"Nih, nomernya." Rudra segera menyalin nomor ponsel yang Tama berikan. Sebenarnya, Tama sudah mendapatkan nomor itu semenjak Tama menyebutkan nama psikiater terbaik yang tinggal dekat dengan mereka. Hanya saja, Rudra belum memutuskan akan menghubungi psikiater yang mana sehingga ia belum menyimpan nomor ponsel dari psikiater rekomendasi Tama. "Gue hubungi sekarang, nih?" tanya Rudra. "Ya iyalah. Buruan." Rudra mulai menelpon nomor tersebut. Ia berharap yang ia telepon sedang tidak dalam keadaan sibuk sehingga bisa mengangkat panggilan darinya. "Nggak diangkat." "Coba lagi." Tama menyarankan. Ini baru panggilan pertama. Apa salahnya mencoba lagi. Rudra menempelkan ponsel di telinganya. Mencoba peruntungan dengan melakukan panggilan kedua. "Nggak d

