3. Tasyakuran

1233 Kata
Susilo sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, dokter mengatakan beliau sudah dalam keadaan yang fit untuk kembali berkegiatan asalkan tidak terlalu berpengaruh dengan kesehatan jantungnya. Seperti pagi ini mereka sekeluarga sedang menikmati sarapannya masing-masing. Karena sangat jarang moment ini terjadi mengingat Abi yang selama ini yang memilih untuk tinggal di negeri paman sam. “Kamu masih lama stay disini kan, Bi?” Susilo membuka percakapannya. “Hmm, Abi ambil cuti 2 minggu.” Jawab Abi singkat Ranty meraih tangan sang anak yang berada di atas meja makan. “Bagus deh, bunda sama ayah mau mengadakan acara tasyakuran.. karena ayahmu sudah sehat, dan kamu juga sudah balik ke indonesia.” Sambung Ranty “Abi kan gak lama, Bun. Cuman 2minggu doang”. “Ya gapapa, Sekali-sekali momentnya juga pas, nanti sekalian kenalan sama beberapa kolega-kolega ayah.” Suara tegas Susilo menyahuti ucapan anaknya. “Ngapain sampai kenalan sama kolega, Ayah?” Abi menyipitkan matanya kepada sang ayah. Ia terlalu malas terlibat lebih jauh tentang perusahaan ayahnya, ia yakin sekali niat ayahnya mengenalkan beberapa bisnis koleganya bertujuan agar dirinya segera mengisi posisi CEO yang selama ini ayahnya inginkan. Dan Abi tak menginginkan itu. “Ck! Kamu ini. Ayah punya anak cowok satu tapi susah sekali untuk meneruskan bisnis orang tuanya. Buat apa ada kamu, Abi? Kemana lagi perusahaannya lari kalau tidak di tanganmu..” Susilo menyudahi acara makannya yang tinggal sedikit lagi. Memilih untuk berbicara serius dengan Abi. “Abi punya pekerjaan di Los Angeles, Yah. Gak mungkin dong ditinggalin gitu aja.. come on!” Abi tak mau kalah menanggapi sang ayah. “Disini kamu bosnya. Disana kamu bawahan! Sudah 3 tahun ini posisi ayah diganti sementara oleh Jasmine. Mau sampai kapan kamu lari-larian terus kaya bocah!!” Bentak Susilo yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. “Mas, sabar. Nanti jantungnya kumat lagi.” Ranty berusaha menengahi perdebatan antar anak dan suaminya. Mempertahankan ekspresi datarnya Abi kembali menyahut sang ayah. “Sudah ada Jasmine orang kepercayaan, Ayah. Terus Abi buat apalagi? Abi sudah nyaman disana.” Putus Abi. “Jasmine bukan anakku! Jadi aku tidak bisa meneruskan perusahaanku kepadanya kecuali kau jadikan ia mantu untukku!!” Telak Susilo yang langsung pergi dari ruang makan begitu saja. Kepalanya sakit melihat tingkah keras kepala sang anak. Entah apa yang membuatnya begitu enggan menggantikan posisi sang ayah. Enggan dengan jabatannya atau enggan berada di indonesia? Entahlah hanya Abi yang tau. Abi menghembuskan nafas kasar. Sambil memijit batang hidungnya yang terasa berat. Baru beberapa hari kepulangannya ke indonesia dia sudah dihadapi dengan perbedaan yang terus saja berulang dari beberapa tahun yang lalu. Ranty yang masih berada diruangan yang sama dengan Abi berusaha untuk membujuk sang anak. “Bi, bunda gak tau kenapa kamu kekeh sekali tidak mau membantu ayahmu melanjutkan jabatannya selaku pemilik perusahaan... ada apa sebenarnya nak? Ayahmu sudah cukup usia untuk pensiun, dan lagi gak memungkinkan untuk Jasmine terus-terusan yang menggantikan ayahmu. Posisi itu harusnya kamu yang mengisi, karena kamu anaknya dan itu sudah tanggung jawabmu..” Ranty berusaha selembut mungkin menjelaskan kepada sang anak bahwa memang ini sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai penerus. “Apa yang membuatmu berat sekali, Bi?” Tanya Ranty sendu, matanya sudah berkaca-kaca. Kenapa anaknya jadi sekeras ini. Kemana anak laki-lakinya yang lembut dan murah senyum. Kenapa sekarang jadi keras tak tersentuh begini. Diusapnya lembut pipi Abi, sedangkan yang diajak bicara sama sekali belum membuka suaranya. “Kamu, gak suka ya tinggal disini bareng Ayah dan Bunda? Apa karena alasan itu?” Sungguh jika itu alasan anaknya tak mau mengemban tanggung jawab, betapa hancurnya hati Ranty. “Bukan begitu, Bun.” Jawab Abi menatap sang bunda. “Lantas apa, Nak?” Tanya Ranty. “Abi, gak sanggup terus-terusan mengingat luka yang lalu bun. Luka yang tertinggal disini benar-benar membuat anakmu hancur!” Batin Abi. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada bundanya. “Nanti Abi pikirkan lagi. Abi mau naik ke atas dulu, Bun.” Kata Abi yang langsung begitu saja meninggalkan sang bunda seorang diri. Inilah salah satu alasan kenapa Abi enggan pulang ke indonesia. Hal yang sangat ditakutkan begitu dia memilih pulang pasti akan sulit untuk bisa pergi lagi. Mengingat ayahnya sudah begitu sangat mendesaknya untuk segera menggantikan posisi sang ayah. Sebenarnya bukan karena Abi tak mau, hanya saja, tujuannya jauh-jauh pergi ke Los Angeles bukan untuk berkarir melainkan untuk melarikan diri dari sumber lukanya. Abi gak pernah menceritakan kepada siapapun alasannya yang memilih untuk pergi bahkan kepada sang bunda pun ia tak menceritakannya. Biarlah dia sendiri yang tau, toh tak akan ada yang mengerti rasa sakit yang Abi rasakan hasil dari pengkhianatan mantan kekasihnya dulu. ** Acara syukuran yang direncanakan beberapa hari lalu akhirnya terlaksanakan. Setelah melakukan doa bersama yang dihadiri oleh beberapa orang penting dan kolega-kolega bisnis Susilo kini dilanjutkan dengan acara makan bersama. Abi saat ini sedang asyik berbincang dengan beberapa temannya yang tidak lain masih memiliki kerjasama dengan bisnis ayahnya. “Gue liat-liat betah banget kayanya stay di LA... Gak mau balik sini aja loe, mengisi posisi bokap. Om Susilo beberapa kali menyinggung katanya lo bakal gantiin dia..” Seru Anjas. Memutar bola matanya malas. “Udah ada Jasmine. Harusnya gue gak diperlukan lagi.” Jawab Abi enteng. “Jangan gitu loe! Mau gimana pun loe anaknya. Tetep lo yang meneruskan bisnis bokap lo bukan orang lain.” Sanggah Anjas sambil menyenggol lengan sahabatnya ini. “Loe lama-lama mirip bokap. Cerewet!” Jawab Abi acuh. Percakapan keduanya terhenti lantaran mendengar suara dentingan gelas yang dibunyikan menggunakan sendok. Sontak seluruh yang berada diruangan itu langsung memfokuskan pandangan kepada sumber suara yang tak lain ada Susilo sendiri. “Terimakasih untuk rekan-rekan sejawat, rekan-rekan bisnis sekalian yang sudah bersedia hadir di acara syukuran kecil-kecilan ini.” Sebenarnya acara syukuran kecil-kecilan ini juga tak bisa dibilang sesederhana itu, mengingat ustad yang diundang juga bukan ustad sembarangan dan segala bentuk sajian di prasmanan juga bukan makanan biasa. Ini semacam pesta perayaan, mungkin bisa dibilang begitu. “Dalam kesempatan kali ini saya juga ingin menyampaikan berita yang cukup membahagiakan untuk saya, yaitu kepulangan anak laki-laki saya satu-satunya dari LA dan kepulangannya tersebut bukan tanpa sebab melainkan karena Abimana akan segera menggantikan posisi Saya selaku CEO..” Lanjut Susilo dengan senyumnya yang lebar sambil bertepuk tangan ringan. Para tamu yang hadir juga menyambut berita gembira tersebut dengan bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada Abi. Sedangkan Abi yang menjadi pusat perhatian hanya menatap ayahnya tajam. Keputusan sang ayah ini tanpa mempertimbangkan dirinya terlebih dahulu tak ada diskusi di antara keduanya dan sekarang ayahnya memutuskan secara sepihak. “Wah selamat bro!” Ucap Anjas yang dari tadi setia berada disamping Abi menempuk pundak Sahabatnya ini. Tak jauh dari situ Jasmine yang berada di samping Ranty memperhatikan Abi. “Ada orang dikasih jabatan paling tinggi reaksinya kaya gak suka gitu.” Batin Jasmine lantara melihat reaksi Abi sekarang yang seperti ingin memakan orang. Sangat terlihat bagaimana pria satu itu sedang berusaha menahan emosinya. Susilo yang melihat reaksi sang anak tampak tak peduli. Ia hanya tersenyum menatap sang anak sambil menaik turunkan alisnya. Susilo tau anaknya sekarang sedang menahan emosi. Soal ini bisa diurus belakangan, kalau tidak begini dia yakin Abi akan terus lari dari tanggung jawabnya. Kerumunan yang beberapa saat lalu terjadi perlahan bubar kembali ke percakapan masing-masing. Abi yang ingin menghampiri sang ayah guna meminta penjelasan tiba-tiba saja dihadang oleh seseorang. “Hai, Abi..” “Apa kabar?” Seseorang tersebut menampilkan senyum manisnya dan mengulurkan tangannya kepada Abi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN