Hening beberapa saat, kami yang di landa rasa penasaran semakin menempelkan telinga pada daun pintu, tapi tiba-tiba daun pintu bergerak dan kami semua yang berdesakan terdorong kedepan masuk kedalam kamar, kami tersungkur dengan posisi saling bertindihan. "Lho? Kalian ngapain?" Om Gentala dan Shena telah berdiri di antara kami yang bertindihan. Kami berusaha berdiri. "Kami sedang lewat saja Genta?" Mama jadi juru bicara kami. "Lewat? kok sampai nabrak pintu?" ucapan om Gentala memang selalu tajam dan dingin, senyuman pun jarang terlihat di wajahnya yang tampan, aku akui om Gentala mempunyai pesona yang luar biasa aku saja sangat minder jika berdampingan dengannya, namun karakternya terlalu kaku, dia tidak luwes seperti laki-laki idaman wanita zaman sekarang, dapat ku pastikan seratus p

