Rasanya semakin aneh saja hubungan antara aku dan Gentala, papa dan mama sepertinya sengaja ingin mendekatkan aku dengan Gentala sampai-sampai dia harus menjagaku, biasanyapun mereka pergi kemana-mana aku tinggal sendiri tidak pernah pula menjadi masalah.
Sesampainya di kamar, aku langsung melakukan panggilan suara pada mama untuk melancarkan aksi protes.
"Assalamu'alaikum sayang, apa kabar?" sapa mama lembut di seberang sana.
"Ma, kok anaknya om Dirga kok di suruh jagain aku, aku kan bisa sendiri Ma, pokoknya aku gak mau di jagain sama Gentala!" Tidak ada niat untuk menjawab salam dari mama karena hati ini terlanjur kesal.
"Sayang, kok marah-marah, Kamu kan lagi kurang sehat, baru pulang dari rumah sakit lagi, makanya Mama dan Papa minta tolong sama Gentala untuk menjaga kamu, lagi pula apa salahnya? Toh Gentala calon suami kamu juga." Astaghfirullahal'adzim, bosa-bisanya mama berbicara seperti itu.
"Calon suamiku itu bukan Gentala Ma! Tapi Rangga, pokoknya Shena tidak mau menikah dengan Gentala, Shena hanya ingin menikah dengan Rangga Ma." rengek ku pada mama, tidak ku sangka mama juga menganggap serius perjodohan itu, ku kira kami sama-sama wanita akan membuat mama mengerti dengan posisiku ternyata aku salah.
"Siapa itu?" Suara papa terdengar di sebelah mama.
"Shena Pa."
"Sini Papa mau bicara."
"Halo Shena, gimana kabar Kamu? sudah enakan?" Papa ambil alih pembicaraan antara aku dan Mama.
"Belum Pa, Hati Shena yang sakit karena Papa tega-teganya menjodohkan Shena dengan si tua Bangka itu!" Kemarin aku belum melakukan protes pada Papa karena masih syok, ku kira sekaranglah waktu yang tepat.
"Lho, Papa bukan menjodohkan Kamu pada pak Dirga Shena!"
"Iya, Shena tau Pa, Shena tau Papa menjodohkan Shena pada Gentala anaknya om Dirga." Kok papa ngajak bercanda sih.
"Itu yang Papa bingung sama Kamu, Gentala kan belum tua bangka Nak!"
"Pokoknya mau dia tua bangka atau tidak Shena tidak mau di jodohkan dengan Gentala titik, Shena punya pilihan sendiri Pa, Gentala bukan tipe Shena."
"Baik, kalau begitu Papa punya pilihan buat Kamu! Jika kamu ingin menikah dengan pilihan kamu silahkan, perjodohan ini akan batal tetapi segala fasilitas yang Papa berikan kepada kamu dan teman-temanmu akan Papa cabut kembali."
"Apa?"
"Tentukan pilihan kamu, setelah Papa pulang dari bandung kita akan bicara."
Tut-tut-tut.
"Halo-halo! Papa! Mama! Hallo!" Tiba-tiba panggilan suara terputus.
Aku langsung frustasi, ingin rasanya membanting ponsel yang ku pegang ke pintu, tapi tanganku terhenti karena ada seseorang yang sedang berdiri di sana, tangannya di masukan kedalam kedua saku celananya, di sebelahnya berdiri terdapat sebuah koper.
"Bapak menguping saya?"
"Dimana kamar saya?" ucapnya dengan wajah datar.
"Lah, mana saya tau, tanya sama Bi Tuti sana!' Dia yang mau tidur di rumah ini kok aku yang di repot. Aku kembali telungkup di atas tempat tidur kesayanganku.
Tapi Gentala menyelonong masuk ke kamarku dengan menyeret koper miliknya.
"Lho-lho, Bapak mau ngapain? Bapak gak sopan ya masuk kamar saya! Mau saya teriakin maling hm? atau jangan-jangan Bapak mau mau ...." Aku langsung menutupi tubuhku dengan bantal, pikiran buruk mulai menghantuiku.
"Tunjukan kamar saya atau saya akan tidur di sini." Ow ow, apa pula maksud si Gentala ini? ingin tidur disini, heh enak saja, dia pikir dia yang punya rumah ngatur-ngatur.
"Enak saja! Bapak kira Bapak siapa mau tidur di kamar saya, Bapak waras?" Kembali aku menunjuk-nunjuk wajahnya dengan jari telunjuk ku, tiba-tiba mau tidur di kamarku, benar-benar ni Gentala, laki-laki seperti ini yang di agung-agungkan mahasiswi dan dosen di kampus, selera rendah memang mereka.
"Baik, sekarang tunjukan di mana saya harus tidur!" ucapnya yang terdengar datar tanpa ekspresi, padahal sudah ku katai dia macam-macam tapi sedikitpun dia tidak ingin membalas ucapanku, benar-benar irit bicara ini manusia.
"Bapak bisa tidur di mana saja, di kamar tamu bisa, di kamarnya bi Tuti juga bisa, atau Bapak tidur di kamar pak Santoso, saya saranin mending di sofa deh Pak, karena pak Santoso kalau ngorok kencang, Bapak bakalan gak bisa tidur." Sekalian lah ku kerjain si dosen ini, siapa suruh mau tidur di rumahku.
Gentala memandangku dengan mata tajamnya, aku sampai ngeri melihatnya, akhirnya aku beringsut mundur kebelakang sambil memegang bantal yang ku dekap di d**a, tidak terduga Gentala terus maju hingga duduk di pinggir kasur.
Jantungku terasa berhenti berdetak.
"Bapak mau apa sih?" Aku terus berusaha mundur lagi kebelakang.
"Tunjukan kamar saya!" ucapnya dengan rahang mengeras.
"Oke-oke, ish nyebelin banget sih jadi orang, lagian kenapa harus aku sih Pak, kan ada bi Tuti dan pak Santoso yang bisa nunjukin dimana Bapak bisa tidur, aku lagi lemes lho Pak, namanya juga baru pulang dari rumah sakit, Bapak itu sebenarnya sangat-sangat merepotkan ku, sebaiknya Bapak pulang deh kerumah dari pada Bapak menjalankan mandat yang gak seberapa penting ini, katanya Bapak dosen paling sibuk, tapi kok ngurusin saya ya Pak? Ini Bapak tidur saja di kamar tamu!" Aku menoleh kebelakang tapi ....
"Lho, kemana dosen itu? Jadi dari tadi aku bicara dengan kecepatan seribu kilo meter per detik, pak Gentala rupanya tidak mendengarkan ku, ugh! Sialan tu dosen, capek-capek ngomong ternyata tidak di dengarkan!" Terpaksa aku keluar lagi dari kamar tamu yang letaknya berseberangan dengan kamarku.
"Benar-benar merepotkan ni orang!"
"Pak Genta, Bapak dimana?" Aku menjerit mencari keberadaan Gentala? dimana sih dia.
"Lho Bapak di sini?" Ku dapati Gentala sedang berdiri di depan sebuah dinding tepat di depan meja belajarku yang sebenarnya tidak pernah kugunakan tempat untuk belajar, karena meja itu ku gunakan untuk memandangi dinding yang ku hiasi dengan foto anak-anak jalanan dan anak-anak panti asuhan, pengemis, dan pengamen serta anak-anak yang menyandang disabilitas, mereka adalah duniaku.
Meja belajar itu ku gunakan untuk mengkhayalkan masa depan mereka yang sesungguhnya adalah masa depanku.
"Pak? Bapak ngapain di sini hm? jangan-jangan Bapak mau ngambil foto Saya? iya?" Aku langsung menghitung jumlah foto yang ada di dinding kamarku itu dengan jari telunjuk, kalau barang yang lain terserah mau hilang atau bagaimana, tapi foto ini tidak boleh hilang, ini adalah harta yang paling berharga buatku.
"Ini kamu dapatkan dari internet?" Gentala bertanya dengan alisnya yang bertaut.
"Pak, Meskipun ini bukan hasil jepretan saya, tapi saya tidak ngambil di Mbah google, ini asli Pak, ada di kehidupan nyata dan ada di seluruh pelosok negeri ini." Semua foto itu di ambil oleh Sean, Sean dan aku mempunyai dunia yang sama, kami punya hobi dan kebiasaan yang sama, tidak jarang setiap minggu kami menghabiskan waktu bersama mengunjungi panti asuhan, atau mengajak para pengamen belajar bersama, atau mengajak anak-anak pengemis main ke mol. Kegiatan itu selalu di dokumentasikan oleh Sean sebagai bahan kenang-kenangan.
"Oh." Tanggapan Gentala.
Hanya itu respon dari Gentala atas penjelasanku yang panjang lebar? Aku mengepalkan tangan untuk mengarahkan tinju ke wajahnya.