6. Dosen Antik

1021 Kata
Aku duduk di taman kampus yang adem, biasanya mahasiswa akan banyak berdiskusi di sini, dan banyak pula berpacaran berkedok diskusi, tempatnya adem karena banyak pohon-pohon rindang yang menaungi kursi, di tengah taman terdapat kolam air mancur yang di bawahnya di pelihara ikan emas, pantas saja banyak sedang galau duduk disini, yang sedang menunggu kiriman dari kampung, ada juga yang mendapatkan nilai buruk hingga harus mengulang di semester berikutnya, dan ada juga yang sudah delapan tahun kuliah tidak kunjung selesai skripsinya, karena tempat ini adalah jantungnya kampus kami, serta tidak ada pula aturan yang mengikat di tempat ini. "Shena!" Sebuah suara memanggilku. "Kami mencari mu kemana-mana, tumben disini." Segerombolan mahasiswa yang terdiri dari lima orang mendekati ku. Mereka adalah Firdaus, Sean, Paul, Rahman dan Gabriel, mereka semua tinggal di kosanku bersama dengan Firdaus Kecuali Sean, mereka adalah mahasiswa yang pernah ku bantu dan mereka adalah anggota BEM (badan eksekutif mahasiswa). Kami saling sapa dengan salam tinju khas anggota BEM. "Kenapa disini? Mana yang lainnya?" Sean tentu janggal melihatku duduk termenung disini, biasanya aku akan nongkrong di kantin sambil tertawa bersama para pengikutku. Sean adalah ketua BEM, kharismanya sebagai pemimpin membuat para wanita bisa meleleh jika berhadapan langsung dengannya, di tunjang pula dengan rupa yang rupawan membuat auranya semakin keluar, Sean pernah menyatakan cinta secara terang-terangan padaku, namun ku tolak karena bukan ku tak suka bukan pula aku tidak cinta, kami berbeda keyakinan, aku tidak ingin menjalani ikatan yang sudah pasti akan bertentangan itu nantinya. "Lagi malas gabung." ucapku seadanya. "Belum selesai masalah dengan pak Gentala?" tanya Firdaus, aku hanya menggeleng lemah. "Sabar ya Shen, ujian selesai kuliah emang gak pernah mulus kayak paha blak pink, ada aja gangguannya." Paul, manusia paling kocak yang gak pernah kehabisan bahan lawakan ikut memberikan aku kekuatan. "Apakah kami harus turun tangan, untuk mendemo Gentala sok ganteng itu agar mengundurkan diri menjadi pembimbing skripsimu?" Rahman kakak tingkatku di atas dua tahun, dia adalah mahasiswa yang paling membela jika terdapat kekerasan pada mahasiswa, jika ada permasalahan yang di alami oleh mahasiswa maka dialah orang pertama yang akan menanggapi, aku sempat salut dengan laki-laki yang datangnya dari Aceh ini. "Tidak perlu kak, ini hanya masalah biasa, biarkan saja aku menyelesaikan sendiri masalah ini." Bukannya ku tidak senang jika mereka ingin membantuku, entah mengapa aku tiba-tiba merasa malu jika mereka membelaku. "Kamu yakin?" tanya Sean. Aku mengangguk meskipun aku tidak yakin, yang sebenarnya adalah aku tidak ingin melibatkan mereka ataupun mahasiswa yang lainnya dalam urusanku sama Gentala, aku sangat yakin Gentala sengaja melakukan ini padaku karena sebenarnya dia sudah tau kalau aku dan dirinya di jodohkan oleh orang tua kami. "Tapi kalau kami tidak bisa membantumu berarti simbolis mutualisme kita terputus dong Shen! Padahal aku belum bisa bayar kamar kos, aku ngutang dulu boleh gak? Atau gak apa-apa deh jadi tukang bersih-bersih di kos an kamu Shen." Tiba-tiba Gabriel tertunduk lesu sorot matanya layu. "Bukannya selama ini gak bayar?" "Haha." Yang lain tertawa mendengar ucapanku yang sedang bercanda dengan Gabriel. Gabriel salah satu mahasiswa yang lemah dalam ekonominya, pekerjaan orang tuanya sebagai nelayan tidak mampu menanggung seluruh keperluan Gabriel, dia bahkan harus bekerja paruh waktu untuk mencari biaya tambahan, di tambah lagi ibunya sakit-sakitan. Aku merasa iba dengan kondisi Gabriel, dia pernah ingin berhenti karena sudah bingung harus mendapatkan biaya dari mana lagi, karena aku melihat dia adalah seorang mahasiswa yang bertekad kuat aku membantunya dengan memohon kepada papa untuk membayarkan uang semesternya, beruntung papaku mau. "Shena! Shena! Shena!" Tiga orang mahasiswi yang biasanya akan membelaku hingga titik darah penghabisan namun saat berhadapan dengan Gentala mereka langsung tak berdaya, mereka berlari kecil menghampiri kami. Semua mata kami tertuju pada mereka, kuakui tiga sahabatku ini mempunyai paras yang tak kalah cantik, dan para teman laki-lakiku ini menatap takjub pada mereka, kecuali Firdaus dan Sean. Firdaus makhluk paling introvert yang pernah ku kenal, selama menjadi mahasiswa hanya aku saja wanita yang mau dia dekati, sedangkan Sean, ya tentu alasannya adalah aku, dia sudah berkali-kali mengatakan kalau dia tidak mampu mengusir rasanya padaku. "Kamu di cariin sama Nabi Yusuf?" Gea mengambil posisi di sebelahku, penyakit mata keranjang Gea akan kambuh kalau sudah bertemu dengan anggota BEM, tidak tanggung-tanggung semua laki-laki disini menjadi kategori laki-laki impiannya "Hm, Hai Kak Sean, lama tidak bertemu, sekali bertemu tidak lama." Gea mengedip-ngedipkan matanya pada Sean, kami semua tergelak melihat tingkah genit Sean. "Jangan drama Ge, Sean gak bakalan mau sama kamu, dia cinta mati sama Shena." Karin menarik Gea dari sampingku. "Kalau bercanda jangan bawa Nabi Ge, mereka tidak pantas untuk jadi bahan candaan." Aku berucap seperti ini karena memang ucapan Gea yang tidak pantas, apa lagi ada yang berbeda keyakinan di antara kami yang mendengarkan ucapan Gea, takutnya terjadi salah pemahaman. "Maksudnya orang yang mencari mu seperti gantengnya, kelewatan." Rani membela Gea. "Siapa?" Aku penasaran juga dengan apa yang di ucapkan oleh Gea, di kampus ini banyak sekali mahasiswa yang ganteng, dan yang paling banyak di kagumi adalah kekasihku Rangga, kemudian Sean dan yang ketiga adalah ... Gentala, aku tidak mengakui kalau gentala ganteng, itu hanya penilaian kebanyakan orang. "Pak Gentala!" seru Karin membuat kami semua hampir terkejut karena ini adalah kejadian langka, mana mungkin seorang Gentala mencari mahasiswa, yang ada mahasiswa yang selalu kesulitan ingin bertemu dengan Gentala, selain dari jadwalnya yang sibuk dia juga tidak mau bertemu dengan orang tanpa terjadwal. Dosen limited edition itu kini mencariku? "Ada apa gerangan?" "Sini!" Karin ingin berbicara pelan hingga memberikan kami kode untuk segera merapat, bodohnya kami yang ada di sana mengikuti saja perintah konyol Karin, termasuk para anggota BEM. "Pak Gentala telah memberikan ACC proposal kamu untuk di seminar kan!" Karin berbicara pelan di antara kerumunan kepala kami. "Apa?" Rasanya tak percaya jika apa yang di katakan oleh Karin benar, jelas-jelas Gentala telah menolak sepenuhnya proposal itu, lalu atas dasar apa dengan mudahnya pak dosen antik itu memberikan ACC untuk seminar proposal. Semua teman-temanku memberikan selamat beruntun untuk ku, mereka percaya begitu saja kabar yang di bawa oleh tiga teman wanitaku yang kadang otaknya sengkle, entah dari mana asalnya kabar itu yang jelas aku harus kembali menemui Gentala, apa sebenarnya yang di inginkan oleh dosen plin plan itu? Awas saja kau Gentala kalau sempat mempermainkan aku!.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN