4. Musuh dalam Selimut

1084 Kata
"Hallo om!" Aku menyapa Gentala sambil menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk sopan santun, kulakukan meskipun terpaksa, sengaja ku panggil om biar Gentala tau diri dan si tua ubanan itu sadar kalau anaknya lebih cocok jadi bapakku dan dia lebih cocok menjadi kakekku, tentu saja karena cucunya Rangga pun lebih tua setahun dariku. Enak saja mereka ingin menjodoh-jodohkan ku pada si kutub ini, bagaimana aku bisa menjalani rumah tangga di atas kutub yang di penuhi salju, cuma beruang putih dan pinguin yang hidup di sana. "Shena! Ini calon suami kamu, jangan panggil Om dong?" Papa bicara pelan setengah berbisik padaku, tapi tetap saja orang lain mendengar yang di ucapkan oleh papa. "Hehe." Si tua bangka itu kembali tertawa di ikuti oleh papa, entah mengapa mereka hobi sekali tertawa, ku rasa mereka ini bukan grup pembisnis tapi grup pelawak. "Calon suami?" Aku berakting seolah terkejut dan syok. "Shena bahkan belum menyelesaikan skripsi pa, sepertinya dalam waktu dekat Shena belum bisa menikah!" Aku mengerling kepada Gentala yang sejak tadi diam bagai patung batu. "Skripsi? Ah! Itu urusan gampang, kamu tinggal beli saja sama orang yang sudah ahli membuat karya ilmiah! hehe" Pak Dirga kembali terkekeh, orang tua ini benar-benar lucu dan fleksibel, beda sekali dengan anaknya yang kaku kayak kanebo kering, lihat saja sejak tadi tidak sedikitpun dia tersenyum. "Masalahnya dosen pembimbing saya cerewet banget Om, saya sampai mau di laporkan ke rektor karena di anggap kurang ajar." Aku kembali melirik kearah Gentala, adakah perubahan pada raut wajahnya? Dia tetap diam bagai batu Malin Kundang, melihat dua laki-laki yang berbeda usia ini aku tidak yakin kalau mereka ayah dan anak, jelas berbeda sekali. "Oh ya? Baiklah nanti saya akan cek siapa yang telah mencoba bermain-main dengan calon menantu saya! Akan saya buat dia di pecat menjadi dosen, hehe." "Benarkah om? Saya akan sangat berterimakasih jika om bisa melakukan itu." ucapku dengan senyuman penuh kemenangan. "Papa, Pak Frans saya izin berbicara pada Shena!" akhirnya si kutub buka suara, haha mungkin dia takut aku membuka kedoknya di depan papa dan om Dirga. "Papa saya mempunyai penyakit jantung!" Pak dosen terhormat ini mulai membuka percakapan, kami sedang berada di taman tepat di samping rumahku, aku duduk di sebuah kursi besi yang berukir cantik sedangkan si kutub sedang berdiri di samping lampu taman. "Saya harap kamu ikuti saja dulu apa maunya papa kamu dan papa aku." "Aku sudah punya kekasih impian dan Bapak kenal betul siapa lelaki beruntung itu, dan Kami akan menikah setelah aku wisuda dan dia selesai mengambil gelar dokternya, jadi katakan bagaimana aku bisa mengikuti rencana perjodohan papa kamu dan papa ku" tanganku bersedekap pada d**a sambil bersandar di kursi, bibirku tersenyum remeh memandangi punggung lelaki yang berdiri membelakangi ku. "Untuk sementara ikuti saja dulu, nanti saya pikirkan caranya agar terlepas dari perjodohan ini." Kedua tangannya di masukan kedalam saku celana. "Oke, tapi saya punya syarat!" Akhirnya aku punya cara menekan dosen songong ini, setiap kesempitan pasti ada kesempatan merupakan kata-kata motivasi yang selalu ku aplikasikan dalam keadaan seperti ini. "Syarat?" Gentala membalikan tubuhnya yang tegap menghadapku, wajahnya mengkerut mencoba mencerna kalimat sederhana yang penuh manfaat keluar dari mulutku. "Iya, syarat! Aku akan mengikuti perjodohan ini tanpa membantah asalkan anda memenuhi syarat dariku." Aku memasang wajah jumawa penuh kemenangan di hadapan laki-laki yang kira-kira 12 tahun lebih tua dariku. "Jangan persulit skripsiku, atau aku akan menolak perjodohan ini sekarang juga!" Gentala berjalan mendekati ku dengan wajah datarnya. "Urusan di kampus jangan di campur dengan urusan di keluarga ini!" "Oke, tetap saja pada pendirian yang sama sekali tidak menguntungkan bagimu itu Pak Dosen yang terhormat, dan aku akan tetap pada pendirianku, akulah orang yang paling di rugikan jika perjodohan ini aku setujui" Aku berdiri tepat di hadapan Gentala, sekarang kartu as sudah ku pegang, apa lagi yang ku takutkan. "Dokter sudah memvonis, jika papaku terkejut dan terkena serangan jantung dia tidak akan selamat lagi, karena faktor umurnya yang sudah mencapai delapan puluh tahun, silakan lakukan apapun maumu Nona Shena, saya tidak punya hak untuk melarang mu." Apa dia melakukan serangan balik dengan mengancam ku kembali? dasar laki-laki egois, bisa-bisanya dia membiarkan papanya terkena serangan jantung dari pada harus memenuhi syarat ku, heran! Apa susahnya sih dengan syarat yang ku minta, hanya mempermudah jalannya skripsiku, gak harus bersujud padaku, gak ku pinta membersikan toilet kampus, atau hal-hal aneh lainnya, dasar manusia angkuh! Gentala berlalu dari hadapanku, pembicaraan singkat ini hanya memberikan kesan bahwa laki-laki ini benar-benar angkuh, kebencian ku kepadanya yang tadinya hanya seratus persen kini bertambah menjadi seribu persen. Gelak tawa papa dan om Dirga memenuhi ruangan makan, mereka malam ini terlampau bahagia, entah apa yang membuat mereka sebahagia itu, papa yang biasanya selalu dalam mode serius malam ini nampak berubah, pembicaraan perjodohan terus bergulir tanpa bisa ku cegah, saat ingin berucap bahwa aku tidak menerima perjodohan ini perasaan peduli pada kakek kekasih hatiku ini tiba-tiba muncul, bagaimana jika tertawanya akan terhenti saat aku menolak di jodohkan pada anaknya, apa yang akan ku katakan kepada Rangga jika kakeknya mati di rumahku karena terkena serangan jantung?. "Bisnis saya tergantung pada Gentala Frans, hanya dialah harapan satu-satunya untuk meneruskan perjuangan saya, mengharapkan Rena dan Gilang mana mungkin, mereka sangat mencintai pekerjaan mereka sebagai dokter, bahkan anak laki-lakinya Rangga pun mengikuti jejak mereka, beruntung kita punya ide yang cemerlang ini, haha!" oh Rangga, kakek mu ini sudah menjebakku bersama pamanmu, tidak bisakah kau menolongku? jerit ku di dalam hati. "Sayapun sama Pak Dirga, bisnis saya tergantung pada Shena, tapi sayang Shena tidak pernah tertarik dengan bisnis, dia bahkan kuliah mengambil jurusan guru, bagaimana mungkin seorang guru bisa memimpin perusahaan, menyalahi teori itu, haha!" Lagi dan lagi, papa bersama pak Dirga tertawa terbahak-bahak seolah yang baru saja di ucapkan tadi adalah hal yang sangat menggelikan hati, wajahku masam, makanan yang seharusnya ku nikmati kini hanya dapat ku pandangi saja, seleraku hilang tiba-tiba. "Sekarang bisnis kita tergantung mereka ya Frans, dan saya sangat yakin sekali pada Gentala, dia pasti bisa mengendalikan dua bisnis secara bersamaan dan saya yakin di tangan Gentala bisnis kita akan menjadi bisnis yang besar" Gentala hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan papanya. "Sebaiknya kita percepat pernikahan mereka Pak Dirga, saya ingin Shena lebih cepat belajar mengelola rumah tangga dan Gentala lebih cepat mengelola bisnis kita, haha" mereka kembali tertawa, sedangkan aku sangat ingin menangis mendengar ide konyol mereka. Papa dan laki-laki tua bangka itu begitu antusias dengan rencana mereka, aku bahkan tidak di berikan kesempatan berbicara oleh mereka, mungkin mereka menganggap aku dan Gentala menerima perjodohan konyol ini dengan senang hati, mereka tidak tau bahwa kami adalah musuh di dalam selimut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN