7. Bapak, Ambu...

1393 Kata
Setelah menikmati tubuhnya begitu saja seperti seorang p*****r dengan mudahnya Abi menyuruh dirinya untuk melupakan apa yang sudah terjadi? Bahkan untuk seorang p*****r saja mereka masih mendapatkan bayar. Sedang Jasmine? Mendapatkan kata maaf saja tidak apalagi bayaran! Jasmine masih menangisi nasibnya yang malang. Kenapa tuhan menciptakan pria b******n seperti Abi? Seharusnya dia menolak saja tawaran Susilo dan Ranty untuk menginap dengan begitu kejadian tadi malam mungkin tidak akan terjadi. Dan harta berharga yang ia miliki juga tidak akan direnggut paksa. Jasmine menyesali semuanya. Menyesal menerima tawar menginap, menyesal kenapa dirinya harus turun kebawah mengambil segelas air mineral. Harusnya dia paksa saja untuk tidur harusnya ia tidak melakukan ini harusnya dia melakukan itu dan segala bentuk penyesalan. Namun nasi sudah menjadi bubur. Waktu tak bisa diulang kembali. Dan keperawanannya yang terrenggut paksa pun tak bisa kembali. “Jasmine harus bagaimana, Ambu?” Gumam Jasmine dalam isak tangisnya. Seketika itu Jasmine tersentak ia segera melihat kearah jam dinding dan jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Jasmine harus segera pergi sekarang juga sebelum seluruh orang dirumah ini memulai aktivitasnya. Dan sebelum Ranty mengetahui keadaanya. Untuk saat ini Jasmine memilih untuk pergi dari tempat yang sudah menorehkan luka dalam bagi dirinya. “Aku harus segera pergi dari sini! Sebelum Ibu Ranty dan Pak Susilo bangun. Aku belum siap menghadapi mereka terutama anaknya yang sudah melakukan hal keji ini!!” Seru Jasmine sambil memakai pakaiannya. Bukan, bukan baju tidur yang sudah dirobek oleh Abi. Melainkan pakaian yang ia kenakan ketika acara tasyakuran berlangsung. Sebenarnya baju tidur itu juga Jasmine dapatkan dari Ranty, Ranty meminjamkan salah satu koleksi baju tidurnya yang masih dalam kondisi baru. “Sstt.” Jasmine meringis. Memejamkan matanya kuat saat masih merasakan perih di area sensitifnya. Menarik nafasnya panjang. “Kamu harus kuat Jasmine! Kamu harus kuat! Setidaknya keluar dari rumah ini dulu.” Seru Jasmine berusaha menyemangati dirinya sendiri. Jasmine keluar dari kamar tersebut. Menolehkan kepalanya kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Padahal ia tidak mencuri sesuatu, tapi kenapa seolah-olah Jasmine takut ada yang memergokinya. Padahal dia disini adalah korban. Jasmine menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa tak ia abaikan rasa ngilu dan perih yang dirasakan diarea selangkangannya. Hari masih petang ketika Jasmine sudah berada diluar rumah yang sangat megah itu. Beruntung ketika sampai digerbang satpam disana masih bergelung dengan mimpi. Jasmine segera menjauh dari kediaman Susilo dan segera mencari taksi untuk kembali ke rumahnya. Disisi lain Abi yang sudah berada di kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower. Abi merutuki dirinya sendiri atas kebodohan yang telah diperbuatnya. Sekarang bagaimana? Bagaimana kalau Jasmine melaporkan kejadian itu kepada kedua orang tuanya! bagaimana respon Ranty jika mengetahui anaknya sudah memperkosa seorang gadis yang tak bersalah. Gara-gara minuman sialan terkutuk itu Abi sudah melakukan hal laknat itu! Meminumnya saja sudah dosa ditambah Abi menodai seorang wanita yang malang. “Argh sialan!!” Abi meremas rambutnya kuat dan melayangkan tinju ke dinding kamar mandi dan berakibatkan tangannya yang memar. Tapi Abi tak peduli akan itu. Bagaimana Abi harus menghadapi Jasmine hari ini yang akan menyambangi kantor ayahnya. Jasmine telah sampai di kediaman pribadinya. Harta peninggalan satu-satunya dari kedua orangtuanya. Wanita itu langsung membasuh tubuhnya di bawah shower. Menggosok kasar bagian tubuhnya yang telah disentuh oleh Abi. Hingga menimbulkan rasa perih, tapi tak menghentikan langkahnya untuk menghilangkan jejak kotor Abi. Jika bisa ia ingin menguliti kulitnya sendiri. Jasmine merasa jijik kepada dirinya sendiri. Jasmine merasa hina telah ternodai oleh Abi. “Jasmine kotor ambu! Jasmine sudah kotor ! jasmine jijik sama diri Jasmine sendiri!!” “Bapak ambu.. Jasmine tidak kuat!” Isak tangis Jasmine semakin tersedu-sedu kala mengingat orang tuanya yang telah tiada. Tak ada tempatnya untuk mengadu. Semua Jasmine tanggung seorang diri. Tubuh mungil itu luruh begitu saja diatas lantai memeluk lututnya. Tak dihiraukan tubuh yang sudah mulai menggigil akibat guyuran air dingin dipagi buta. ** Ranty yang baru saja menyelesaikan ibadah subuhnya bersama sang suami segara menyambangi kamar tamu tempat Jasmine bermalam. Niat untuk membangunkan Jasmine agar segera diantar kepulangannya oleh Asep dan tidak kesiangan untuk pergi kekantor. “Nak Jasmine, Apa sudah bangun, Nak? Ibuk sudah menyuruh pak Asep untuk segera mengantarmu, agar kamu tidak kesiangan berangkat ke kantor..” Seru Ranty memanggil Jasmine dari depan pintu kamar sambil sesekali mengetuk pintu di depannya ini. “Nak Jasmine..” Seru Ranty sekali lagi dengan sedikit keras mengetuk pintu kamar Jasmine. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam Ranty berniat membuka pintu kamar tersebut dan ingin mengecek keadaan Jasmine. Jangan-jangan wanita itu dalam keadaan genting yang membuatnya tak menjawab panggilan Ranty sedari tadi. “ASTAGA YA TUHAN !! APA YANG TERJADI?” Pekik Ranty ketika mendapati kamar tersebut dalam kondisi yang sangat berantakan. Sprei yang tadinya bersarang sebagai alas tidur kini terlepas dari spring bed itu sendiri. Mata Ranty kian melotot ketika mendapati baju tidur yang dipinjamkan kepada Jasmine tergeletak tak berbentuk, baju tersebut telah robek menjadi dua bagian. Ranty semakin syok ketika melihat noda bercak darah yang tertinggal di atas sprei tempat tidur. “Nak Jasmine, apa yang terjadi?” Lirih Ranty dengan mata yang sudah berkaca-kaca bertanya pada sosok yang keberadaanya sudah tidak ada di kamar tersebut. Ranty juga sudah mengecek kekamar mandi dan nilih Jasmine tidak ada. Ranty bergegas keluar kamar dan segera turun ke lantai satu guna menanyakan pekerja di rumahnya. Dan pada saat itu terlihat mbok Diman sedang berada diruang makan. “Mbok Diman! Apa mbok ada melihat Jasmine turun ke lantai satu?” Ranty langsung saja menghujani Mbok Diman dengan pertanyaanya. “Belum Nya, Saya belum lihat non Jasmine ada turun kebawah.” Ucap Diman sopan kepada majikannya. Ranty langsung meninggalkan Diman setelah mengucapkan terimakasih. Belum puas rasa penasarannya Ranty bergegas keluar rumah ke arah gerbang. “Pak Yanto! Kamu ada lihat Jasmine keluar nggak?” Seru Ranty sedikit berteriak lantaran dia belum benar-benar sampai ke pos satpam di depannya. “Non Jasmine ya, Nya? Kayaknya saya belum liat non Jasmine keluar dari gerbang Nya.” Jawab Yanto sedikit sungkan lantaran dirinya yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung mendapatkan pertanyaan dari Ranty. Ranty sedikit terengah-engah. Tidak ada yang melihat kepergian gadis itu. Bisa saja Jasmine pergi di pagi buta saat orang-orang dirumah masih bergelung diatas tempat tidurnya. Ranty tersentak saat mengingat bahwa di lorong dekat kamar tamu terdapat cctv yang memang sengaja dipasang oleh Susilo sejak beberapa tahun belakangan. Segera ia melangkahkan kakinya kembali memasuki rumah dan menuju lantai dua ruang kerja sang suami dimana tempat itu juga dijadikan tempat pengawasan cctnya. Ranty memeriksa layar monitor yang sedang menampakkan kondisi lorong lantai dua persis di depan kamar tamu. Memundurkan rekaman cctv tersebut ke beberapa waktu silam. Dan Ranty melihat jelas kala Jasmine keluar dari kamar tersebut pada pukul 5 pagi terlihat jam yang tertera di rekaman cctv tersebut. Kembali Ranty memundurkan rekaman cctvnya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok anaknya terekam dalam kamera cctv yang juga keluar dari kamar yang sama. “ABI!” Ranty menutup mulutnya. Kakinya lemas. Banyak pertanyaan bersarang di kepalanya. Kenapa Abi bisa berada disana bersama Jasmine. Dan lagi penampilan Abi yang terlihat acak-acakkan terekam jelas di kamera cctv. Ranty kembali memutar mundur rekaman cctv itu. Seolah-olah tiada henti Ranty mendapatkan kejutan di pagi hari. Kembali ia dapati rekaman cctv yang memperlihatkan Abi yang sedang menaiki anak tangga dalam kondisi sedikit sempoyongan mengikuti Jasmine yang akan memasuki kamarnya dan sangat jelas bahwa Abi mendorong paksa Jasmine untuk segera masuk ke kamar dan pintu kamar tersebut langsung tertutup begitu saja. Tak perlu ditanya lagi apa yang terjadi karena Ranty sudah bisa menebak apa yang sudah berlangsung di dalam kamar itu apalagi ketika melihat kondisi kamar yang berantakkan dan noda bercak darah sudah menjadikan bukti terjadi sesuatu yang tidak pantas antar Jasmine dan Abi. “Abi, apa yang kamu lakukan nak.. Kamu tidak mungkin..” Ranty tidak menyelesaikan kalimatnya menggeleng kuat mengenyahkan pikiran buruk itu. Ia takut jika benar anaknya melakukan suatu tindakan tak terpuji karena jika dilihat dari rekaman cctv Abi terlihat mendorong paksa Jasmine kedalam kamar. Dan jika mereka melakukannya atas dasar mau sama mau. Tidak mungkin Ranty bisa menemukan pakaian tidur yang tergeletak robek menjadi dua bagian kalau bukan karena adanya paksaan. Ia yakin sekali akan hal itu. Tapi juga tidak bisa menerima jika anaknya benar telah melakukan hal keju seperti itu. Ranty menyudahi kegiatannya di ruang kerja sang suami. Berniat kembali kerumah dan menemui suaminya. “Mas..” Seru Ranty dengan suara sedikit bergetar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN