Deadline - 24

1967 Kata

Alya mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa berdenyut, matanya panas sekali. Ia hendak bangkit dari tidurnya, namun tangannya tertahan oleh sesuatu. Alya menoleh. Ia bisa melihat Deva yang tertidur sambil memegang tangannya. Gadis itu menghela napas. Alih-alih bangun, ia justru memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Deva. Pria itu memegang tangan Alya begitu erat, seolah takut Alya akan hilang. "Kenapa harus saya?" gumam Alya, nyaris tak bersuara. "Kenapa Pak Deva mencintai saya? Dibandingkan saya ... Pak Deva pantas dapat yang lebih baik." Alya memejamkan matanya. Setetes cairan bening kini mengalir tanda bahwa hatinya begitu sakit. Ya ... Sakit sekali. "Mungkin benar, saya punya perasaan yang sama. Tapi ketakutan saya lebih besar. Saya ragu ... kalau nyatanya saya gak pantas untuk Pak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN