12. Pertemuan

1008 Kata
~Kadang, menjawab 'Ya' atau 'Tidak' itu pilihan yang sulit~ Pagi kembali menyapa. Osya pun kembali pada aktivitasnya mengajar di TK Semesta. Gadis kecil bernama Ana yang awalnya selalu pasif sudah mulai bertambah kepercayaan dirinya. Ia kini bahkan sudah mau bermain dengan teman-teman kelas Mentari. Perkembangan yang sangat melegakan bagi sang guru. Siang itu Osya menemani Ana menunggu nenek yang biasanya menjemput. Gadis kecil itu tentu saja senang duduk ditemani guru kesayangan yang selalu membantu menguarkan hatinya. "Bu Ocha. Apa Nenek belum sembuh, ya?" tanya Ana sembari menatap pintu gerbang dengan tatapan sedih yang polos. Anak-anak lain sudah pulang bersama orang tua mereka. Kini hanya tertinggal Ana dan para guru. "Lho? Memangnya Neneknya Ana sakit?" tanya Osya sedikit kaget. "Iya. Kemarin Nenek sakit, Bu. Nggak tahu sekarang bisa jemput apa nggak," keluh Ana sedih. "Ya sudah. Apa mau Bu Osya antar pulang?" tawar wanita itu dengan perhatian. "Emmm. Bentar deh, Bu. Kalau Nenek nggak jemput Ana, berarti Ayah yang jemput Ana," ujar anak kecil itu. "Oh gitu. Ya sudah Ibu temani sampai dijemput Ayah kamu. Kalau sampai siang belum datang, baru Bu Osya antar Ana pulang, ya?" bujuk wanita itu. "Iya, Bu." Ana mengangguk setuju. Tepat pukul dua belas siang, sebuah motor bebek berhenti di depan gerbang bersama sang pengendara. Seorang pria turun dari motor itu dan langsung melepas helmnya. Dia mencari keberadaan putri kecilnya. "Ayah!" seru Ana saat melihat pria itu turun dari motor bebeknya. "Oh. Itu Ayahnya Ana?" tanya Osya ikut menatap ke arah gerbang. "Iya." Ana mengangguk mengiyakan. "Ya sudah. Sana. Hati-hati di jalan ya, Nduk," ujar wanita itu saat sang murid hendak mencium punggung tangannya. Ana segera berlari menghampiri sang ayah. "Ayah kok lama?" protes gadis kecil itu dengan ekspresi lucu. "Maaf. Barusan cafe rame banget. Jadi, ayah telat jemputnya," balas sang ayah sembari tersenyum. "Oh iya, Yah. Ayah sini dulu deh! Ana kenalin Ayah sama Bu Ocha," ucap Ana dengan antusias. Tangan kecilnya menarik lengan sang ayah memasuki pintu gerbang TK. Osya yang sadar Ana tengah menarik ayahnya pun menoleh menatap kedua orang itu. Ana dengan berlari-lari kecil membawa sang ayah ke hadapan gurunya. Dari jarak yang sedekat itu, pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut langsung bisa mengenali wanita di hadapannya. Wanita yang pernah ia selamatkan tempo hari dari dua preman yang hendak melec.ehkannya. "Nah, Yah. Ini Bu Ocha yang sering Ana ceritakan ke Ayah. Cantik, kan?" tanya sang anak. Menatap wajah ayahnya. Pria itu hanya terdiam dan mencoba tersenyum ramah. "Siang, Pak," sapa Osya sembari tersenyum sopan. Wanita itu tengah menganalisis pria di depannya. Motor dan helm yang ia kenakan sama dengan pria yang menolongnya. Hanya saja, Osya ragu untuk bertanya padanya. Takut jika ia salah orang. Toh. Pria penolongnya memakai masker. Jadi, ia tak tahu wajahnya. "Selamat siang, Bu. Maaf saya telat menjemput anak saya," tutur pria itu. "Tidak apa-apa, Pak." "Oh iya. Ayah harus kenalan dong sama Bu Ocha!" pinta gadis kecil itu sembari masih menarik-narik tangan ayahnya. Sang ayah melirik putri kecilnya itu. Lalu beralih menatap wanita di depannya. Tangan kanannya ia ajukan untuk berjabat tangan. "Saya Arif, ayahnya Ana," tutur pria itu memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah. Osya membalas tersenyum ramah padanya. Wanita itu kemudian menelangkupkan kedua tangannya di depan d**a. "Saya Osyana, guru sementara di TK Semesta," balas Osya tak kalah ramah. Arif menarik tangan kanannya. Sedikit kikuk. Akan tetapi ia paham dengan situasinya. Pria itu pun ikut tersenyum agar tidak canggung. "Emmm. Saya berterima kasih pada Bu Osya karena sudah mau menemani anak saya." Arif berkata sembari menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Osya melihat ada luka pada buku tangan kanan pria itu. Namun, ia hanya diam. Tak berani menanyakannya. "Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi kewajiban saya," balas Osya. "Oh iya. Kata Ana, Bu Rinah sedang sakit ya, Pak? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Osya khawatir. "Alhamdulillah sudah sedikit membaik. Ibu saya cuma masuk angin kok, Bu. Mungkin karena kecapekan," jawab Arif. "Oh begitu. Semoga lekas sembuh ya," balas Osya. "Amiin. Makasih, Bu. Oh iya. Kalau begitu kami mau pamit dulu, Bu," ucap Arif mengundurkan diri. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan ya, Nduk," balas Osya sembari mengelus kepala gadis kecil itu. "Iya, Bu Ocha. Assalamu'alaikum," ucap Ana dengan senyum ceria. Arif dan Ana pergi meninggalkan TK Semesta. Pria itu segera mengendarai motornya dengan sang anak yang duduk di depan. Ana melambaikan tangan pada gurunya. Osya pun membalas lambain tangan itu. Motor bebek tersebut meninggalkan gerbang TK. "Ayah," panggil Ana. "Hm?" "Gimana? Bu Ocha cantik, kan?" tanya Ana tiba-tiba dalam perjalanan pulang mereka. "Iya cantik," jawab Arif membuat sang anak memasang wajah berbinar karena mendengar pujian itu untuk guru kesayangannya. "Bener, kan? Bu Ocha memang cantik. Baik lagi. Kaya bidadari." Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Andai saja Ana masih punya bunda. Pasti Ana akan sangat senang," gumam Ana yang masih terdengar di telinga sang ayah. Arif langsung terenyuh mendengar harapan sang anak. Ia juga teringat dengan nasihat ibunya untuk segera mencarikan ibu untuk Ana. Akan tetapi, hal itu tak mudah bagi sang duda. "Yah?" panggil gadis kecil itu lagi. Kali ini ia mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang ayah. "Ya? Kenapa?" tanya Arif masih fokus menyetir. "Kalau seandainya Ayah cari bunda pengganti buat Ana ... Ana pengennya bunda Ana nanti sama kaya Bu Ocha. Yang baik dan sayang sama anak-anak. Sayang sama Ana juga," tutur gadis kecil itu masih menatap wajah sang ayah penuh harap. Mendengar permintaan dan harapan dari putri kesayangannya membuat Arif tersentak. Bagaimana bisa anaknya yang bahkan sebelumnya tak pernah menginginkan dirinya untuk menikah lagi, kini memintanya untuk mencari pengganti? Padahal biasanya Ana hanya mengungkapkan kerinduannya pada sang ibu yang telah lama tiada. Tak pernah meminta pengganti. "Ayah kok diem aja?" tanya Ana heran dengan wajah polosnya. Arif tersenyum tanpa menatap sang anak. "Ana berdoa saja, ya," ucap Arif mencoba menenangkan sang putri. Mencoba menghindari jawaban 'Ya' atau 'Tidak'. "Baik. Ana akan berdoa biar segera punya bunda yang baik," ujar Ana menurut. Setelah percakapan ayah dan anak tersebut, keduanya sama-sama diam. Ana terus memikirkan harapannya agar terkabul. Sedangkan sang ayah menjadi gamang. Memikirkan bagaimana tak mengecewakan putri kesayangannya. ***bersambung***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN