Perhatian ada adegan dewasa (21+)
Yang dibawah umur minggir dulu hihihi.
Abi yang berada disalah satu club malam yang cukup terkenal di ibu kota bersama dengan beberapa temannya berusaha sedikit mengalihkan pikirannya. Abi bukan peminum apalagi berdiri di dance floor, ia hanya ingin menenangkan sedikit suasana hatinya yang cukup berantakan karena kejadian beberapa saat yang lalu.
“Minumlah, Bi. Minum dikit doang gak bakal bikin lo mabuk kok. Ayolah, udah lama banget kita gak ngumpul mumpung lo balik ke jakarta kan!” Seru Liam salah satu temanya Abi.
“Gue gak bisa minum terlalu banyak bro. Gue nyetir sendiri.” Jelas Abi tapi tetap menerima gelas kecil pemberian Liam hanya untuk sekedar menghormati sahabatnya dan sedikit meminum cairan yang ada di gelas tersebut.
“Gila ni kawan kita. Dikasih jabatan bagus bukannya seneng malah galau hahaha.” Anjas yang ikut bersamanya kini sudah terlihat sedikit mabuk dan mulai meracau.
“Udah bro gak usah dibahas liat tu mukanya asem banget. Kita disini buat senang-senang jangan mikirin dunia luar.” Ujar gilang merangkul bahu Abi agar sahabatnya ini bisa sedikit rilex. Setelah beberapa menit meminum cairan yang ada di gelas pemberian Liam tadi Abi merasakan sesuatu di tubuhnya. Ia merasa sedikit gerah, panas sedikit tak nyaman. Semakin dibiarkan semakin aneh seperti ada hasrat yang terpendam. Akhirnya Abi memutuskan untuk segera pulang.
“Bro mau kemana. Belum selesai nihh!” Teriak Liam melihat Abi yang langsung saja pergi meninggalkan club tersebut. Ini aneh tubuhnya merasakan gairah yang tak tertahankan.
“Sstt.. Sial! Minuman apa yang kau berikan padaku Liam.” Abi mendesah pelan sambil mencengkram setir mobilnya kuat saat ini ia sedang melaju dengan kencang dan ingin segera sampai kerumah guna menjinakkan sesuatu dibawah sana yang sudah mulai bangkit.
Sementara itu di sisi lain. Jasmine masih belum bisa menutup matanya rapat, dari tadi yang ia lakukan hanya merubah posisi tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi dia tak juga tidur, memang begini selalu ketika Jasmine berada di situasi baru dan memang ini pertama kali dirinya menginap dirumah orang lain lebih tepatnya di rumah bosnya. Karena tak kunjung tidur Jasmine akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai satu guna mengambil segelas air mineral mungkin dengan itu bisa membuatnya sedikit rilex dan bisa segera tidur karena besok ia harus masuk ke kantor.
Disaat yang bersamaan Abi baru saja memarkirkan mobilnya sembarangan di halaman rumahnya yang luas, ia ingin segera sampai dikamar dan ingin segera mandi dengan air dingin untuk menetralkan suhu tubuhnya yang makin gelisah tak tentu arah. Ingatkan dia besok untuk sedikit memberi pelajaran kepada Liam, karena sudah membawanya pada kondisi gila seperti ini.
Jasmine segera kembali ke kamar setelah mendapatkan segelas air mineral di tangannya dan ia bawa ke kamar. Abi yang baru saja memasuki rumah melihat seorang wanita yang sedang menaiki anak tangga dengan baju tidur yang khas. Tidak sexy, baju tidur yang biasa tapi Abi melihatnya tidak demikian ditambah Abi dalam kondisi dibawah pengaruh minuman yang dicampur obat perangsang. Seolah seperti mendapatkan Oase ditengah gurun sahara Abi yang sudah tidak bisa menggunakan akal sehatnya langsung saja mengikuti langkah kaki Jasmine. Yang ada dipikiran Abi sekarang adalah ia harus menuntaskan hasratnya yang semakin liar. Salahkan Liam yang telah memberikannya minuman sialan itu.
Jasmine yang tidak sadar dengan seseorang yang berada di belakangnya langsung membuka pintu kamarnya dan saat itu juga Jasmine tersentak saat mendapati seseorang menyentuh pinggangnya dan memaksanya untuk segera masuk ke kamar dan segera menutup pintu dan mengunci pintu tersebut. Jasmin langsung saja berbalik badan untuk melihat siapa yang sudah lancang mengikutinya masuk ke kamar ini.
“PAK ABI!” Sentak Jasmine sedikit berteriak.
“Apa yang anda lakukan, Pak! Anda salah kamar ini bukan eemmhhpptt-“ Jasmine yang belum menyelesaikan kalimatnya langsung terdiam ketika mendapati anak majikannya yang gak lain adalah Abi sedang mencium bibirnya dengan rakus. Jasmine menegang antara syok dan tak bisa berbuat apa-apa. Ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang bertindak jauh terhadap dirinya. Selama 27 tahun dia hidup tidak pernah sekalipun ia bertindak sejauh ini bersama seorang pria.
Abi yang tidak merasakkan adanya pergerakan dari Jasmine melepaskan ciuman mereka begitu saja. Menangkup wajah Jasmine dengan kedua tanganya, memaksa gadis itu untuk melihat ke arahnya. Sorot mata Abi berkabut menandakan hasratnya sudah gak bisa dipendam lagi.
“Tolong saya, Jasmine.” Lirih Abi.
Jasmine yang tersadar segera melepaskan tangan Abi yang bersarang diwajahnya dan memundurkan langkahnya.
“Pak Abi, dalam kondisi mabuk. Sebaiknya bapak segera kembali ke kamar..” Jawab Jasmine dengan nafas terengah-engah akibat ciuman yang dilakukan Abi. Dan disela ciumannya tadi Jasmine tersadar Abi dalam kondisi mabuk. Jasmine sedikit merasakan sisa-sisa dari alkohol yang pria itu minum.
Abi yang sudah tidak bisa menahan langsung kembali merebut bibir gadis yang ada di hadapannya. Abi sudah tidak bisa lagi menahan nafsunya.
“Eemmhhppt-! P-ak!” Suara Jasmine tertahan oleh ciuman Abi. Jasmine berusaha untuk melepaskan ciuman itu dengan memukul dan mendorong d**a Abi kuat. Namun naas seolah tak berpengaruh apa-apa Abi malah membopong badan kecil Jasmine dan menghempaskannya ke atas ranjang dan langsung mendukung badan kecil itu tanpa melepaskan ciumannya.
Jasmine memberontak sekuat tenaganya agar bisa melepaskan diri dari pria besar yang sedang mabuk di hadapannya ini. Air mata mulai keluar sungguh Jasmine sangat takut sekarang, dia takut membayangkan hal yang mungkin saja terjadi.
Jasmine menggelengkan kepalanya kuat disaat tangan Abi meremas salah satu payudaranya. Jasmine langsung menahan tangan Abi untuk tidak berbuat lebih jauh lagi.
“Pak, saya mohon jangan begini.” Jasmine sudah tidak bisa menahan tangisnya. Air mata itu mengalir begitu saja. Tapi Abi yang berada dibawah pengaruh obat tidak peduli akan itu.
“DIAM JASMINE!!” Bentak Abi karena jasmine terus saja memberontak. Pria itu membawa kedua tangan Jasmine di atas kepalanya dan kembali mencium bibir penuh milik Jasmine tangannya yang menganggur tak ia biarkan begitu saja meremas dua gundukan kenyal disana. Jasmine tak bisa berbuat apa-apa selain menangis tersedu-sedu. Kakinya diapit oleh paha besar Abi sedang tangannya ditahan di atas kelapa oleh tangan Abi dan sekarang bibirnya pun sedangan dilahap rakus oleh bibir Abi. Tenaga Jasmine kalah jika dibandingkan dengan tenaga Abi yang memiliki perawakan tinggi besar dan sangat terlihat jika pria ini sering melatih otot-ototnya dengan berolahraga.
Abi membuka kancing kemejanya dengan satu tangan membuka kemejanya dan membuangnya sembarangan. Menangkup wajah Jasmine dengan kedua tangannya melepas ciuman mereka dan beralih menciumi kedua mata Jasmine yang sedari tadi mengeluarkan air matanya.
“Jangan menangis.” Ucap Abi lembut menyatukan kedua kening mereka.
Menahan kedua lengan Abi dengan gemetar. “Pak Abi, saya mohon jangan, Pak.” Isak Jasmine sambil menggelengkan kepalanya. Bukannya menuruti permintaan Jasmine, Abi melanjutkan kegiatannya mencium bibir Jasmine menghisapnya kuat dan menggigit bibir penuh Jasmine dengan begitu bibir Jasmine terbuka yang memudahkannya mengakses bibir ranum ini.
“Enngghh.” Jasmine melenguh akibat dari gigitan Abi di bibirnya. Abi yang mendengar erangan Jasmine semakin menggila langsung merobek paksa baju tidur yang dikenakan Jasmine.
Krek!
Otak Abi sudah terkontaminasi dan adiknya di bawah sana minta ingin segera dipuaskan.
Jasmine melototkan matanya ia tidak ingin Abi melihat tubuhnya terekspos Jasmine terus memberontak dengan sisa tenaganya berusaha melepaskan jeratan Abi. Tapi semakin kuat dia berusaha semakin kuat pula Abi mengukung tubuh Jasmine.
Abi segera membuka ikat pinggangnya dengan tergesa-gesa. Membuang celananya sembarang. Menarik paha Jasmine yang masih berusaha kabur darinya. Abi sudah kehilangan akal sehatnya.
“Pak! Saya mohon jangan, Pak! Pak Abi, tolong jangan!” Pinta Jasmine yang semakin terisak sedang Abi seolah menulikan telinganya langsung merobek celana tidur Jasmine dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Melihat pemandangan di depan matanya semakin membuat Abi gila.
“Pak eenngghh.” Lagi Abi membungkam bibir Jasmine menggunakan bibirnya. Menghisapnya kuat mengabsen seluruh bagian yang ada di dalam. Tangannya tak tinggal diam meremas kuat kedua gunung kenyal milik Jasmine.
“Sshh enghh.” Jasmine melenguh sakit dibagian dadanya akibat remasan kuat. Berusaha menahan tangan Abi namun sayang tangan nya malah digenggam dan ditarik ke atas kepala Jasmine oleh Abi.
“Kamu hanya perlu diam dan menikmati.” Ucap Abi dengan nafas terengah-engah.
***