"Sebenarnya apa hubungan kamu sama pak Gentala?" Karin mulai menginterogasiku.
"Hubungan seperti apalagi? Sama seperti kalian, mahasiswa dan dosen." Aku harus terlihat santai, mereka tidak boleh mengetahui perjodohan antara aku dan Gentala.
"Bohong! Yang baru saja kau bicarakan sama perawat itu apa? Kami semua belum tuli Shena! Hiks hiks hiks." Gea menangis sambil bersandar di bahu Sean, mendengar apa yang ku ucapkan seolah-olah aku telah merebut suaminya, dasar Gea, ini bukan pertama kali terjadi, saat aku jadian sama Rangga Gea juga menangis, saat Sean menyatakan cinta padaku dia juga menangis histeris, bahkan yang lebih parah lagi saat Ayu ting-ting Artis Indonesia bertunangan dengan Fardhana dia juga menangis seperti orang mati suami.
"Aku tidak ada hubungan spesial dengan Gentala, yang aku bicarakan pada perawat itu hanya sekedar bercanda saja." Aku terus berusaha meyakinkan semua teman-temanku, perjodohan antara aku dan Gentala tidak boleh di ketahui oleh siapapun termasuk teman-temanku ini, mereka memang dapat di percaya tapi saat bersamaku saja, sisanya mereka akan mulai bermuka dua.
"Kalaupun ada gak apa-apa kok Shen, semoga saja skripsimu cepat kelar kalau di bimbing sama calon suami sendiri, Hehe!" Paul mengeluarkan guyonannya, tapi tidak seorangpun yang tertawa di antara kami, bahkan Sean sejak tadi hanya menatapku tanpa berbicara sepatah katapun.
"No, pak Gentala hanya milikku, Shena jangan rakus dong, katanya gak doyan sama pak Gentala, eh di embat juga!" Gea seperti kesetanan, menunjuk wajahku seolah aku benar-benar wanita yang jahat.
"Udah deh Ge, mendingan sama aku, pak Gentala juga gak doyan sama kamu!" Gabriel yang memang sudah lama naksir kepada Gea mengambil kesempatan untuk menggoda Gea, tapi Gea tidak peduli, dia masih saja menempel pada Sean.
"Sudah-sudah, bicara apa sih kalian? jenguk orang sakit kok kayak begitu, kasian Shena, apa kabar Shena, kamu terlihat pucat sekali." Rani mencoba menenangkan suasana yang cukup tegang, duh Rani, terimakasih banyak sudah menyelamatkan aku.
"Pokoknya Shena berhutang penjelasan pada kita." Karin masih bersikukuh pada keingintahuannya tentang hubunganku dengan Gentala.
"Ih, Karin! Penjelasan apa lagi sih, kita semua sudah mendengar dengan jelas kalau Shena adalah calon istri pak Gentala, dia ngaku sendiri kok!" Gea merengut memandangku seakan aku adalah musuhnya.
"Hm hm, Suara kalian terdengar sampai ke lift." Tiba-tiba Gentala muncul di tengah kegaduhan kami, Karin, Gea, Rani, Sean, Gabriel dan Paul terdiam seketika saat Gentala masuk kedalam ruangan rawat inap berjenis VIP ini, Gentala berjalan memandangi kami satu persatu kemudian melewati kami menuju sofa, tempat favoritnya di ruangan ini.
Ruangan yang semula riuh redam seperti di pasar ikan kini senyap bagai di telan bumi, kami hanya saling lempar pandangan satu sama lain.
Tapi kemudian mereka kompak memandangku seolah menuntut penjelasan kenapa dosen Gentala bisa berada disini, kedatangan Gentala seolah menguatkan apa yang baru saja mereka dengar dari pembicaraanku dengan perawat Siska.
Kesialan macam apa ini?
Belum ada satu Minggu rencana perjodohan itu, sebentar lagi akan tersebar luas ke penjuru kampus, mungkin Gentala akan sangat berbahagia telah menjadi pemenang di antara banyaknya laki-laki yang mengharapkan cintaku, tapi ini adalah hal yang sangat memalukan bagiku, di gosipkan akan menikah dengan Gentala tidak pernah menjadi impianku meskipun banyak di impikan oleh banyak wanita.
"Sepertinya kami akan pamit pulang." Akhirnya Sean angkat bicara dalam ketegangan yang tercipta.
"Lho, kok cepat?"
"Kami masih ada kegiatan lain." ucap Sean datar di ikuti oleh anggukan teman-teman yang lain.
Aku tau ini hanya alasan mereka saja untuk segera keluar dari ruangan ini.
"Tapi kan-"
"Maaf ya Shen." Rani menggosok punggungku.
Aku terpaksa mengangguk, merelakan kepulangan mereka. Gentala berhasil membuat teman-temanku tidak nyaman, belum juga jadi suami beneran teman-temanku sudah menjauhiku, gimana kalau sudah jadi suami?.
Saat mereka beranjak pulang, "P-pak Gentala.!" Gea dengan beraninya memanggil Gentala yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Gentala menoleh lalu "Ada apa?"
"A-anu Pak, ka-kami permisi dulu." ucap Gea tergagap. Gentala hanya mengangguk lalu kembali menatap layar ponselnya.
Tuh kan, se cuek itu sikap seorang Gentala, apa salahnya mengatakan 'silahkan' atau 'terimakasih telah berkunjung' ataupun jika terlalu panjang bisa mengatakan 'oke' lebih baik dari pada hanya menganggukan kepala, dasar dosen kurang etika.
"Ini semua gara-gara Bapak." Saat ini hanya tinggal kami berdua.
"Saya?" Gentala menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, mereka semua pulang belum juga sempat kami membicarakan apapun, gara-gara bapak juga mereka curiga kalau kita punya hubungan spesial." Aku mulai menceramahi Gentala.
"Terus?"
Terus apa pula maksudnya "Terus Bapak yang salah, kenapa sih Bapak harus masuk di saat mereka membesuk ku, atau jangan-jangan Bapak memang senang kalau mereka tau seperti apa hubungan kita, Bapak sengaja? iya? Sebenarnya Bapak memang ingin saya menjadi istri Bapak bukan? sampai lebaran monyet juga saya gak bakalan mau jadi istri Bapak!' Saking semangatnya menceramahi pak Gentala aku sampai berdiri di atas tempat tidur sambil menunjuk-nunjuk Gentala.
Gentala tidak merespon, dia berjalan mendekatiku dengan kedua tangannya di masukan kedalam saku celananya, mungkin dirasanya dengan begitu dia terlihat terlihat tampan, padahal tidak sama sekali.
"Kamu sudah sehat?"
"Saya memang sehat, Bapak yang sakit!" seruku sambil menunjuk wajahnya.
"Atau pura-pura sakit karena ingin dekat dengan saya? Tuh sudah berdiri, di atas tempat tidur lagi!" Gentala berbicara sambil tersenyum miring.
Aku terkesiap dengan ucapan Gentala, apa yang ingin ku jawab kalau sudah seperti ini, dengan gerak lambat dan hati-hati aku kembali duduk di atas tempat tidur.
"Sebentar lagi kita pulang." lanjut ucapannya.
Malas menjawab ucapannya, yang ada tubuhku ku hadapkan kedinding dari pada berhadapan dengan laki-laki over confidence, memuakkan.
"Syukurlah Non Shena sudah pulang, Bibi khawatir sekali dengan Non Shena." Bi Tuti yang menyambut kepulangan ku.
"Aku gak apa-apa Bi, Papa Mama belum pulang?"
"Lho Non Shena gak tau kalau Tuan dan Nyonya lagi memper-"
"Bi, boleh saya minta air." Gentala memutuskan ucapan bi Tuti.
"Baik tuan." Bi Tuti segera pergi.
"Bapak kenapa masih disini? saya sudah sampai rumah dengan selamat, Bapak silahkan pulang." Heran dengan Gentala, kok sudah sampai di rumah dia gak pulang-pulang.
"Saya dapat amandat dari om Frans untuk menjaga kamu selama seminggu, mereka tidak pulang karena urusan mereka belum selesai."
"Apa? gak ah! Saya tidak mau di jagain sama Bapak, mendingan saya sendiri, lagi pula saya bukan anak kecil. Kenapa Bapak gak nolak saja sih? Tenang saja papa saya tidak punya penyakit jantung seperti papa Bapak!" Rasanya kesal sekali harus di jaga sama dia, kalaupun ada yang boleh menjaga bukan dia tapi Rangga.
Ah! Kesal sekali! Aku menghentakkan kaki menaiki anak tangga menuju kamarku.