10. Aarrghhhh

1335 Kata
Jasmine segera bergegas mengemasi beberapa barangnya yang akan ia bawa. Besok pagi-pagi sekali Jasmine berencana meninggalkan rumahnya, Jasmine harus segera pergi dari rumah itu sebelum Ranty kembali menemuinya. Meskipun terasa berat ketika memutuskan untuk meninggalkan harta peninggalan orang tuanya satu-satunya. Apalagi di rumah ini banyak sekali kenangan momen terindah dalam keluarga mereka. Namun Jasmine tak punya pilihan lain, untuk sementara biarlah ia pergi jauh terlebih dahulu. Jika suatu saat nanti memungkinkan dia pasti akan kembali kerumah ini. Maka itu, untuk malam ini Jasmine akan menghabiskan malam terakhirnya di rumah yang sudah 27 tahun ia tempati bersama Bapak dan Ambunya sebelum pada akhirnya mereka berdua meninggalkan Jasmine selamanya seorang diri. Disisi lain. Abi yang baru saja pulang dari luar langsung menuju ke ruang kerja sang ayah. Pasalnya Susilo sudah menghubungi nya dari 1 jam yang lalu, pria paruh baya tersebut menyuruh Abi untuk segera pulang karena ada hal penting yang ingin disampaikan oleh sang ayah. Abi memasuki ruangan tersebut. Terlihat ada sang bunda yang turun menemani ayahnya. Suasana di ruangan itu terasa mencekam. Abi mengernyitkan alisnya. “Ayah, bunda.” Sapa Abi menghampiri Ranty dan Susilo yang berada di sofa. Abi memperhatikan kedua orang tuanya yang terlihat sedikit aneh. Buughhh!! “MAS!” Teriak Ranty menahan badan Susilo yang akan melayangkan pukulan keduanya. Sementara Abi yang tidak siap dengan pukulan yang datang dari Susilo sedikit terhuyung ke belakang. Kepalanya terasa sedikit pusing, ia merasakan bau anyir di sudut bibirnya. “KEPAR4T!!” Teriak Susilo menggelegar. Emosinya sudah sampai puncak. Susilo sudah mendengarkan semua cerita Ranty. Dia sudah mengetahui kelakuan apa yang telah anaknya perbuat kepada Jasmine. “Mas! Sabar dulu, nanti jantungnya sakit lagi mas.” Seru Ranty yang tidak bisa menutupi kekhawatirannya. seolah menulikan telinganya Susilo melepas cekalan sang istri dan menarik kerah baju Abi kasar. “Apa yang telah kau perbuat terhadap, Jasmine?” Tanya Susilo penuh penekanan, matanya menatap tajam ke arah Abi. Abi yang sedari tadi mengalihkan pandangannya seketika itu juga langsung menatap kaget kepada Susilo. Ayahnya mengetahui hal itu? Apa Jasmine mengadukan kejadian tadi malam kepada kedua orang tuanya. Buughhh!! Pukulan kedua mengenai pipi kiri Abi, hingga mengakibatkan pria itu jatuh tersungkur. Abi memejamkan mata bibirnya terasa perih, meski sudah berumur hampir 60 tahun ternyata kekuatan fisik Susilo tidak bisa diremehkan. “Mas, sudah. Kumohon sudah, Mas. Kita bisa cari solusinya!” Ranty berusaha menjauhkan sang suami dari Abi. Ia tak mau anaknya itu berakhir babak belur meski disini Abi lah yang salah. “Apa dia mengadu?” Tanya Abi santai sambil berusaha berdiri. Menatap ke arah kearah Susilo dan Ranty bergantian. Seolah tidak ada masalah yang serius sedang terjadi. Tidak, sebenarnya Abi pun sudah merasa takut sejak kejadian itu terjadi. Abi hanya berusaha tenang. “KAU BENAR-BENAR!!” Susilo ingin memberikan Abi sebuah pukulan lagi namun sayang tubuhnya sudah ditahan oleh Ranty. “MAS!” “Abi, duduk!” Bentak Ranty. Ranty juga tak habis pikir melihat anaknya yang terkesan santai. Bahkan pria 35 tahun ini sekarang hanya menatap sang bunda. “Bunda bilang duduk, duduk, Abi!!” Ranty juga sudah mulai kehilangan kesabarannya. Abi memilih menuruti keinginan bundanya. Memijat pangkal hidungnya terasa nyeri. “Bunda dan Ayahmu sudah mengetahui semuanya. Apa yang kamu lakukan itu adalah tindakan tidak terpuji, Abi! Bagaimana bisa seorang lulusan Stanford University melakukan hal yang sangat memalukan seperti itu! Bunda kecewa sama kamu!” Seru Ranty dengan suara yang bergetar dan mata yang sudah siap menumpahkan isinya. Abi menatap nanar kepada sang bunda. Abi mengaku salah. Ia sudah salah menjadikan Jasmine tempat pelampiasan nafsunya. Tapi Abi juga tidak bisa menahannya lantaran Abi berada dibawah pengaruh obat perangsang yang tercampur dalam minuman alkohol yang dia minum. Iya setelah bertemu dengan Liam, Abi mengetahui bahwa sebenarnya minuman yang Abi minum bukan untuk Abi. Liam salah memberikan gelas yang seharusnya ia berikan kepada Gilang, bukan untuk Abi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Abi sudah merusak mahkota berharga milik Jasmine dan sekarang kedua orang tuanya sudah mengetahui perbuatan bejatnya. “Bunda, Abi khilaf. Abi mengaku salah, Bun. Abi minta maaf.” Ucap Abi memohon bersimpuh dikaki ibundanya. “Harusnya permintaan maaf itu kau ucapkan kepada Jasmine. Bukan kepada bundamu!” Sela Susilo. Abi menatap sang ayah, ia tak bisa berucap apa-apa. “Kamu harus bertanggung jawab, Bi. Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu kepada Jasmine. Kasihan Jasmine, dia tidak memiliki siapapun lagi didunia ini. Tapi dengan teganya kamu..” Ranty tak sanggup melanjutkan kalimatnya air mata yang sedari menggenang di pelupuk mata kini akhirnya tumpah juga. “Bunda, merasa bersalah kepada Jasmine.” Lanjut Ranty dalam tangisannya. “Kamu tidak bersalah, Ranty. Anakmulah yang salah disini!” Ucap Susilo menatap tajam kearah Abi. “Kau, harus bertanggung jawab! Jemput Jasmine besok pagi. Pernikahan kalian harus segera dilaksanakan. Ayah sudah cukup menanggung malu atas kelakuanmu! Jasmine selama ini begitu berjasa kepada Ayah! Dengan tak punya hatinya kamu merusak wanita tak bersalah itu!” Telak Susilo dengan keputusannya yang sudah bulat. Abi tersentak mendengar pernyataan sang ayah. Berdiri dari simpuhnya dan menatap lurus kepada Susilo. “Nggak.” Seru Abi menggelengkan kepala. “Abi Tidak bisa menikahi Jasmine, Ayah! Abi akan lakukan apapun yang Ayah minta tapi tidak dengan menikahi perempuan itu!” Lanjut Abi. Susilo meradang mendengar ucapan Abi. Sedang Ranty terperangah melihat anak semata wayangnya berucap sedemikian rupa. Dosa apa Ranty sampai-sampai tuhan memberinya kejutan tiada akhir seperti ini. Susilo kembali meraih kerah baju Abi, jika diingat pria di depannya ini bukanlah anak kandungnya sendiri mungkin Abi sudah berakhir di rumah sakit dengan keadaan yang mengenaskan. Ranty juga sudah tidak bisa menghentikan apa yang ingin dilakukan suaminya, ia pasrah. “KAU!!” “Nikahi jasmine atau bersiaplah menjadi gelandangan seumur hidupmu!” Susilo mengeluarkan ultimatumnya telak kepada Abi. Ia hempaskan tubuh sang anak hingga jatuh ke lantai. Keputusannya sudah bulat Abi dan Jasmine harus dinikahkan sebelum ada nyawa lain yang tumbuh di rahim wanita itu. Susilo pergi meninggalkan ruang kerjanya yang tak lama disusul oleh Ranty. “Bunda, kecewa sama kamu, Bi.” Seru Ranty melewat Abi menatap nanar kepada sang anak. “Bun!” “Aarghhh sial!” Teriak Abi ketika ditinggalkan seorang diri diruangan itu. ** Sialnya pagi ini Jasmine bangun kesiangan. Mungkin ia terlalu lelah setelah menangis sepanjang hari. Setelah membersihkan badan nya cepat ia bergegas membawa tas dan koper kecil yang akan menemani kepergianmu. Jasmine sempat melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Jasmine harus bergerak secepat mungkin. Jasmine juga sudah memesan taxi online yang akan menjemputnya. Saat ini Abi, Ranty dan Susilo mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Jasmine. Akhirnya Abi mengalah dan menuruti keinginan kedua orang tuanya untuk ikut serta menemui dan segera membawa Jasmine kediaman Susilo. Disaat yang bersamaan ketika mobil yang dikendarai Abi sedikit lagi sampai didepan pagar rumah Jasmine pria itu melihat seorang wanita yang sedang berusaha mengunci pagar dan terlihat ada koper di samping wanita itu. Tak berselang lama ada mobil yang menyelinap mobil mereka dan berhenti tepat di depan pekarangan rumah Jasmine. “Loh! Mas, itu Jasmine. Jangan-jangan dia mau pergi mas. Abi, berhenti cepat kejar Jasmine sebelum dia pergi, Bi!” Seru Ranty panik ketika dia menyadari wanita yang berdiri tak jauh dari mobilnya ini adalah Jasmine. “Abi, berhenti! Cepat kejar Jasmine!” Bentak Susilo. Saat Jasmine sudah memastikan pagar rumahnya terkunci dengan benar dan taxi online yang dipesannya juga sudah datang. Tak jauh dari tempatnya berdiri Jasmine memperhatikan mobil mewah yang tiba-tiba berhenti. Jantung Jasmine berdetak lebih kencang kala mengetahui kepemilikan mobil tersebut, karena Jasmine sangat hafal betul itu mobil siapa dan didukung dengan sosok yang baru saja keluar dari mobil tersebut. Jantung Jasmine berdetak lebih cepat, tangannya bergetar hebat saat hendak memasukkan kunci pagar ke dalam tasnya. Buru-buru ia raih kopernya cepat. “Pak, buruan buka bagasinya!” Teriak Jasmine kepada sopir taxi yang masih berada didalam mobil. “Iya Non, sebentar pintu bagasinya sedikit macet, maaf ya, Non.” Jelas sang sopir. Jasmine semakin tak tenang. Dadanya tiba-tiba terasa sakit akibat perasaan adrenalin yang ia rasakan. “JASMINE!” Teriak suara bariton itu yang langkahnya semakin mendekati Jasmine. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN