Aku menangis tergugu di dalam dekapan d**a bidang milik Gentala, hatiku hancur berkeping-keping setelah mengetahui kenyataan bahwa Rangga telah mempunyai calon istri dari kedua orang tuanya. "Saya mencintai Rangga setengah mati Pak, masa iya saya di campakkan begitu saja, tidak bisakah Bapak sampaikan kepada orang tua Rangga bahwa Rangga mempunyai kekasih yang sangat di cintainya?" tanpa sadar aku memukul-mukul d**a bidang milik Gentala. "Kenapa Bapak diam saja? Bapak senang kan lihat saya seperti ini?" Sudah hampir setengah jam aku menangis, air yang keluar bukan saja dari mata, bahkan dari hidung pun ikut keluar, kemeja hitam yang di pakai Gentala sudah terasa basah oleh kedua air tersebut. "Hiks hiks hiks." Oh Tuhan, beginikah rasanya sakit hati? ku kira aku yang akan membuat Rangga

