4. Dia.

1254 Kata
Abi menegang di tempatnya berdiri menatap seorang wanita yang baru saja menyapanya. Kenapa? Kenapa dari sekian banyak wanita didunia ini ia harus bertemu dengan sosok satu ini, sudah sekian tahun ia menghindar tapi kenapa seakan takdir tetap saja membuatnya bertemu dengan wanita ini. Nyatanya walau sudah sekian tahun, tapi rasa sakitnya masih begitu nyata. Abi hanya menatap tajam wanita yang masih setia berdiri di depannya, tangan Abi mengepal menahan gejolak emosi di dalam d**a. “Ehem, Bagaimana kabarmu?” Tanya seorang wanita itu sekali lagi dengan tetap mempertahankan senyum manisnya dan tangan yang masih menunggu untuk disambut oleh Abi. “Ngapain ada disini!” Abi membuka suaranya. Bukan sebuah pertanyaan melainkan sarkasme yang ditunjukkan oleh Abi. Tak ada wajah ramah yang ia tunjukkan melainkan wajah tak senang merasa risih dan itu sangat jelas terlihat. Menarik tangannya yang tak mendapatkan respon dari Abi, namun senyum manis masih terpatri di bibir karena ia tahu dulu Abi sangat menyukai senyumannya. “Kamu, lupa ya. Orang tua kitakan berteman baik.” Jawabnya lembut. Enggan rasanya berhadapan terlalu lama dengan sosok tersebut Abi berencana pergi dan melanjutkan niatnya untuk mencari sang ayah. Tapi sepertinya wanita tersebut tidak sejalan dengan keinginan Abi. Menahan lengan Abi yang berusaha melewatinya. “Abi. Kamu masih marah ya sama aku?” “A-Aku dan Alex sudah berpisah, Bi. setahun setelah pernikahan kami..” Menatap mata Abi berusaha menarik perhatian pria dihadapannya. “Alex berlaku kasar kepadaku. Dia.. Dia gak sepertimu, Bi..” Lirih menundukkan kepalanya bila mengingat perlakuan mantan suaminya yang sangat berbeda jauh dengan Abi. Dulu saat menjalin hubungan dengan Abi, Abi selalu memperlakukannya dengan sangat baik laki-laki tersebut selalu berlaku lemah lembut bila dengannya. Abi menyentak kuat lengannya yang digenggam oleh wanita ini menatap tajam sosok yang sudah menorehkan luka dan sekarang apa maksudnya menceritakan kisahnya dengan sang mantan suami. Sungguh Abi tak peduli. “Pertama saya sudah memaafkanmu jauh sebelumnya. Kedua saya tidak peduli bagaimana hubunganmu dengan Alex!” Tanpa mereka sadari sedari tadi percakapan yang menegangkan tersebut didengar dan disaksikan oleh Jasmine. Bukan. Bukan sengaja menguping. Lantaran tadi dia memang diperintahkan oleh Susilo untuk mencari Abi dan menyuruhnya menemui Susilo di ruang kerjanya. Tapi ketika hendak menghampiri pria tersebut Jasmine melihat Abi sedang berbincang dengan seorang wanita. Dan sekarang disinilah dia terjebak di antara sekat pemisah. Jika memilih pergi pasti akan terlihat oleh kedua orang itu, tapi bertahan disini takut takut dia mendengarkan sesuatu yang seharusnya tak ia dengar. “Saya harap kamu bisa berlaku biasa saja. Saya tidak memiliki urusan apapun lagi denganmu. Jadi saya mohon jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan saya. Saya tidak peduli tentang apa yang terjadi padamu. Mungkin itu karma untuk seorang pengkhianat!” Abi langsung pergi begitu saja. Sungguh rasanya sesak sekali ketika harus mengingat-ingat kembali kejadian yang sangat ingin ia lupakan seumur hidupnya. Sania hanya menatap nanar kepergian Abi. Pria yang dulu hangat dan penuh kelembutan kini berubah menjadi pria yang tidak punya hati. Bahkan perkataan Abi berhasil menusuk hatinya. Sania tau, dia sudah melakukan kesalahan besar, tapi tak pantaskah ia mendapatkan kesempatan kedua? Beberapa langkah setelah meninggalkan Sania, Abi memperhatikan sesuatu di balik pembatas kayu jati di hadapannya. Seperti seseorang yang sedang bersembunyi di sebalik pembatas tersebut. Abi melangkah dengan pasti sambil mengerutkan alisnya. “Kau menguping!” Suara bariton Abi ketika sudah berdiri di hadapan wanita yang ia kenal sebagai pengganti ayahnya di kantor yang tak lain adalah Jasmine. Jasmine terperangah. Tapi berusaha untuk tetap tenang. “Ti-tidak. Saya tidak menguping.” Jawab Jasmine yang masih setia menundukkan kepalanya. Sungguh saat ini ia takut menghadapi Abi, karena sudah melihat pria itu marah seperti kepada wanita yang tadi. Takut-takut dia akan kena semprot juga. “Bersembunyi dan mengendap-endap seperti ini lantas apa namanya kalau tidak menguping?” Tanya Abi santai memasukkan kedua tangannya di saku celana. Menatap wanita yang tinggi badanya lebih rendah dari pada dirinya. Jasmine menaikkan kepalanya menatap kepada Abi. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Kalau dilihat-lihat anak bosnya ini cukup tampan. Eh tapi bukan itu persoalan sekarang! “Saya disuruh oleh pak Susilo untuk menyampaikan pesan kepada anda beliau meminta agar anda segera menemuinya di ruang kerja beliau.” Setelah menyampaikan kalimat panjang tersebut Jasmine langsung membuang pandangannya ke arah lain. Karena sedari tadi Abi tak memutuskan pandangannya kepada Jasmine. “Saya tidak berniat untuk menguping hanya tidak sengaja mendengarkannya.” Lanjut Jasmine yang tidak mendapatkan respon apa-apa dari Abi. “Sama saja!” Abi langsung pergi meninggalkan Jasmine dan segera menuju keruangan kerja sang ayah. “Haahh haahh! Wahh jantung gue aman. Ya ampun kaya ketemu sama malaikat pencabut nyawa!” Jasmine terengah-engah. Wanita tersebut sedikit menahan nafasnya ketika berhadapan dengan Abi. Sungguh berhadap dengan Abi membuat nyalinya sedikit ciut, padahal pria itu tidak melakukan hal-hal aneh tapi entah kenapa hawanya seperti menegangkan dan seperti berhadapan dengan dosen penguji. Sama seramnya! ** “Kenapa Ayah, gak diskusi dulu sama Abi! Kenapa memutuskan secara sepihak begini!” Abi tanpa basa basi langsung menyatakan ketidaksukaannya terhadap keputusan sang ayah. “Kalau tidak begitu kamu akan terus kabur-kaburan. Sekarang gak ada lagi kata tidak. Mulai besok kamu bisa ke kantor untuk menyesuaikan diri. Jasmine akan membantumu.” Telak Susilo. Keputusannya sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat lagi. Menghela nafasnya kasar Abi sedikit memijat pangkal hidungnya. “Abi masih punya pekerjaan di LA, Yah. Abi gak bisa resign mendadak begitu aja.” Jelas Abi. “Ayah tidak mau tau. Sisa cuti bisa kamu pergunakan untuk mengurus urusanmu yang masih tertinggal di LA.” Jawab Susilo santai. Dia sudah terlalu memanjakan sang anak dan menuruti semua keinginan Abi untuk berkarir di LA. Tapi sekarang tidak bisa lagi, karena Susilo membutuhkan Abi sebagai penerusnya. Abi pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa sepatah katapun. Dia membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Belum usai keterkejutannya dengan pengumuman yang ayahnya sampai dan lagi dia harus dihadapkan pada sosok masa lalu yang sangat ingin ia buang jauh-jauh. Sungguh sangat melelah fisik baik mentalnya sekaligus. Abi butuh sedikit bersenang-senang, mungkin menghubungi beberapa teman lamanya merupakan keputusan yang tepat. “Bapak, Ibuk. Jasmine sekalian mau pamit pulang. Ini sudah larut malam. Besok juga masih hari kantor dan harus menemani pak Abi agar pak Abi bisa segera menyesuaikan diri di kantor.” Seru Jasmine yang sedari tadi juga ikut berada di ruangan yang sama bersama Susilo Ranty dan Abi yang baru saja keluar. “Jasmine, menginap dirumah saja, Nak. Ini sudah malam bahaya perempuan pulang jam segini. Ibu sudah menyiapkan kamar tamu untukmu.” Ucap Ranty meraih tangan Jasmine. “Gak usah Buk, Saya gak enak dengan Ibuk dan Bapak. Saya gak mau merepotkan.” Jawab Jasmin dengan segera, sungguh kebaikan kedua majikannya ini sering membuatnya sungkan. “Menginap disini saja, Jasmine. Ini sudah terlalu malam untuk pulang.” Suara Susilo menginterupsi. Jika sang tuan besar yang sudah bersuara ia sudah tak bisa berbuat apa selain menerima. Jasmine diantarkan oleh Ranty langsung kekamar yang sudah disiapkan untuk dirinya beristirahat. “Masuklah. Kamarnya sudah dibersihkan oleh maid. Anggap rumah sendiri ya..” Ucap Ranty lembut sambil mengelus pelan lengan Jasmine. “Maaf ya, Buk saya merepotkan sekali.” Jawab Jasmine sungkan menundukkan kepalanya. “Tidak apa. Ibuk malah tenang begini dari pada membiarkanmu pulang tengah malam seorang diri . Besok pagi sekali kamu diantar oleh pak Asep biar tidak kesiangan ke kantornya..” Jelas Ranty yang semakin membuat Jasmine merasa sungkan. Siapalah dia yang mendapat perlakuan sebegitunya dari istri majikannya ini. “Terima Kasih, Ibu. Selamat malam dan selamat istirahat.” Ucap Jasmine sebelum Ranty meninggalkannya yang hanya dijawab anggukan dan senyum manis oleh Ranty. Ditempat lain. Abi yang sedang bersama teman-temannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN