Ranty ikut meneteskan air matanya melihat kondisi Jasmine. Ranty juga seorang wanita sekaligus seorang ibu, jadi Ranty paham dan ikut merasakan sakit yang Jasmine rasakan. Ranty menangkup wajah Jasmine dengan kedua tangannya, ia elus lembut pipi yang bahasa akibat dari derai air matanya. Ranty menganggukkan kepalanya pelan.
“Iya Ibu percaya sama Jasmine, Jasmine tidak sendirian, Nak. Ada Ibu, anggap Ibu sebagai Ibu mu juga.” Ujar Ranty lembut berusaha menenangkan Jasmine bahwa ia tak sendiri didunia ini. Ada Ranty yang berada disisi wanita ini.
Jasmine memejamkan matanya kuat. Sungguh mendengarkan penuturan dari Ranty membuatnya semakin tak berdaya. Jasmine semakin tertunduk dalam duduknya, tubuhnya bergetar hebat dengan air matanya juga melaju deras.
Ranty memeluk tubuh wanita dihadapannya ini kuat. Hatinya semakin sakit tatkala mendengar tangisan yang begitu pilu. “Tuhan! Apa yang telah dilakukan oleh anakku!” Batin Ranty.
“Jasmine, jangan khawatir. Ibu bersamamu, Nak!” Seru Ranty sambil terus memeluk tubuh Jasmine yang bergetar karena tangisannya. Ia elus lembut punggung wanita cantik ini.
Setelah merasa sedikit lebih tenang. Ranty membawa Jasmine untuk duduk di sofa ruang tamu yang ada di rumah Jasmine. Wanita paruh baya itu juga mengambilkan segelas air minum agar Jasmine merasa sedikit rilex. Ranty elus lembut kepala Jasmine, dan menggenggam jemari yang masih menyisakan gemetar itu.
“Cerita sama Ibu, pelan-pelan saja.” Ucap Ranty lembut tanpa menghentikan sentuhan halusnya di atas punggung tangan Jasmine.
Jasmine menatap mata Ranty. Lagi-lagi mata itu tidak bisa menahan air matanya. Jasmine memejamkan matanya sambil mengatur ritme nafasnya.
“S-sa-saaya-aa..” Suara Jasmine bergetar hebat. Sungguh berat untuknya jika disuruh kembali mengingat malam naas itu. Hatinya sakit. Sangat hancur. Kejadian tadi malam sungguh membuatnya tak berdaya.
Jasmine menggigit bibir bawahnya kuat untuk menyalurkan rasa sakit itu. Bibirnya kelu hanya untuk sekedar berucap. Mulutnya bergetar hebat, Jasmine mengepalkan tangannya kuat yang masih berada di genggaman Ranty. Jasmine menundukkan kepalanya menarik nafas dalam.
“S-saya di-i...Perkosa oleh pak Abi!” Seru Jasmine kembali menangis tertunduk. Dia sangat siap jika Ranty yang merupakan ibu dari Abi sendiri tidak mempercayai pengakuannya tadi. Dan jika hal itu terjadi Jasmine juga harus meninggalkan tempat ini dan pergi sejauh mungkin untuk menyembuhkan lukanya, meskipun itu tidak gampang.
Meskipun Ranty sudah menduga apa yang terjadi sebenarnya, namun saat kebenaran itu terucap dari bibir Jasmine langsung nyatanya hatinya tak benar-benar siap menerima kenyataan bahwa sang anak telah melakukan hal yang sangat keji. Ranty merasa gagal menjadi seorang ibu, karena tidak benar-benar bisa mendidik anak laki-lakinya dengan baik. Ranty meraih tubuh lemah gadis dihadapannya ini. Ia bawa ke dalam pelukannya. Ranty peluk erat-erat tubuh yang kembali bergetar hebat akibat pecahnya tangisan itu. Ranty pun ikut merasakan kesedihan yang Jasmine rasakan.
“Maafkan anak Ibu Jasmine.. maafkan anak Ibu, Ibu minta maaf atas nama Abi... anak Ibu sudah melakukan..” Ranty tak mampu melanjutkan kalimatnya ia ikut menangis tersedu-sedu mengingat betapa bejatnya sang anak! Apa yang ada dipikiran Abi sampai bisa melakukan hal laknat itu terhadap Jasmine! Apa selama ini tanpa sepengetahuan Ranty dan Susilo anak mereka itu memiliki kehidupan yang sangat bebas di LA.
Jasmine hanya mampu menggelengkan kepalanya yang masih berada didalam pelukkan Ranty. Gelengan tersebut sebenarnya Jasmine tujukan untuk Ranty yang meminta maaf kepadanya. Seharusnya bukan wanita paruh baya ini yang meminta maaf, tapi pria b***t itulah yang meminta maaf padanya. Bukan Ranty!
Jasmine mengangkat kepalanya menatap mata Ranty yang juga sudah basah oleh air mata sama seperti dirinya.
“Bukaann... Bukan ibu yang harus minta maaf ke Jasmine.” Seru Jasmine di dalam tangisannya, wanita itu menatap sedih kepada Ranty sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ranty tak mampu lagi bersuara ia hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ranty sangat merasa bersalah kepada Jasmine, Ranty juga ikut andil atas apa yang menimpa gadis ini. Kalau saja malam itu Ranty tak memaksakan Jasmine untuk bermalam di rumahnya mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Ranty menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Jasmine.
“Ibu, pastikan Abi akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan terhadapmu, Jasmine. Percaya sama saya.” Ucapan Ranty serius menggenggam tangan Jasmine kuat. Ranty harus segera mengambil langkah cepat dan memberitahu kepada sang suami tentang kejadian ini. Abi harus bertanggung jawab. Ranty tidak ingin hasil dari perbuatannya ini sesuatu yang lebih fatal lagi.
Jasmine menatap wajah serius Ranty. Tidak! Tidak! dia tidak mau! Jasmine mengerti kemana arah pembicaraan ini. Demi tuhan Jasmine tidak ingin Abi bertanggung jawab dengan menikahinya. Dia disini korban lantas kenapa malah dinikahkan dengan pelaku yang sudah memperkosa dirinya. Jasmine hanya butuh keadilan!.
Jasmine menggelengkan kepalanya kuat.
“S-aaya-a..”
“Kamu tidak perlu khawatir, Jasmine. Saya yang akan menjamin Abi untuk bertanggung jawab sama kamu nak. Abi harus menikahimu secepatnya!” Belum sempat Jasmine menyelesaikan kalimatnya Ranty langsung memotong pembicaraan Jasmine.
Jasmine menyentak tangannya kuat dari genggaman Ranty. nafasnya mendadak terengah-engah.
“Nggak Bu! Jangan paksa saya untuk menikah dengan pelaku yang sudah merusak kehormatan saya! Saya nggak mau dan saya tidak bisa!” Seru Jasmine penuh penekanan menggelengkan kepalanya kuat, ia hapus kasar air mata yang sedari tadi tak berhenti mengalir.
Sontak Ranty terkejut dengan respon Jasmine. Ranty paham wanita di depannya ini masih dalam kondisi yang sangat terguncang. Jasmine berdiri duduknya. Nafasnya mendadak terengah-engah akibat gejolak emosi.
“Sekarang Ibu, boleh keluar dari sini. Saya kira tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.” Ujar Sekar sambil menunjuk tangannya ke arah pintu.
“Nak Jasmine...” Ranty berusaha meraih tangan Jasmine namun segera ditepis oleh wanita itu.
“Dengan segala hormat saya mohon, Bu..” Jasmine menatap Ranty serius.
“Jasmine, dengar Nak. Kamu dan Abi harus segera menikah. Bagaimana... bagaimana kalau nanti kamu hamil, Jasmine..” Ucap Ranty pelan. Ini yang ditakutkannya. Bagaimana nanti kalau Jasmine sampai mengandung buah hati Abi yang tak lain adalah calon cucunya sendiri.
Jasmine seketika membeku melebarkan matanya. Menggelengkan kepalanya kuat.
“Nggak mungkin! Saya tidak hamil dan saya tidak mungkin hamil! saya minta tolong hentikan semua omong kosong ini. Ibu Ranty boleh pulang sekarang!” Tegas Jasmine menunjukkan jarinya ke pintu yang berada tepat di sampingnya.
Ranty memilih untuk mengalah pergi dari rumah Jasmine. Tapi wanita itu tidak akan menuruti permintaan Jasmine untuk tidak menikahkan Abi dengan Jasmine. Untuk sekarang Ranty memberikan Jasmine waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Baiklah. Ibuk paham, kamu masih dalam perasaan yang kalut dan terpuruk, Jasmine. Ibuk akan balik lagi kemari besok, kamu baik-baik ya, Nak.” Seru Ranty lembut mengelus sayang pipi Jasmine sebelum wanita paruh baya itu benar-benar meninggalkan rumah Jasmine.
Jasmine tidak merespon. Bahkan wanita ini juga tidak melihat ke arah Ranty. Bahkan disaat Ranty mulai berjalan jauh menghampiri mobilnya yang terparkir di luar pagar tak dipedulikan. Ketika wanita paruh baya itu sudah benar-benar hilang dari pandangannya Jasmine segera mengunci pintu rumah.
“Nggak. Aku nggak mau dinikahkan dengan lelaki itu! Aku nggak mau! Demi tuhan aku nggak mau..” Tangis itu kembali pecah. Tubuh Jasmine luruh diatas lantai ia memukul dadanya kuat. Hatinya terasa sakit sesak bukan main. Bukan tanggung jawab dalam bentuk pernikahan yang Jasmine inginkan. Jasmine hanya butuh keadilan! Adi harus diadili seadil-adilnya.
“Disini aku yang korban! Kenapa aku diharuskan menikah dengan pelaku yang sudah merusak kehormatanku! DIA SUDAH MERUSAK HARGA DIRIKU AAARRGGHHHH!!” Jasmine berteriak dalam isak tangisnya.
“Kenapa dunia ini tidak adil tuhan!” Gumama Jasmine dalam hatinya.
Jasmine menghentikan tangisnya. Ia hapus kasar air mata itu. Jasmine teringat sesuatu.
“Aku harus pergi dari sini. Mereka tidak bisa menikahkan aku dengan laki-laki b3rengsek itu! Tidak akan pernah!”
***