8. Siasat Bunda Ranty

1153 Kata
Susilo yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan rutinitas mandi paginya melihat kedatangan istrinya. Istrinya tadi pamit keluar kamar untuk membangunkan Jasmine yang tadi malam menginap dirumah mereka. “Bagaimana kamu sudah bertemu dengan Jasmine? Dia baru saja mengirim pesan singkat, katanya izin untuk ditidak kekantor dan menemai Abi hari ini. Mendadak tak enak badan katanya.” Jelas Susilo. Sepertinya Ranty tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada Susilo saat ini. Ia akan mencari tahu dan memastikan sendiri terlebih dahulu. Suaminya jangan sampai tau, mengingat Susilo baru saja keluar dari rumah sakit. “Hmm, Sepertinya dia pulang pagi buta saat kita masih tidur mas. Mungkin merasa sungkan dan tidak ingin merepotkan kita.” Seru Ranty menggelengkan kepalanya ia masih berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya. “Hahh anak itu, Masih saja merasa sungkan. Kalau sakit disinikan banyak yang menemani, kamu juga jadi ada temannya.” Menghela nafas kasar. Susilo tau bagaimana perjuangan Jasmine demi keberlangsungan hidupnya sendiri. Makanya pria paruh baya tersebut sudah menganggap Jasmine seperti anaknya sendiri. Apalagi jika mengingat gadis itu sekarang tinggal seorang diri. Tapi Jasmine masih saja merasa sungkan dengan segala kebaikan yang Susilo dan Ranty berikan. “Mas.” “Kalau Jasmine jadi menantu kita bagaimana?” Tanya Ranty tiba-tiba. Susilo mengerutkan alisnya menatap kepada sang istri. “Kenapa tiba-tiba?” Jawab Susilo. “Ya tidak apa Tanya saja, menurutmu bagaimana?” “Nggak gimana-gimana. Malah bagus toh kita mengenal Jasmine sudah cukup lama. Anaknya baik santun cerdas mandiri cantik.” Jawab Susilo. Ranty yang mendengarkan jawabn suaminya tersenyum puas. “Sudah mandi sana! Sebentar lagi kita turun kebawah sarapan pagi.” Seru Susilo sambil menoel hidung mungil sang istri. Meskipun mereka sudah berumur tapi tidak menjadikan keromantisan mereka berdua meluntur. Kadang Ketika Jasmine melihat keromantisan tuan dan istrinya terbesit doa untuk bisa memiliki kisah cinta seperti Susilo dan Ranty yang tetap bisa berlaku manis dan romantis meski usia pernikahan mereka sudah puluhan tahun. Abi sudah berada di kursi makannya lebih dulu. Kedua orang tuanya sedang menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan. Abi tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya tersebut. “Pagi Yah, pagi Bun.” Sapa Abi kepada Susilo dan Ranty ketika keduanya telah sampai di meja makan. “Pagi son! Tumben pagi-pagi sudah rapi? Oh iya, Tadi Jasmine mengabari Ayah. Hari ini dia nggak ke kantor dan nggak bisa menemanimu, mendadak gak enak badan katanya.” Seru Susilo menjawab sapaan Abi dan memberi kabar tentang Jasmine yang tidak bisa menemani Abi untuk pengenalan kondisi di kantor. Abi yang mendengar nama Jasmine disebut terkejut bukan main, membuatnya terbatuk-batuk hingga merasakan nyeri dibagian d**a. Ranty yang melihat reaksi berlebihan sang anak semakin dibuat curiga. “Uhuk uhuk uhuk.” Abi mengambil gelas minum yang ada di depannya dan memukul dadanya pelan. “Kamu kenapa, Bi? Sampai segitunya batuk-batuk..” Tanya Ranty pura-pura bodoh sambil membantu Abi menepuk-nepuk punggung belakangnya pelan. Menelan salivanya kasar. “Nggak a-anu i-itu .. ehem keselek, Bun.”Jawab Abi berusaha menetralkan kegugupannya. Mata Abi memandang kesana kemari tidak jelas. Hatinya gelisah ketika mengingat bagaimana keadaan Jasmine sekarang. Wanita itu izin kepada Susilo dengan alasan tak enak badan. “Bagaimana kondisi Jasmine sekarang? Apa dia berusaha menghindar?” Tanya Abi dalam hatinya sendiri. “Karena hari ini Jasmine tidak hadir di kantor jadi ayah yang akan kesana. Kamu tetap mau ikut ayah atau bagaimana?” Susilo membuka suara di sela kegiatan sarapan paginya. Abi tidak langsung menjadi. Ia sedang menimbang sesuatu. “Sepertinya hari ini belum bisa, Yah. Ada yang perlu Abi urus. Abi sudah janji temu dengan teman.” Jawab Abi kemudian. Ia dia memang harus segera menemui Liam dan ingin memberi sedikit pelajaran kepada sahabatnya itu, karena kejadian tadi malam adalah akibat dari minuman yang dia berikan kepada Abi. “Aku juga sepertinya siang ini akan keluar, Mas. Ada arisan bersama teman-temanku. Aku izin sekarang ya.” Ucap Ranty menyentuh lembut tangan suaminya. Ia melihat ini kesempatan yang bagus untuk segera menemui Jasmine. “Iya sayangku, pergilah. As long as you happy.” Seru Susilo menoel hidung mungil sang istri yang seketika membuat wajah Ranty merona. “Ck! Sudah tua masih saja menggombal!” Abi sedikit mengejek tingkah laku ayahnya tersebut. “Makanya punya istri!” Sarkas Susilo. Yang mendapat delikkan mata dari Abis. ** Jasmine mengurung dirinya di dalam rumah, mengurung diri didalam kamar lebih tepatnya. Membungkus dirinya di dalam bedcover. Tak ada yang ia lakukan sedari tadi pagi selain menangis hingga tertidur, bangun lagi dan kembali menangis. Tak ada yang lebih sakit daripada ini. Selama ini tak ada yang benar-benar bisa membuat Jasmine rapuh selain karena kepergian kedua orang tuanya. Kejadian tadi malam sungguh mengguncang hebat psikis Jasmine. Apa yang harus Jasmine lakukan sekarang? Mencari keadilan? Apa akan ada yang percaya dengan nya bila ia menceritakan kepada Susilo dan Ranty bahwa anak mereka telah menodai seorang gadis?. Bagaimana jika mereka malah menuduh Jasmine Yang menggoda Abi dan makin menyudutkan dirinya? Mengingat mereka orang yang memiliki kekuasaan sangat mudah bagi mereka untuk memutar balikkan fakta. “Ambu tolong Jasmine. Ini sesak sekali , Ambu..” Isak Jasmine memukul dadanya kuat. Ranty yang sudah mendapatkan izin dari suami nya tergesa langsung pergi mendatangi rumah Jasmine. Wanita paruh baya itu telah sampai di halaman rumah Jasmine. Terlihat kondisinya yang sangat sunyi. Tanpa membuang waktu lagi Ranty langsung melangkah kakinya buru-buru agar segera bertemu dengan Jasmine. Ranty menggedor pintu rumah Jasmine kuat. “Jasmine, Jasmine ini saya Jasmine ibuk Ranty.” Seru Ranty sedikit mengeraskan suaranya agar Jasmine yang berada di dalam mendengar kedatangan dirinya. Jasmine yang mendengarkan suara orang memanggil namanya tersentak kaget ketika mengetahui wanita yang sedang berdiri di luar rumahnya itu adalah istri dari majikannya dan ibu dari pria yang sudah menodai Jasmine. Jasmine tidak langsung menjawab dan membukakan pintu. “Nak Jasmine, ibu tau kamu ada di dalam. Buka nak ada yang ingin ibu bicarakan.” Seru Ranty lembut berusaha untuk membujuk Jasmine. Ia sangat yakin bahwa Jasmine berada didalam rumah namun masih enggan untuk mempersilahkan dirinya menemui Jasmine. Setelah menimbang beberapa saat Jasmine akhirnya memilih untuk membuka pintu dengan keadaan dirinya yang sangat berantakkan. Ia tidak peduli dengan penampilan. Jika memang Ranty ingin membicarakan sesuatu kepadanya Jasmine juga akan memberitahu kepada Ranty apa yang telah anak laki-lakinya lakukan kepada Jasmine. Jasmine memegang tangkai pintu gemetar. Dengan isak tangis yang masih tersisa Jasmine menarik nafasnya panjang. Dengan penuh keyakinan ia buka pintu itu. “JASMINE! Astaga apa yang terjadi nak? Kamu kenapa Jasmine? Cerita sama ibu..”Ranty terkejut ketika pintu di depannya terbuka lebar dan memperlihatkan seorang wanita dengan penampilan yang sangat berantakan. Suara Ranty bergetar, entah kenapa dia merasa bersalah melihat keadaan Jasmine seperti ini. Entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa Abi yang mengakibatkan keadaan Jasmine seperti ini. Jasmine yang melihat reaksi Ranty seolah mendapatkan tempat untuk mengadu kembali menangis tersedu hingga tubuhnya jatuh terduduk dilantai. Dengan berlinang air mata Jasmine menatap istri majikannya, memejamkan mata kuat. “Kalau Jasmine cerita, apa ibu akan percaya sama saya?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN