~Karena bukan perkara mudah membuka lembaran baru dengan orang baru~
Minggu pagi aku berencana untuk pergi ke cafe milikku. Semalam aku sudah membeli aksesoris untuk mendekor ulang tempat kerjaku. Sebenarnya aku baru memulai usaha cafe ini. Menjual crepe beraneka rasa dan minuman kekinian. Cafe ini juga baru ku rintis sejak setahun yang lalu. Setelah kontrak kerjaku di pabrik onderdil motor sudah habis.
Cafe ini pun aku bangun dari hasil kerja kerasku selama bekerja di pabrik. Setidaknya aku ingin punya pegangan untuk menafkahi ibu dan anak kesayanganku di rumah. Aku sebelumnya sempat terpuruk karena kepergian istri tercinta, Ana Santika, untuk selama lamanya. Dia meninggal sesaat setelah melahirkan Anaya, anak pertama kami. Wajahnya waktu itu terlihat begitu bahagia saat melihat wajah Anaya untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
"Mas! Ini ditaruh di mana?" tanya Mahmud, satu-satunya pekerja di cafe ini.
Remaja laki-laki berusia sembilan belas tahun itu menyadarkanku dari lamunan masa lalu. Ku lihat Mahmud sedang membawa stiker warna-warni yang baru ku beli.
"Tempel di sana aja, Mud!" jawabku memberikan arahan dengan menunjuk sisi tembok yang ku maksud.
"Oke. Siap, Mas Bos!" kelakarnya dengan sikap hormat.
"Kau ini ada-ada aja."
"Tapi kan memang bener Mas Arif itu bos di cafe ini," ucapnya.
"Dahlah. Sana tepelin!" balasku ikut tertawa kecil.
Setelah semua dekorasi selesai kami tata dengan rapi, yah meski hanya berupa stiker berbentuk tulisan warna-warni supaya jadi lebih estetik saja cafe kecil ini. Tujuannya agar para pelanggan betah dan nyaman di tempat ini, menghabiskan uang mereka untuk membeli menu-menu yang telah disediakan. Terutama para anak muda.
Hari Senin akan kubuka cafeku lagi. Ya. Cafe ini buka setiap hari Senin sampai Sabtu. Hari Minggu sengaja aku libur karena ingin beristirahat. Toh. Biasanya pembelinya kebanyakan dari kalangan anak sekolah dan karyawan di sekitarnya.
Pukul sembilan pagi cafe kecil ini telah dibuka. Biasanya akan ramai ketika masuk jam istirahat makan siang. Kebanyakan dari pelanggan membeli crepe untuk dimakan di tempat. Jarang sekali mereka membawanya pulang.
"Wah. Dekorasinya baru, Bang!" ujar seorang siswi SMA yang sedang menikmati waktu istirahatnya. Dia datang bersama dua siswi lainnya.
"Iya," jawabku. Tak lupa dengan senyuman ramah agar mereka tidak kabur ketakutan. Beruntung orang-orang di tempat baruku ini tak tahu jati diriku yang dulu sebagai mantan berandal waktu masih sekolah.
"Bang. Pesen crepe stroberi satu sama es cappuccino satu, ya!"
"Oke."
"Aku sama crepe stroberi tapi minumnya es cokelat aja, Bang!"
"Noted. Kalau kamu?"
"Aku crepe cokelat pisang sama cappucino. Tapi dibuatnya dengan penuh cinta ya, Bang!"
"Masih bocah kok doyan ngegombal," ejekku yang malah membuat mereka tertawa senang.
Setelah mencatat keinginan mereka, aku segera membuatkan pesanan itu bersama Mahmud. Heran saja, dia selalu tertawa senang ketika aku digoda anak-anak remaja labil itu.
"Duh. Abang-abangan," ejeknya.
"Cerewet kau, Mud. Nih buatin minumannya kalau yang itu udah selesai! Aku mau buat crepe pesanan mereka dulu," titahku.
"Oke, Bos."
"Bas bos bas bos."
Setelah pesanan selesai dibuat, Mahmud menyajikannya ke pelanggan.
"Yah. Kok bukan Bang Arif sih yang nganter?" tanya mereka kecewa. Sudah kuduga.
"Memangnya kenapa kalau aku yang nganter?" tanya Mahmud kesal.
"Ih. Kita kan mau lihat Bang Arif dari deket."
"Emangnya kenapa? Lihat aku kan sama aja," balas Mahmud lagi dengan percaya diri.
"Beda lah. Kan Bang Arif gantengnya kelewatan," ucap salah satu siswi SMA itu.
"Wah. Rasis," sungut Mahmud.
"Bukan rasis ya Bang Mahmud."
"Terus apaan?"
"Mata kita yang normal, Bang. Lihat yang bening biar tambah bening," kelakar remaja itu. Membuatku menggelengkan kepala.
"Idih," ucap Mahmud sembari berjalan kembali menghampiriku.
"Kenapa?" tanyaku dengan sengaja.
"Tuh mereka. Sukanya beda-bedain aku sama Mas Bos," sungutnya.
"Dahlah, Mud. Jangan terlalu dipikirin," hiburku.
"Iya, Bos. Canda juga."
Mungkin ketiga remaja itu belum tahu statusku yang sebenarnya. Jika mereka tahu aku duda beranak satu, entah bagaimana respon mereka. Sebenarnya aku ingin menjelaskannya, tapi kurasa itu bukanlah sesuatu yang harus aku umumkan pada banyak orang. Biarkan mereka tahu sendiri. Karena pernah sekali aku mengatakan diriku duda beranak satu, mereka malah tertawa. Tak heran sih. Usiaku baru dua puluh delapan tahun. Usia matang yang seharusnya mulai menjalani bahtera rumah tangga.
Beberapa menit kemudian, cafe kembali kedatangan pengunjung. Semakin siang maka pengunjung semakin banyak. Hal ini karena ada karyawan juga yang datang. Bahkan ada siswi SMP juga yang mampir untuk sekedar nongkrong dan beli minum.
"Mas Bos. Apa Mas Bos nggak mau nambah karyawan lagi?" tanya Mahmud di sela-sela istirahat. Ketika pengunjung masih tertinggal beberapa orang saja.
Aku yang sedang membersihkan tempat crepe menoleh menatapnya.
"Nggak, Mud. Lagian pelanggan kita juga masih itu-itu aja," jawabku sembari tersenyum.
"Oke. Pertanyaan lain. Apa Mas Bos nggak ingin nikah lagi? Siapa tahu nanti beban Mas Bos sedikit berkurang karena ada istri yang membantu?" tanya Mahmud menatapku dengan serius. Pertanyaan yang hampir sering ia ucapkan padaku.
"Aku belum ingin," jawabku.
"Duh, Bos. Jangan terlalu terpuruk dengan masa lalu. Mas Bos juga harus mulai lembaran baru. Lagi pula Mbak Ana sudah meninggal enam tahun yang lalu."
"Nggak semudah itu, Mud. Lagian aku masih punya Ana sama Ibu. Aku baik-baik saja kok."
"Mas Bos, Mas Bos." Mahmud berujar sembari menggelengkan kepalanya.
Memang sulit bagiku melupakan Ana, istriku. Oleh karena itulah aku menamai anak pertama kami dengan mengambil dari nama ibu kandungnya. Aku ingin tetap mengingat istriku. Mengingat saat kami berpacaran dulu sewaktu masih bekerja di pabrik yang sama. Mengingat saat aku berjanji akan menikahinya. Dan akhirnya aku dapat membuktikannya ketika kami sama-sama berusia dua puluh satu tahun. Ya. Saat usia kami akan memasuki usia dewasa. Bukan. Lebih tepatnya perpindahan dari masa remaja ke dewasa. Yang seharusnya perjalanan hidup kami masih panjang. Seharusnya.
Meski awalnya sulit, kami tetap mencoba menjalani kehidupan rumah tangga kami. Tinggal di sebuah kontrakan sederhana dan bekerja pagi pulang petang. Hal itu karena kami ingin yang terbaik untuk buah hati kami.
Barulah ketika Ana meninggalkanku untuk selama-lamanya, aku mencoba menjalani kehidupan sebagai seorang ayah dan ibu untuk Anaya. Ibuku yang tak tega melihatku berjuang sendiri, akhirnya ikut merawat Ana. Jika menanyakan di mana kedua orangtua kandung Ana, maka jawabannya aku pun tak tahu. Istriku merupakan seorang yang yatim piatu dan ia tumbuh di sebuah panti asuhan tanpa tahu orangtuanya. Meski begitu, aku sangat mencintai dan menyayanginya.
***bersambung***