punya pekerjaan utama bersih-bersih rumah. Santi? Dia anak bu Minah yang ikut bekerja dengan ibunya. Gadis SMP itu sering membantu pekerjaan rumah selepas pulang sekolah, karena seluruh biaya pendidikan dan kebutuhannya, dibiayai oleh keluarga Abraham.
"Iya Bu, maaf tadi gak kedengaran." Bi Marni langsung jalan dengan tergesa-gesa untuk membuka pintu. Karena bi Marni tak kunjung muncul, suara teriakan kembali terdengar.
"Bi, siapa yang datang?!" Oliver kembali berteriak karena penasaran dengan tamu tersebut.
"Anu, Bu."
"Selamat pagi, pah, mah, Nana!" Sebelum bi Marni menjawab, sosok tamu tersebut sudah muncul di hadapan keluarga Abraham. Melihat siapa yang datang, Mama langsung mengisyaratkan agar bi Marni pergi dari sana.
Semua orang terdiam dengan ekspresi wajah terkejut, tatkala melihat sosok pria yang masuk ke dalam rumah mereka, datang dengan membawa anak kecil yang duduk di kursi roda.
"Lancang sekali kamu datang lagi ke rumah ini!" Bentak papa dengan napas yang memburu, tapi segera di tenangkan oleh Mama.
Mendengar bentakan keras yang ada di antara mereka, Billy yang duduk di kursi roda langsung menatap sang ayah dan menggenggam tangan Bian dengan erat. Anak kecil itu begitu ketakutan hingga cairan bening menggenang di pelupuk matanya.
"Ayah, Billy takut. Katanya kita mau ketemu ibu," ucap Billy dengan nada yang bergetar menahan isak tangisnya.
"Iya sayang, ada ayah di sini. Jadi Billy jangan takut ya. Sekarang kita sudah ada di tempat ibu," ucap Bian menenangkan putranya sambil mengelus puncak kepala sang putra.
"Pah, tenang dulu. Jangan bentak-bentak, kasian ada anak kecil," ucap Mama dengan lirih. Wanita itu berusaha menenangkan suaminya yang sudah terlanjur murka, saat melihat Bian datang membawa anak dari wanita lain.
"Tapi dia sudah keterlaluan mah."
"Ada urusan apa mas Bian datang ke sini?" Setelah sekian lama diam, akhirnya Nana bertanya dengan raut wajah yang dingin. Wanita itu sesekali menatap wajah Billy yang tengah duduk di kursi roda, dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Ayah, ini ibu Billy yang ayah ceritakan, kan?"