Panji menundukkan kepala lalu beberapa saat kemudian, dia melangkah tanpa memberi jawaban. Masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi dengan tatapan lurus mengarah ke Viola yang masih berdiri di depan mobil. Viola menarik napas panjang lalu kembali menghembuskannya. Melangkah mendekati Nikita yang masih berdiri di sisi kiri mobil dan memintanya masuk ke dalam.
“Tapi nanti Panji marah, Vi.”
“Abang gak akan marah, Viola jamin.”
Nikita akhirnya masuk ke dalam dan duduk di samping Panji yang masih enggan melihatnya. Viola sendiri kembali menguatkan hati lalu masuk ke dalam mobil. Membalas tatapan Panji yang mengarah padanya melalui kaca kecil di depan kepalanya.
Makan siang itu menjadi satu alasan utama Panji untuk membuat Nikita sadar bahwa kehadirannya tidak diharapkan. Berulang kali Panji dengan sengaja menyulangi Viola dengan makanan yang dia pesan. Padahal apa yang dipesan Panji, sama seperti yang dipesan Viola—nasi ayam bakar. Namun Panji tetap saja menunjukkan seolah-olah Violalah yang terpenting untuknya.
Viola sendiri mulai merasa gak enak hati saat melihat Nikita yang berniat menyulangi nasi goreng miliknya, ditolak mentah-mentah oleh Panji dengan alasan dia tak suka makanan itu. Padahal Viola jelas tahu bahwa Panji selalu melahap habis semua nasi goreng di hadapannya. Baik buatannya sendiri atau hasil masakan orang lain. Sikap itu jelas membuat Viola semakin dirundung kegalauan. Ditambah lagi saat melihat Nikita, kembali murung dengan menundukkan kepalanya.
Viola langsung menatap ke Panji yang terlihat cuek sembari melahap makan siangnya. Viola geram bukan main melihat sikap Panji dan langsung menyenggol kakinya hingga menarik tatapannya. Viola mengisyaratkan dengan kedua matanya agar Panji sedikit menghargai kehadiran Nikita saat itu. Namun dengan santainya, Panji kembali melahap makan siang tanpa memedulikan apa yang diminta Viola.
Kejadian itu tidak berhenti sampai di situ. Sehabis makan siang, Viola yang ingin keduanya dekat, langsung mengajak menyaksikan film bioskop yang satu gedung dengan tempat ketiganya makan siang. Nikita tampak antusias dengan rencana Viola. Film Refrain menjadi satu judul yang dipilih Viola saat itu. Dia hanya ingin keduanya dekat dan bisa mengenal satu sama lain. Hanya itu.
Satu ide melayang ke kepala Viola. Ketiganya yang baru saja duduk di dalam bioskop, membuat Viola mulai menjalankan rencana untuk melancarkan usahanya mendekatkan keduanya. Viola yang saat itu duduk di samping kanan Panji, melirik sesaat ke arah lelaki tampan itu. Meminta maaf dalam hati lalu melirik ke arah Nikita yang duduk di samping kiri Panji.
“Vio ke kamar mandi dulu ya,” bisiknya yang membuat Panji mengarahkan tatapannya.
“Tapi filmnya udah mau main, Vi?” balas Panji setengah berbisik.
“Kebelet nih!”
“Ya udah, abang temenin ya!”
“Jangan, abang di sini aja. Viola janji bakalan cepetan balik kok.”
“Tapi, Vi ….”
“Udaaah!” potong Viola. “Kak Niki, Viola ke kamar mandi dulu ya?”
“Mau aku temenin?”
“Gak usah.” Viola langsung berdiri dan melangkah dengan hati-hati melewati beberapa pengunjung bioskop yang sudah bersiap menyaksikan film. Viola sukses dan dengan helaan napas, dia membalikkan tubuhnya menatap ke dalam bioskop. Raut kesedihan jelas terpancar di wajahnya. Viola melangkah meninggalkan gedung bioskop secepatnya sebelum Panji mampu mengejarnya.
Hampir dua puluh menit berlalu, namun Viola belum juga kembali. Panji yang mulai gelisah, langsung mencoba menghubunginya, namun nihil. Hanya terdengar suara operator yang memberitahu bahwa handphone Viola saat itu dalam keadaan tidak aktif. Panji melirik ke arah Nikita yang tampak serius menyaksikan film yang mulai tayang di awal. Panji mendengus kesal lalu bangkit dari kursinya. Nikita mengarahkan tatapannya dan belum sempat dia bertanya, Panji sudah lebih dulu pergi yang langsung diikutinya dengan langkah hati-hati.
“Ada apa, Ji?”
“Loe sadar gak Viola gak balik-balik?!”
Nikita mulai kebingungan. Dia baru menyadari bahwa Viola sudah terlalu lama pergi ke kamar mandi.
“Cepetan lihat dia ke kamar mandi!”
“Eh, iya!” Nikita langsung masuk ke kamar mandi wanita, namun nihil. Hanya ada petugas toilet di sana yang sedang mengepel lantai. Nikita memeriksa satu persatu ruangan, namun Viola sama sekali tak ada di dalamnya.
“Dia gak ada!” ucap Nikita sesaat setelah keluar dari kamar mandi.
Panji menepiskan tinjunya di dinding. Dia tahu jelas sikap Viola kali in yang sengaja pergi tanpa memberitahukannya. Nikita sendiri tampak ketakutan dengan sikap Panji. Dia mundur beberapa langkah, lalu menundukkan kepalanya.
Sementara Viola yang baru saja turun dari taksi tepat di depan rumahnya. Dikagetkan dengan kehadiran Aldo yang sejak tadi sudah menantinya di depan rumah. Aldo yang sedari tadi duduk di kursi teras, langsung berdiri dan mendekati Viola yang terpaku menatap kehadirannya. Ada rasa penyesalan di hati karena telah memilih pulang ke rumah. Andai saja dia tidak pulang, mungkin dia tidak harus bertatapan dengan Aldo yang masih enggan untuk dilihatnya.
“Kita harus bicara, Vi!”
Viola mengerti kalimat itu. Dia hanya mengikuti langkah Aldo mendekati sepeda motornya. Aldo memberikan helm hitam ke tangan Viola yang langsung dia pakai di kepala. Dan Aldo pun melakukan hal yang sama. Beberapa detik kemudian, Viola sudah berada di atas sepeda motor tepat di belakang Aldo. Dengan kecepatan normal, Aldo membelah jalanan sepi menuju satu tempat yang pas untuknya membicarakan desakan rasa di hatinya.
Aldo memarkirkan sepeda motornya di parkiran sekolah. Terlihat lapangan basket masih dipenuhi dengan beberapa team basket sekolah yang latihan saat itu. Aldo sendiri hanya melambaikan tangan ke arah sahabatnya di lapangan yang menyerukan namanya. Tangan kiri Aldo langsung menggenggam erat pergelangan tangan kanan Viola, menariknya untuk mengikutinya hingga menuju ke lantai dua, tepat kelas Viola berada.
Aldo melepaskan tarikannya setelah masuk ke dalam kelas dua belas IPA satu. Viola menatapnya lamat-lamat yang kini mengarahkan tatapannya ke jendela kelas. Viola menghela napas, mencoba menenangkan perasaan yang sedari tadi kacau dengan beberapa pertanyaan yang mengusik ketenangan jiwanya.
“Kamu mau ngomongin apa, Al?”
Aldo berbalik dan berhenti tepat di hadapan Viola, “Tentang hubungan kita.”
Viola mengernyitkan dahi, “Apa yang harus kita bahas? Hubungan kita baik-baik aja kan?”
“Bagi kamu, tapi gak baikku.”
Viola bungkam. Dia menundukkan kepalanya enggan menatap Aldo yang masih menatapnya serius.
“Vi, apa rasa itu masih ada di hatimu untukku?”
Viola kembali mengarahkan tatapannya ke Aldo. Meremas kedua tangannya seperti biasa. Dia tidak menyangka pertanyaan itu melayang dari bibir Aldo. Begitu tajam hingga membuat Viola kebingungan menyusun kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Aldo.
“Kenapa kamu nanya gitu, Al?”
“Aku hanya ingin penjelasan. Aku gak ingin hanya menjadi pacar buat kamu, tapi tidak untuk hatimu, Vi!”