Sudah hampir satu jam aku membolak balik kan badan di atas kasur, mata tak juga kunjung mengantuk, berbagai macam pikiran menghantui ku dan yang paling mendominasi adalah soal perjodohan ku dengan Gentala.
Ponsel ku berdering, aku segera meraih benda pipih itu yang berada di atas nakas, layarnya yang berkedip menampilkan sebaris nama yang mampu membuatku rindu setengah mati meskipun sehari saja tidak bertemu dengannya.
"Hallo Rangga."
"Hallo sayang, kamu lagi ngapain?" Suara Rangga terdengar lembut dan mesra di daun telingaku.
"Mau tidur, kamu lagi ngapain?" tanyaku manja, memang setiap malam kami seperti ini, Rangga selalu menelponku hanya sekedar menanyakan kabar, meskipun aku tau dia sedang sibuk.
"Lagi ronda."
"Kok ronda? Kamu calon hansip atau calon dokter sih?"
"Hehe, lagi ronda di hati kamu, supaya tidak di maling orang lain hehe." Rangga terkekeh di seberang sana.
Kalau dari gombalan Rangga sepertinya dia tidak tau menahu masalah perjodohan antara kakeknya dengan papaku, aku jadi penasaran gimana reaksi Rangga kalau dia tau pamannya akan di nikahkan dengan kekasih hatinya.
"Gombalan basi, percuma menggombal setiap hari tapi aku tidak kunjung sah menjadi pendampingmu, kalau lama-lama pasti ada orang lain yang akan mencuri hatiku."
"Sayang, kok ngomongnya gitu sih? Aku lagi berjuang, kamu juga belum selesai kuliahnya, kalau kita menikah sekarang aku takut aku gagal menjadi dokter dan kamu gagal menjadi guru seperti impian kita." Iya. Rangga memang benar dengan ucapannya kami berjanji akan menikah setelah selesai kuliah, tapi aku khawatir dengan perjodohan papaku dan kakeknya, aku takut pernikahan antara aku dan paman Rangga benar-benar akan terjadi.
"Setidaknya aku butuh kepastian? Bisakah kamu dan keluargamu datang untuk melamar ku?" Aku harus punya alasan untuk menolak perjodohan papa dan kakeknya Rangga, jika belum selesai kuliah tidak bisa di jadikan alasan maka sudah mencintai orang lain adalah alasan yang paling tepat menolak ide konyol perjodohan ini.
Aku tidak akan pernah bisa menerima Gentala menjadi suamiku, tidak akan pernah! Apapun caranya perjodohan ini harus batal.
"Shena sayang! Apakah cintaku masih kau ragukan sayang, sungguh jikapun aku bisa memberikanmu langit beserta isinya akan ku serahkan padamu, tapi tidak sekarang sayang, kita punya tujuan yang harus kita raih, please trust me!"
Aku tersentuh dengan ucapannya yang lemah lembut, aku percaya dengan cintanya yang selama tiga tahun ini selalu tercurah padaku meskipun banyak sekali wanita ulat bulu yang mencoba menarik perhatiannya, Rangga sedikitpun tidak pernah tertarik dengan kecantikan wanita lain, dia tetap setia kepadaku.
"Tapi Rangga."
"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya jangan mikir yang macam-macam, nanti akan ada gofood yang akan mengantarkan fried chicken kesukaan kamu, kamu pasti belum makan gara-gara di kampus tadi kan? Maafkan om aku ya! Nanti aku akan coba bicara sama dia"
Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, rasanya tidak tega memberitahukan apa yang telah terjadi malam ini, Rangga begitu mencintaiku akupun mencintainya, tetapi paman dan kakeknya berkhianat pada Rangga.
"Selamat malam Shena, mimpi kan aku ya! I love you so much."
"Terimakasih Rangga, i love you more."
Panggilan berakhir, seiringan pintu kamarku di ketuk, aku tau itu adalah Bi Tuti yang datang mengantarkan fried chicken yang di pesankan oleh Rangga untukku.
***
Dengan berpakaian casual, baju kaos dipadukan dengan celana panjang jeans di lengkapi dengan sepatu sport menjadi pilihanku hari ini, rencananya aku ingin bertemu kembali dengan Gentala untuk membicarakan masalah proposal skripsi yang telah di tolaknya, aku tidak boleh berputus asa, pasti ada cara untuk menaklukan si kutub utara itu.
"Shena, tunggu!" Aku menoleh kebelakang mencari sumber suara, seorang wanita berparas cantik menghampiriku.
"Ada apa?" Aku dengan malasnya menanggapi wanita itu, dia adalah Listya mahasiswa yang berusaha menyaingi kepopuleran ku namun sejauh ini selalu gagal.
"Kabar burung punai proposal kamu di tolak oleh dosen tampan itu." Ternyata secepat itu tersebar kabar yang tidak penting itu, ya mungkin saja karena aku populer jadi apa saja gosip mengenai aku pasti akan fyp.
"Memangnya kenapa kalau di tolak, masalah buat kamu?" ucapku sambil melanjutkan perjalananku menuju ruangan Gentala.
Listya mengiringi langkahku, "Sepertinya kamu bukan tipe pak Gentala, buktinya yang katanya kecantikan kamu bisa menyihir semua laki-laki tapi di hadapan pak Gentala kecantikan kamu gak ada nilainya, hehe." ucapan yang mengandung hinaan itu sengaja memancing emosi ku.
"Oh ya? Sepertinya kamu sangat tertarik semua tentang aku, kamu ngefans sama aku?" tanyaku sambil tersenyum sinis pada wanita yang memang selalu cari masalah denganku, tapi karena followers ku terlalu banyak akhirnya perlawanan tidak imbang.
"Aku bukannya ngefans sama kamu, jangan kege-eran deh, aku hanya prihatin sama kamu, mahasiswi yang katanya paling populer dalam segala hal di kampus ini masa proposalnya di tolak? Mengenaskan sekaligus memalukan!' ucapnya sinis.
"Apa kamu kurang urusan sehingga harus mengurus urusanku hm?"
"Aku tidak mengurusi mu Shena, aku hanya ingin mengantarkan undangan ini buat kamu, undangan untuk seminar proposal yang akan ku lakukan besok pagi, jangan terlambat, banyak ilmu yang akan kau dapatkan di sana kecuali ...." Listya menggantung ucapannya.
"Kecuali apa?"
"Kecuali ilmu menggoda!" ucapnya sambil berlalu, kalau tidak mengingat ini adalah kampus sudah ku kempiskan wanita itu.
Tetap dengan tujuanku sebelumnya adalah ruangan pak Gentala, segala ucapan Listya tidak boleh mengganggu pikiranku, hari ini masalahku dengan Gentala harus selesai, baik itu masalah skripsi ataupun masalah pribadi.
"Ada apa?" Gentala mulai memandangku dengan tatapan tajamnya, apa yang terjadi di antara kami tadi malam tidak mengubah apapun dalam diri Gentala.
"Begitu cara anda berbicara pada calon istri?" akupun dengan berani menantang tatapannya.
"Jangan berbicara masalah pribadi disini"
"Baiklah Pak dosen yang terhormat, sekarang katakan di mana saja letak kesalahan proposal ini!" seruku sambil melempar lembaran proposal yang sudah di jilid tepat di depan Gentala.
Apakah aku terlalu kurang ajar pada dosen? Jawabannya adalah iya, sengaja ku lakukan untuk menciptakan benci yang besar dalam diri Gentala, aku tidak ingin Gentala menyukaiku bahkan hanya seujung kuku.
Rahang tegasnya mengeras, sorot matanya semakin tajam menatapku, aku tau dia sedang menahan amarah karena sikap kurang ajar ku padanya.
"Kamu mau aku laporkan ke rektor agar di DO dari universitas ini?"
"Laporkan saja Pak Gentala yang terhormat, saya tidak peduli dengan apapun yang akan anda lakukan, semoga anda berbahagia telah menghancurkan hidup saya" Aku berdiri dari kursi lalu meninggalkannya keluar sambil menutup pintu dengan keras, beberapa mahasiswa yang duduk di depan ruangan dosen sialan itu terkejut mendengar dentuman keras yang di hasilkan oleh pertempuran daun pintu dan kusen.