Nana menatap sosok pria itu dengan seksama. Ia yakin penglihatannya sangat bagus, dan menyadari jika pria itu adalah sosok orang yang tidak ingin ia temui lagi. Namun, takdir justru menyeretnya menuju masalah, yang ada 'dia' di dalamnya.
"Kenapa diam di sana terus? Cepat kemari dan beri salam padanya!"
Nana tersentak saat mendengar suara sang ayah. Wanita itu pun segera menuju ke arah di mana sang ayah berada.
"Senang bertemu dengan anda, tuan Dean." Nana menyapa sosok pria tersebut dengan gugup. Pria yang sejak dulu ia hindari karena merasa tidak nyaman berada di dekatnya.
Deanathan, adalah pria dewasa berusia 30 tahun, memancarkan pesona tampan dengan raut wajah tajamnya, tapi di mata Nana, pria itu tak lebih seperti elang yang tengah melihat mangsanya. Meskipun terlihat kuat dan percaya diri, dia menyimpan sisi yang membuat orang tak bisa memahaminya. Bahkan, terkadang terlihat dari ekspresi wajahnya yang ketus. Di balik ketegasan pria tersebut, Deanathan adalah sosok yang hangat dan perhatian saat bersama orang-orang yang dicintainya.
Deanathan, selain tampan dan gagah, juga dikenal sebagai sosok yang sangat kompeten dalam pekerjaannya. Kecerdasannya dan dedikasinya membuatnya dihormati di lingkungan profesionalnya.
Meskipun demikian, banyak pula rumor yang mengatakan bahwa Dean adalah pria penyuka sesama jenis, lantaran belum menikah, bahkan tidak pernah terlihat menggandeng tangan seorang wanita.
"Senang bertemu anda, nona." Pria itu menjawab sekenanya, tanpa mau bersikap ramah terhadap Nana. Bukankah seharusnya pria itu sedikit ramah pada putri bos-nya? Hah, inilah yang membuat Nana merasa kaku jika berhadapan dengan seorang Dean.
Nana hanya tersenyum kecut saat menanggapi jawaban dari Dean. Pantas saja pria itu tidak laku, bahkan tersebar rumor dirinya seorang gay. Sikapnya saja tidak ramah dan membuat para wanita berlari karena tak cukup nyali, begitu pikir Nana.
"Pah, aku lelah. Aku mau ke kamar. Sampai jumpa lagi, tuan Dean," pamit Nana undur diri, setelah mendapatkan izin dari sang ayah. Sedangkan Dean masih bergeming seolah tak mendengar ucapan dari Nana. Menyebalkan sekali di mata Nana.
*
"Kira-kira papa ngapain ya manggil, Dean? Apa ada kaitannya dengan ku? Ah, aku bodoh banget sih! Kenapa gak nunggu mereka selesai bicara, tapi aku emang lelah kayaknya. Untuk sesaat masalah ku terlupakan, aku jadi merasa lebih baik dan gak stress mikirin mereka lagi."
Nana melihat jam dinding yang ternyata waktu sudah hampir sore. Ia merebahkan tubuhnya karena terasa lelah, dan juga mengantuk. Ia juga harus menyiapkan diri untuk bekerja mulai besok pagi.
*
Di sisi lain, seorang wanita tengah menyambut kepulangan sang suami. Jika dilihat-lihat, waktu belum menunjukkan jam pulang kerja, hingga membuat sang istri merasa penasaran.
"Mas, tumben udah pulang? Emang ada masalah apa lagi?" Wanita itu bertanya sambil mengikuti langkah suaminya, dan ikut duduk di sampingnya.
"Biasa, suasana hati Bian masih kalut dan belum bisa tenang. Pekerjaan pun mulai numpuk, tapi aku juga lagi pengen istirahat. Sejak awal, aku udah kasih saran, biar dia gak nikah sama gadis magang itu. Ujungnya aku juga yang repot. Meskipun aku dapat gaji gede, kalo gini terus ya bisa ikut stres. Capek banget aku, Silvi."
Silvi seolah ikut merasakan perasaan sang suami, yang begitu lelah menghandle urusan pekerjaan, yang semakin hari semakin tak terurus. Ia setuju dengan dengan apa yang Doni ucapkan, karena dampak dari keegoisan Bian, hubungan ia dan Nana ikut merenggang.
"Aku mengerti mas, kamu pasti capek banget. Aku juga bingung harus gimana, Nana udah benci sama kita. Tadi aku mengajak dia ketemuan, mungkin kamu juga bisa menduga, reaksi Nana kayak gimana saat ketemu aku." Silvi mengadu pada sang suami, dengan apa yang telah terjadi.
Jujur saja, Silvi merasa sedih sekaligus cemas, karena selama ini, mereka begitu dekat dengan Nana, wanita yang telah mereka bodohi.
Mendengar ucapan sang istri, Doni hanya menghela nafasnya kasar. Ia sudah menduga reaksi Nana akan seperti apa. Bagi Nana, mungkin melepaskannya dan Silvi adalah hal yang mudah, karena wanita itu punya segalanya. Tumbuh dengan sendok emas di mulutnya, membuat Nana tidak akan takut jika hanya kehilangan teman yang telah membohongi dirinya, begitu pikir Doni.
"Bagaimana pun, kita harus membujuk Nana, Sil. Jangan sampe mereka cerai, atau kita juga yang akan repot. Selama ini, keluarga Abraham yang sudah membantu kita, tapi apa yang kita lakukan pada Nana? Aku mengutuk kebodohan ku!" Doni geram dan terus merutuki kebodohannya sendiri. Harusnya ia tidak membantu Bian lima tahun yang lalu, jika akan berakhir hancur seperti rusa yang sedang dimangsa saat ini.
"Iya mas, aku juga mau usaha. Aku harus minta maaf dengan sungguh-sungguh, agar Nana mau memaafkan kita. Aku cuma bingung mas, soalnya Nana sekarang udah beda banget. Dia sikapnya dingin dan semakin arogan. Padahal dulu, dia gak kayak gini. Dia baik dan lembut. Sebaiknya mas mandi dulu, dan istirahat. Biar aku siapin air hangatnya." Silvi bangkit dari duduknya dan bergegas menuju kamar.
Beberapa menit kemudian, Silvi kembali dan membawakan handuk suaminya.
"Leon sedang apa?" Doni bertanya mengenai putranya, yang sejak tadi tidak terlihat.
"Leon sedang menggambar di kamar. Dia juga baru mandi setelah tidur siang."
"Terima kasih sudah menjaga Leon. Kamu pasti capek seharian penuh mengurus rumah dan anak kita," ucap Doni sambil menanggalkan pakaiannya terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku akan melakukan yang terbaik demi keluarga kita."
"Oh iya, nanti aku minta info mengenai pertemuan mu dengan Nana. Aku ingin memberikan informasi pada Bian, biar dia lebih bekerja keras untuk rujuk sama Nana. Dia susah termotivasi jika sedang patah hati."
"Bukankah ketika patah hati, jiwa pun ikut mati? Jadi jangan heran jika Bian sedang merasa terpuruk. Kita hanya harus memberi mereka dukungan agar bisa bersatu kembali."
*
Waktu sudah sore, dan Nana baru mengerjapkan matanya. Ternyata ia tertidur tak lama setelah ia merebahkan tubuhnya. Dengan kekuatan seadanya, Nana bergegas untuk membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama, Nana turun untuk untuk mencari camilan yang cocok di sore hari. Wanita itu pun segera menuju dapur, sambil berlari kecil.
Namun, baru saja ini hendak berbelok ke arah dapur, suara bel berbunyi tanda seorang tamu datang ke rumahnya. Para pelayan dan juga orang tuanya, belum terlihat batang hidungnya sama sekali. Jadi, Nana memutuskan untuk melihat sosok tamu tersebut.
Nana berpikir jika itu Dean, karena mungkin saja ada yang tertinggal, begitu pikir Nana. Akan tetapi, air mukanya berubah setelah melihat sosok tamu yang datang.
"Kau!"