"Mas, pergilah dari sini dan tunggu surat dari pengadilan dariku. Pernikahan yang dipaksakan tidak akan baik ke depannya. Aku harap kamu mengerti." Nana mengusir Bian dengan nada yang masih rendah. Wanita itu masih menampilkan raut wajah datar dan selalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Tentu saja hal itu membuat Bian semakin gusar, dan menggelengkan kepalanya dengan cepat tanda ia tak setuju dengan keputusan Nana.
"Nana aku mohon, kali ini saja aku janji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Aku mohon sayang, kembalilah bersamaku. Kamu boleh menghukum aku sepuas yang kamu inginkan, asal tidak dengan perceraian. Aku tidak akan sanggup bila kehilangan mu Na." Lagi dan lagi, Bian bersimpuh di kaki Nana, berharap hati wanita itu luluh dan kembali lagi bersamanya.
"Baiklah akan aku pertimbangkan, tapi berikan aku waktu selama satu minggu. Dan pada saat itu, aku akan memutuskan keputusanku sendiri. Setelah itu, Mas Bian tidak bisa mengganggu gugat lagi keputusan yang aku buat. Apa Mas Bian setuju?" Tanya Nana yang mengajukan syarat pada sang suami. Ibunya benar, jika ia tidak bisa memberikan keputusan secara tergesa-gesa.
"S-setuju, sayang. Terima kasih sudah mau memberikanku kesempatan lagi. Aku janji akan membuktikan kesungguhanku dalam waktu 1 minggu itu. Aku harap kamu juga memberikan jawaban sesuai yang aku harapkan. Ini adalah permintaan terakhirku padamu Na." Wajah Bian langsung berbinar dan segera menghapus air matanya dengan kasar setelah mendengar penuturan dari Nana. Ia sangat bahagia, karena wanita itu mau memberikannya kesempatan lagi, meski ia tidak tahu jawaban apa yang akan Nana berikan padanya.
"Sekarang ayo kita pulang, sayang!" Bian mengajak Nana agar ikut pulang bersamanya, tetapi wanita itu segera menepis tangan sang suami. Sehingga membuat Bian langsung terkejut, dan menatap Nana dengan tatapan tak percaya, karena wanita itu menepis tangannya dengan sangat kasar.
"Aku tidak akan pulang mas. Aku akan tetap di sini selama keputusanku belum diputuskan. Pergilah! Aku ingin istirahat." Bian tersenyum gugup, sambil menundukkan kepalanya. Begitu besar kekecewaan yang telah Ia berikan kepada Nana, sehingga membuat wanita itu enggan untuk kembali bersamanya. Ia benar-benar pantas mendapatkan hukuman itu.
"Baiklah, aku akan pulang, dan aku akan selalu menunggu kepulanganmu. Terima kasih karena sudah mau mempertimbangkan keputusanmu itu." Bian sangat paham dengan apa yang Nana rasakan, dan ia juga tidak ingin egois untuk memaksakan Nana, agar ikut pulang bersamanya.
Akhirnya dengan langkah gontai pria itu keluar dari kediaman Abraham, dengan membawa pertanyaan-pertanyaan besar yang muncul dalam benaknya. Sebagai seorang manusia, ia sadar jika telah melakukan kesalahan, dan ia merasa ragu jika Nana istrinya mau kembali lagi.
Setelah kepergian Bian, Nana kembali menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Ia benar-benar kecewa, terhadap suami yang sangat ia cintai selama ini. Ia pikir, suaminya itu sangat mencintai dirinya, dan tidak akan melakukan kesalahan apapun. Apalagi hingga menikah wanita lain sampai memiliki anak.
Ia terlalu naif hingga berpikir demikian. Selama ini, ia hidup bergelimang harta dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi, ia terlalu percaya diri sehingga tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan besar yang terjadi di kemudian hari.
"Nana, apa Mama boleh masuk?!" Tiba-tiba saja terdengar suara Nyonya Oliver dari arah luar pintu, hingga membuat Nana segera menghapus air matanya dengan kasar. Dia tidak ingin membuat keluarganya semakin sedih, atas apa yang terjadi dalam rumah tangga yang ia alami. Selama ini ia selalu menjadi beban pikiran bagi kedua orang tuanya. Ia benar-benar tidak menyangka, hari ini benar-benar telah terjadi.
"Boleh mah!" Seru Nana agar sang Ibu segera masuk ke dalam kamarnya.
"Nana, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Nyonya Oliver setelah masuk ke dalam kamar tersebut. Benar apa yang Nana duga. Wanita paruh baya itu seperti Sudah menangis, sambil menampilkan raut wajah cemasnya. Melihat hal itu, membuat Nana semakin tidak tega dan ia berusaha menampilkan senyuman termanis yang ia miliki.
"Aku baik-baik aja mah. Mama nggak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja seperti sedia kala." Nana berkata dengan lembut untuk menenangkan sang ibu yang kini sudah menggenggam tangannya dengan erat, serta lelehan bening yang sudah menggenang di pelupuk mata.
"Nana, mama mohon untuk berbahagialah. Dengan atau tanpa Bian. Berikan keputusan yang tepat untuk hidupmu, karena kamu yang menentukan segalanya. Mama tidak ingin kamu tertekan oleh apapun. Jika kamu benar-benar masih mencintai Bian, berikan dia kesempatan untuk membuktikan kesungguhannya. Namun jika kamu benar-benar sudah kecewa, maka tinggalkan dia. Kau berhak bahagia. Apapun yang membuatmu sakit maka tinggalkan." Nyonya Oliver berkata sambil terisak di hadapan Sang Putri. Ia merasakan sakit yang dialami oleh putrinya.
"Aku pasti akan bahagia, dan akan selalu bahagia, mah. Dengan atau tanpa mas Bian, seperti yang Mama ucapkan. Kali ini aku tidak akan membuat siapapun menyakiti diriku lagi. Cintaku pada Mas Bian memanglah sangat besar, tapi aku tidak begitu buta dalam cinta. Apapun keputusan yang aku buat ke depannya adalah keputusan yang tepat, dan aku akan memikirkan hal ini dengan sangat matang. Aku harap mama dan papa tidak akan mempertanyakan keputusanku di kemudian hari. Bolehkah aku meminta sesuatu dari kalian?" Nana bertanya kepada sang ibu dengan tatapan penuh harap.
"Apa itu, sayang? Katakanlah! Jika kami bisa memberikan apa yang kamu mau dan kami lakukan, pasti kami akan mewujudkan hal itu untukmu." Nana tersenyum setelah mendengar jawaban dari sang ibu.
"Aku ingin mengambil alih perusahaan yang papa kelola. Aku akan menggantikannya bekerja, tapi mama tidak usah khawatir karena perusahaan itu akan tetap menjadi milik kalian." Nyonya Oliver sedikit terkejut, setelah mendengar keinginan dari putrinya. Tapi tak berselang lama, wanita paruh baya itu tersenyum dan mengelus punggung tangan Sang Putri.
"Apa yang kau katakan itu, sayang. Perusahaan itu memang akan menjadi milikmu dan keturunanmu kelak. Justru kami sudah menunggu saat ini tiba. Lalu kapan kau ingin bekerja di perusahaan?" Nana begitu senang, karena jalan yang ia ambil masih mulus.
"Besok."
*
Di sisi lain, Bian baru saja sampai di kediamannya. Pria itu langsung tersenyum saat melihat Sang putra Tengah bermain dengan bik Surti. Ia tidak ingin menampilkan masalah di depan orang lain.
"Billy, kenapa kamu belum tidur sayang?" Makanya Dian sambil menghampiri putranya.
"Anu Tuan, den Billy susah tidur katanya mau nunggu Tuan terus." Bik Surti menjelaskan apa yang terjadi dengan ragu karena ia takut jika majikannya akan marah. Meskipun sebenarnya, pria itu tidak pernah marah padanya.
"Tidak apa-apa bik. Sekarang bibi boleh istirahat. Terima kasih sudah menjaga Billy." Setelah itu bik Surti segera pergi dari sana.
"Ayah, Ibu di mana? Katanya ayah mau bawa ibu?"