6. The Nightmare 2 (21+)

1275 Kata
Hati-hati !! Ada adegan 21+ ! Jasmine hanya bisa pasrah menangis sambil menggelengkan kepala. Tenaganya sudah habis dipakai untuk memberontak melepaskan diri dari Abi tapi sayang usahanya tak membuahkan hasil. Abi kembali memagut bibir ranum Jasmine. Tangan kanannya yang menganggur ia gunakan untuk menjamah seluruh permukaan kulit jasmine, mengelus lembut puncak pink yang saat ini menegang. Ya Abi sudah berhasil melepaskan bra yang Jasmine kenakan, sekarang hanya tinggal celana dalam yang melindungi aset berharga Jasmine sama halnya dengan Abi. Jasmine meremang. Iya ingin menolak tapi kenapa seolah tubuhnya menikmati sentuhan Abi. Tangan Abi terus mengelus dan sedikit memainkan puncak kecil yang terlihat mencuat. Ia lepaskan pagutan dibibir mereka dan beralih ke puncak gunung yang siap untuk dilahap. “Eenghh.” Jasmine melentikkan tubuhnya akibat hisapan kuat di atas puncak payudaranya. Abi persis seperti bayi yang haus mencari sumber kehidupannya. Tangan kanan nya juga tidak tinggal diam mengelus perut rata Jasmine dan perlahan turun ke arah tempat yang paling berharga yang selama ini Jasmine jaga. Jasmine semakin tampak gelisah. Iya tak bisa berbuat apa-apa. Tangannya masih ditahan diatas kepala menggunakan tangan kiri Abi, sementara pria ini masih setia mengulum puncak payudaranya dengan sangat penuh nafsu dan sekarang tangan pria ini mulai meraba ke arah bagian paling sensitif. “Aahh engghh.” Jasmine melenguh saat Abi berhasil menyentuh dan mengusap bagian paling sensitif pada dirinya. Jasmine masih berusaha merapatkan pahanya. Tapi sial tindakannya justru makin mempermudah akses pria itu. Abi melepaskan kulumannya yang berada diatas d**a Jasmine. Mengalihkan pandangannya kepada Jasmine menatapnya dengan tatapan penuh nafsu. “Kau, sudah siap ternyata.” Ucap Abi yang mendapatkan gelengan kepala dari Jasmine. Tanpa pikir panjang Abi langsung saja melepaskan celana dalam Jasmine dengan mudahnya begitu juga dengan miliknya. “Aku mohon jangan!” Lirih Jasmine yang masih saja memohon belaskasih Abi. Tapi Abi sudah terbakar oleh nafsu membara akibat minuman yang ia minum di klub sebelumnya. Abi membuka paha Jasmine lebar mengarahkan miliknya yang sudah menegang tegak yang siap untuk berlabuh ke muara didepannya. Jasmine yang melihat milik Abi begitu mencuat memejamkan matanya dan seketika itu badannya menegang merasakan ujung benda tumpul tersebut menyentuh bagian paling sensitif dari dirinya. “Ahhh S-Saakitt!” Jasmine meringis merasakan milik Abi yang berukuran cukup besar itu berusaha memaksa untuk masuk menerobos ke dalam dirinya. “Ini sakit sekali pak! Kumohon berhenti!” Isak tangis Jasmine semakin menjadi ketika Abi tidak menghentikan kegiatannya di bawah sana. “Kauhh sempit sekali Jasmine!” Ujar Abi yang masih memaksakan usahanya masuk kedalam surgawi yang tersembunyi. Abi kembali merampas bibir Jasmine memanggutnya rakus agar mengalihkan rasa sakit wanita ini. Dengan sekali hentakan. Bless!! “Aahh.” Abi berhasil membelah penghalang yang sedari tadi menghalangi adik kecilnya untuk masuk. “Sstt hhaahh aah engghh.” Jasmine meringis saat masih merasakan perih di area sensitifnya ketika Abi mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. “Hhhh kau akan terbiasa.” Ucap Abi sambil terus menggerakkan pinggulnya tanpa henti. Yang tadi bergerak perlahan kini mulai menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan hentakkan yang kuat. “Hahh ahhh pa-k s-stop!” Abi bahkan tidak menghiraukan tangisan Jasmine. Dia terus bergerak pinggulnya sesuai dengan naluri nya untuk segera terpuaskan. Air mata Jasmine semakin deras mengalir. Hilang sudah harta paling berharga yang ia miliki. Harta yang akan ia persembahkan suatu saat nanti untuk suaminya tercinta. Sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa ia berikan untuk seseorang itu, karena keperawanannya sudah direnggut paksa oleh lelaki b******k didepannya ini yang tak lain adalah anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. “Aahh Jasmine!” Racau Abi tak karuan yang merasakan miliknya seolah-olah dijepit kuat oleh milik Jasmine. Dan semakin mempercepat gerakannya. Sedang Jasmine semakin terpental-pental akibat kuatnya hentakkan yang Abi lakukan. Melihat gunung kembar Jasmine yang terpental hebat membuat Abi tergoda untuk kembali mengulum kuat puncak kecilnya yang menegang. Jelas saja tindakan tersebut membuat Jasmine kembali melentikkan tubuhnya dan membuat kepalanya terperangah keatas. Jasmine hanya bisa pasrah berharap semoga Abi segera menyelesaikan permainan laknatnya. “Eengghh aahh hahh ahh! Pakkh berhentihh.” Jasmine mendorong d**a Abi meskipun itu tidak berpengaruh sedikitpun. Ia merasakan sesuatu seperti akan keluar di bawah sana. Abi kembali memagut bibir penuh Jasmine yang semakin nampak penuh akibat kulumannya yang tiada henti. Abi juga merasakan dirinya akan sampai kepada puncak kenikmatan dan semakin mempercepat gerakannya. Dan beberapa kali hentakkan lagi akhirnya.. “Hhaahhh aahhhh ahhh.” Abi melenguh panjang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jasmine ketika ia telah sampai pada puncak kenikmatan. Sedang jasmine memeluk punggung Abi kuat hingga kakinya bergetar hebat melentik hingga sedikit menarik sprei tempat tidur akibat hujaman yang Abi berikan. Ini pertama kalinya ia merasakan puncak o*****e nafasnya tersengah-engah dan ia merasakan cairan hangat mengaliri daerah selangkangannya. Jasmine memejamkan matanya kuat meremas punggung telanjang Abi. Sedangkan Abi ambruk terkulai lemas diatas tubuh Jasmine akibat pelepasan hebatnya. Ini juga kali pertama bagi Abi. Abi segera menyingkir dari atas tubuh Jasmine dan merebahkan dirinya di samping tubuh wanita itu. Sekarang ia merasa teramat lelah dan ngantuk akibat kegiatannya bersama Jasmine mungkin juga efek sisa dari minuman beralkohol yang dicampur dengan obat perangsang oleh Liam yang sebenarnya Abi juga tidak tahu akan hal itu. Jasmine langsung membungkus dirinya dengan selimut. Bergeser membelakangi Abi dan menangis sejadi-jadinya. Sungguh pilu mendengar suara tangis itu, salah apa Jasmine sampai hal ini terjadi kepada dirinya. Ia masih berharap bahwa apa yang terjadi hanyalah mimpi buruk tapi ketika merasakan bagian sensitifnya masih menyisakan perih seolah-olah kembali menyadarkan Jasmine bahwa ini kenyataanya. Ia telah diperkosa oleh anak majikannya. Keperawanannya direnggut paksa oleh laki-laki b******n yang sekarang berada di belakangnya. Bahkan tanpa rasa bersalahnya Abi bisa tidur dengan nyenyaknya tanpa merasa sedikitpun terganggu dengan suara isak tangis Jasmine. “Bapak, Ambu, Jasmine rindu.” Air mata semakin deras mengalir kala Jasmine mengingat mendiang kedua orang tuanya. Menangis tersedu-sedu mengingat nasib malang yang menimpa dirinya. Tak lama setelahnya Jasmine menyusul Abi tertidur dalam keadaan lelah fisik dan lelah menangis sepanjang malam. ** “Ssstt.” Abi terbangun dengan kondisi kepala berdenyut hebat. Ia memijat pelipisnya, membuka matanya perlahan. “Jam berapa sekarang? Dimana ini?” Tanya Abi pada dirinya sendiri ketika menyadari bahwa dia tidak berada di kamarnya. Abi menoleh ke samping saat merasakan adanya pergerakan dari arah sebelah kanan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang wanita yang hanya berpelindung selimut sedang berada di sudut ujung kepala tempat tidur. “Apa yang terjadi?” Tanya Abi kembali melihat keadaan wanita tersebut yang tak lain adalah Jasmine, seketika itu juga Abi melihat kondisinya sendiri dan melihat disebalik selimut bahwa ia pun sama seperti Jasmine tak mengenakan apapun barang sehelai benang pun tidak. Saat itu juga ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu. “Apa yang sudah kau lakukan Abi! Kau sudah merusak masa depan seorang perempuan!” Maki Abi dalam hati pada dirinya sendiri. Jasmine menatap lekat kepada Abi. Apalagi yang akan pria ini lakukan. Abi menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan segera mengenakan kembali pakaiannya yang tercecer dengan buru-buru sambil memunggungi Jasmine. “Pakailah pakaianmu segera.” Karena tak mendengar adanya jawaban dari Jasmine, Abi membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jasmine. Jasmine hanya menatap nyalang kepada Abi dengan santainya seolah tak terjadi apapun pada mereka berdua. Bahkan kata maaf tak terdengar dari mulut pria dihadapannya ini. Abi memijit pelipisnya. Sekarang ia sudah berpakaian lengkap meskipun jauh dari kata rapi setidaknya mampu menutupi tubuh bagian dalamnya. “Segera pakai pakaianmu dan keluar dari sini. Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi!” Ucap Abi enteng sembari meninggalkan Jasmine begitu saja. Abi harus cepat-cepat keluar dari kamar ini sebelum ada yang mengetahui keadaan mereka berdua. Nafas Jasmine terengah-engah mendengar penuturan Abi, ia mencengkram kuat selimut yang menutupi tubuhnya. Memejamkan matanya Lagi-lagi air matanya lolos begitu saja. “Dasar br3ngsek!!” Ucapan Jasmine tertahan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN