Gugatan cerai

1016 Kata
"b*****h! Beraninya kau hendak membawa w************n dan anak haram itu pada putriku. Apa kau sudah punya cukup nyali untuk melakukannya? Apa kau merasa jabatan mu sudah jauh lebih tinggi dari putriku?!" Tuan Abraham marah bukan main, setelah mendengar penjelasan dari Bian. Ia tetap tidak bisa menerima, harga diri putrinya diinjak-injak oleh pria seperti Bian. "Pah, aku tidak bermak--." "Diam! Perusahaan kecil mu itu tidak ada apa-apanya dengan sepatu berlapis emas milik putriku. Dan kau sudah merasa cukup kaya, hingga memiliki istri di luar sana! Bahkan kau masih ingin memiliki putriku! Jika saja dulu putriku tidak memohon agar aku merestui pernikahannya dengan kamu, mungkin kau hanyalah bawahan yang tidak akan mendapatkan tempat layak untuk hidup dengannya! Sebaiknya kau cepat ceraikan Nana, karena masih ada banyak pria yang jauh lebih baik daripada kamu, yang mencintai Nana dengan setulus hati." "Tidak Pah, aku tidak ingin menceraikan Nana. Dia akan tetap jadi istriku. Aku mencintai Nana Pah, aku menyesal telah membohongi Nana selama ini. Maka dari itu, aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Nana. Masalah masa lalu ku yang sudah menyakiti perasaannya. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar menyesalinya. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan ku lagi ... Aku mohon pah." Saat ini Bian benar-benar merasa takut, apalagi saat ayah mertuanya meminta ia agar bercerai dengan Nana. Permintaan yang begitu berat baginya. Bahkan saat ini Bian tengah berlutut di kaki tuan Abraham, berharap tuan Abraham mau memberinya kesempatan Saat malam terjadinya kecelakaan itu, Bian hanya ingin memastikan keputusan Nana saja. Ia tahu, keputusannya akan membuat Nana hancur dan kecewa, tapi jika ia harus memilih, maka ia akan memilih Nana. Lebih baik ia menceraikan Mela, daripada Nana, istrinya tercinta. Wanita yang sudah menerima segala kekurangannya, hingga menjadikan ia sebagai suami. "Pah, tenangkan diri papah dulu. Jangan terlalu terbawa emosi," ucap Nyonya Oliver sambil berusaha menenangkan suaminya yang sudah tersulut emosi. Sedangkan Nana, wanita itu hanya diam sambil meneteskan air matanya, setelah mendengar semua penjelasan dari Bian. Bahkan kini ia belum bisa membuka suaranya, karena terlanjur kecewa dan tidak ingin mengatakan apapun. Sungguh ia benar-benar kecewa, hingga satu patah kata pun enggan ia keluarkan. "Tidak bisa Mah, pria ini benar-benar sudah keterlaluan. Jika dia sudah berani selingkuh dan menutupinya hingga serapat ini, mungkin selanjutnya dia tidak akan pernah berubah. Selingkuh itu sebuah penyakit mah, dan itu tidak akan mudah berubah. Selingkuh itu sebuah karakter, dan itu akan melekat dalam hidupnya. Papah tidak akan pernah rela mengorbankan putri satu-satunya milik kita, bersama pria b******n ini!" "Pah, aku tau, aku salah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon Pah, jangan pisahkan kami berdua. Nana, sayang ... Aku tau kau masih mencintaiku. Aku tidak menyalahkan kamu, jika kau benar-benar kecewa. Aku hanya ingin meminta maaf darimu. Aku mohon, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku tidak ingin bercerai darimu." Kini Bian menatap Nana yang masih enggan untuk menatap ke arah dirinya. Wanita itu masih diam seribu bahasa. Saat ini, ia hanya butuh jawaban dari Nana. Berharap wanita itu mau kembali lagi padanya. Namun, jika Nana tetap bersikeras meminta bercerai, maka ia akan melakukan apapun demi mempertahankan pernikahannya. Bahkan dengan cara kotor sekali pun. "Nana, sayang ... Ayo kita kembali." Nana menatap Bian dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Wanita itu masih belum bisa memutuskan apapun saat ini. "Nana, aku mohon." Bian kembali memohon sambil memeluk kaki istrinya dari bawah. Pria itu meraih tangan Nana dan menciuminya beberapa kali. "Nana, kamu jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru. Tapi akan lebih baik jika kau meninggalkan pria tidak tahu diri ini." Bian menggelengkan kepalanya dengan cepat saat mendengar penuturan dari tuan Abraham. Ia berharap Nana tidak menerima saran dari ayahnya, karena jika tidak, ia tidak akan bisa menahan diri dan bertindak kasar pada istrinya. Ia tidak akan pernah melepaskan wanita itu. "Sudah pah, jangan ikut campur lagi dalam urusan rumah tangga mereka. Biarkan Nana yang mengambil keputusan. Kita tidak bisa bertindak egois hanya karena masalah ini. Kebahagiaan Nana adalah hal yang paling utama, jadi biarkan dia menentukan hidupnya." Oliver tidak tahu harus bagaimana lagi menenangkan suaminya. Di sisi lain, ia juga merasa terluka atas kejadian ini. Bagaimana bisa, seorang pria yang sudah ia percaya untuk menjaga putri tunggalnya, justru adalah orang yang paling membuat Nana menderita. "Aku ingin kita bercerai." Nana berkata dengan tegas, seraya memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan Bian. Seketika suasana menjadi hening, dan semua mata tertuju pada Nana. Wanita itu masih diam, tak merespon apapun saat melihat semua orang terkejut, dengan keputusan yang telah ia buat. "N-Nana, kau hanya bercanda, kan?" Tanya Bian yang sudah gugup dengan wajah memucat. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Lima tahun pernikahannya tidak bisa kandas begitu saja. "Kau sudah mendengarnya, bukan? Itu adalah keputusan yang telah Nana pilih, dan kau cepat pergi dari sini!" Tuan Abraham langsung mengusir menantunya secepat mungkin. "Nana, apakah kamu benar-benar mau menceraikan Bian, nak? Apa kamu sudah yakin dengan keputusan yang kamu ambil ini?" Kini Nyonya Oliver bertanya pada putrinya, untuk memastikan keputusan tersebut agar tidak menyesal di kemudian hari. "Mah sudahlah, itu benar-benar keputusan Putri kita." Rupanya Tuan Abraham sudah begitu muak dengan Bian, hingga sangat menyetujui keputusan yang Nana ambil saat ini. "Diam pah, kita tidak boleh membiarkan Nana mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Jika kita memisahkan Nana secara paksa seperti ini, kelak suatu saat dia akan menyesal. Mama tidak ingin Putri kita menderita lebih dari ini. Bian, Mama tahu kesalahan yang kamu perbuat itu sangat besar, dan itu membuat Nana sangat kecewa. Tapi, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Semua pasti ada solusinya. Mama juga ingin sekali melihat kesungguhanmu kali ini." Nyonya Oliver memang benar-benar kecewa terhadap menantunya, tapi ia tidak bisa berbuat apapun. Karena yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan Sang Putri, Nana Abraham. "Papa, mama, Bian mohon. Berikan Bian kesempatan satu kali lagi. Aku janji akan berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Apapun yang Nana inginkan pasti akan aku penuhi, kecuali perceraian. Aku tidak bisa bercerai dengan Nana, mah, pah. Aku mohon berikan aku kesempatan lagi. Aku sangat mencintai Nana, Putri kalian." Bian memohon dengan memelas, berharap kedua orang tua Nana mau berbelas kasih memaafkannya, dan membujuk Nana agar tidak menggugat cerai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN