Pada akhirnya, Bima membantu Calista membawa belanjaan miliknya ke unit apartment. Bima tetap saja memasang ekspresi tidak sukanya pada wanita itu dan Calista pun menyadarinya saat melihat pantulan wajahnya di dinding lift. Calista justru merasa semakin tertarik jika Bima memasang ekspresi galaknya, karena baginya, ketegangan di wajah Bima itu menggemaskan, seperti singa yang dirantai namun tetap menunjukkan taringnya. Pintu lift terbuka di lantai dua puluh. Calista melenggang keluar lebih dulu, sementara Bima membawa beberapa paper bag di kedua tangannya. Calista tak menoleh, seolah sudah terbiasa dilayani. Begitu pintu apartemen terbuka, Calista langsung berjalan masuk, meninggalkan Bima di depan pintu. Calista membuka pintu kamarnya. "Letakan di kamar," katanya pada Bima yang hendak

