Panji baru saua menyelesaikan beberapa berkas dnegan membubuhkan tanda tangan di tempatnya. Tersenyum tipis saat Rani berpamitan padanya, lantas menyandarkan tubuhnya di kursi kekuasaannya selama ini. Pikirannya kembali melayang jauh ke sosok sang adik yang masih belum bisa dia temukan keberadaannya. Rasanya ingin sekali dia langsung meluncur ke Jogja, ke salah satu panti asuhan di Jogja yang menjadi tempatnya menetap beberapa waktu di saat umurnya masih belum mencapai usia anak=anak. Diasuh di sana, hingga akhirnya diangkat sebagai anak oleh Herman dan Alia. Namun sayangnya, pekerjaan yang harus segera diselesaikan, membuatnya tidak bisa ke mana-mana. Panji benar-benar bingung harus apa sekarang. Bahkan jarum jam yang menunjukkan waktu makan siang pun, ttidak membuat perut

