"Bapak sadar gak sih? pengakuan Bapak hari ini akan menjadi Boomerang bagi kita nanti!" Bukannya berterimakasih aku kembali melancarkan aksi protes pada Gentala yang sedang fokus menyetir. "Atau jangan-jangan Bapak sengaja melakukan ini karena Bapak memang ingin menikahi saya, iyakan?" Aku tetap menatap pada Gentala sedangkan dia tetap fokus menyetir tanpa merasa terganggu dengan tatapanku. "Hah, alasan Bapak saja menolak perjodohan itu, padahal Bapak memang ingin saya jadi istri bapak, Modus!" racau ku. Namun Gentala tetap diam dengan wajah datar tanpa ekspresi, pura-pura tidak mendengar ucapanku, kesal sekali aku melihatnya, rasanya ingin sekali aku mengorek kupingnya dengan besi panas. "Atau apa yang terjadi pada saya adalah memang rencana Bapak, agar Bapak bisa menikah dengan saya,

