Perjalanan kali ini benar-benar membuat Viola senang bukan main. Bagaimana tidak, semula Alia yang ingin ikut liburan dan berhasil membuat Viola murung semalaman, akhirnya memutuskan untuk urung ikut pagi harinya karena paksaan Herman yang seolah mengerti, kalau Panji dan Viola ingin berlibur berdua. Hal itu jelas membuat Viola lega bukan main. Selama seminggu penuh, dia bisa bermain dengan Panji dan pergi ke mana pun yang dia inginkan. Ditambah lagi saat ini, Panji sengaja mengajak supir pribadinya di kantor untuk ikut. Hal itu membuat Viola sedikit lebih tenang untuk berlibur ke tempat-tempat berbeda di Jogja. Dia tidak perlu memikirkan apakah Panji akan lelah karena seharian menyetir mobil, atau tidak.
Namun biar gimana pun, Panji tetaplah sosok yang sama. Dia tidak akan bisa melepaskan supirnya begitu saja untuk membawa mobilnya. Sesekali Panji meminta Broto untuk bergantian dengannya. Duduk di sampingnya sedangkan Viola seorang diri di belakang. Viola yang selalu menahan kantuknya setiap kali Panji membawa mobil, terkadang menjadi bahan candaaan Panji padanya. Membuat Viola tersipu malu karena sering kali kedapatan kepalanya bergerak ke kanan dan kiri tanpa bisa dikendalikan karena rasa kantuk yang teramat sangat.
Panji memutuskan untuk berhenti sesaat di rest area. Broto yang sudah sejak setengah jam lalu menahan rasa ingin ke kamar mandi, langsung berlarian ke luar dari kamar mandi yang membuat Panji dan Viola tertawa. Panji sendiri memutuskan untuk membeli cemilan di minimarket yang tersedia, sedangkan Viola menantinya di mobil sembari bermain handphone.
Viola menoleh ke kaca depan saat sebuah mobil yang baru saja masuk ke rest area, berhenti dan parkir di depan mobilnya. Sesaat Viola mengerutkan kening. Mobil di hadapannya tampak tak asing di ingatannya. Viola mencoba mengingat mobil hitam besar yang baru saja mematikan mesin mobilnya. Seseorang lelaki berkaca mata hitam ke luar dari dalam, membuka kaca matanya sembari menyapukan pandangan. Viola yang melihat wajahnya, kaget bukan main. Ingatannya melayang jauh ke belakang, ke kejadian kecelakaan yang menimpanya.
Dia ingat lelaki itu. Lelaki yang sempat turun menghampirinya setelah menabraknya tanpa perasaan hingga tubuh Viola melayang jauh dari tempatnya berdiri semula. Namun bagai tak punya hati, lelaki itu yang ketakutan, langsung masuk kembali ke mobil dan membawa perginya pergi diiringi seruan semua orang yang berusaha mengejar dan menghentikannya. Viola masih sempat menangkap wajahnya, mobilnya, bahkan platnya walau samar. Namun yang paling diingat Viola adalah raut wajahnya yang begitu melekat diingatan.
Viola mencoba membuka mobilnya, berniat turun menghampir pelaku tak bertanggung jawab itu. Namun sialnya dikunci dari luar oleh Panji. Viola berbalik, melihat Panji yang baru saja ke luar dari minimarket dan berusaha memanggilnya. Viola kembali melihat ke lelaki yang entah apa maksudnya, malah kembali masuk ke dalam mobil, memundurkan mobilnya lantas pergi ke luar dari rest area. Viola kembali menjerit memanggil Panji yang mulai mendekat dengan mobil dan membuka pintu belakang tempat duduk supir. Kali ini giliran Broto yang membawa mobil, hal itu membuat Panji memutuskan memilih duduk di belakang bersama Viola.
“Kamu kenapa, Vi?” tanya Panji yang tampak panik melihat Viola menangis. Kondisinya masih terlihat panik, napasnya tidak beraturan yang membuat Panji langsung memberikan botol mineral ke Viola setelah membuka tutupnya. Namun sayangnya, Viola malah menolaknya.
“Ta-tadi, di-dia ada di-di sini!” ucap Viola yang sangkin paniknya, malah jadi gelagapan mengucapkan kalimat di hadapan Panji.
“Dia siapa?” tanya Panji sembari melihat ke sekitar parkiran yang tidak ada siapa pun, hanya beberapa mobil yang terparkir namun tidak berpenghuni.
“Di-dia, penabrakku!” ucap Viola yang jelas saja membuat Panji kaget bukan main. Viola yang mengarahkan telunjukkan ke arah jalan ke luar rest area, membuat Panji langsung turun dan berusaha menemukan orang yang dimaksud Viola. Atau sekedar mobilnya saja. Namun kosong, tidak ada apa pun di sana. Panji kembali masuk diikuti Broto yang lansgung masuk melalui pintu kemudi. Broto sendiri sedikit kaget saat mendapati kericuhan di dalam mobil.
“Sudah berapa lama dia pergi?” tanya Panji lantas menutup pintu mobil. “Jalan sekarang Pak Broto! Kita harus kejar mobil yang menabrak Viola dulu!”
“Baik, Pak.”
Panji kembali menatap Viola saat Broto mulai menggerakkan mobll, “Sudah berapa lama, Vi?” tanya Panji lagi yang kali ini dengan nada sedikit merendah. Dia takut, nada suaranya malah membuat Viola semakin histeris.
“Baru saja, beberapa detik sebelum kamu masuk ke dalam mobil.”
Panji langsung memeluk Viola yang masih saja mencoba mengatur napasnya, menghapus air matanya dan kembali memeluknya sembari memusatkan pandangan ke depan, mencoba mencari mobil yang dimaksudnya Viola.
Panji memang sempat mendengar dari Viola tentang wajah penabraknya, saat dirinya masih di rumah sakit pasca kecelakaan itu terjadi. Viola sempat mengatakan bahwa dia sempatmellihatnya. Penabrak itu sempat turun dari mobil dan menghampirinya sesaat. Namun kembali masuk dan meninggalkannya begitu saja di tengah jalan saat semua orang berlari mendekatinya. Bahkan bukan hanya dari Viola saja, nenek Uti pun juga melihatnya. Namun sayangnya, Nenek Uti hanya melihat dari kejauhan, tidak sejelas Viola yang bisa melihat wajah pelaku dari dekat.
Panji memberikan minuman ke Viola. Dia kini mulai terlihat tenang walau tetap saja kedua matanya, menyapu ke jalan yang di depan. Tidak ada tanda-tanda terlihat mobil yang dimaksudkan Viola sejak tadi. Ada beberapa mobil yang berhasil dilewati, namun sialnya mobil yang dimaksud Viola, tidak terlihat bahkan seteelah setengah jam perjalanan dari rest area.
“Mungkin dia sudah ke luar pintu gerbang tol yang lain, Pak,” ucap Broto yang membuat Panji menyetujui kalimatnya dengan mengangguk pelan.
Panji mengarahkan tatapannya ke Viola yang masih saja berusaha mencari, menegakkan lehernya untuk bisa melihat ke depan. Dia masih yakin bahwa dirinya bisa menemukan pelaku itu. Panji tidak ingin mengecewakannya saat ini. Panji hanya diam, tanpa berkata apa pun.
“Vio yakin dia masih ada di tol ini, Pak!” seru Viola sembari terus mencari di mana keberadaaan mobil itu berada.
Broto yang mendengar hal itu, langsung melihat ke Panji dari arah kaca spion di depannya. Panji mengangguk pelan seakan meminta Broto untuk terus mencari dan mengikuti apa pun yang diinginkan Viola. Broto mengangguk tanda mengerti, lantas kembali fokus dengan jalanan di depannya.
Panji sendiri sebenarnya mulai tidak terlalu yakin dengan apa yang dikatakan Viola. Bukan tentang ingatannya perihal wajah orang yang menabraknya, tapi tentang pengelihatan Viola tentang melihat orang tersebut berada di tol yang sama. Rasanya mustahil dia terlalu kencang melajukan mobilnya hingga sampai detik ini tidak terlihat. Seharusnya jika pemilik mobil tersebut baru saja ke luar dari rest area, Panji bisa mengejarnya. Namun ini tidak. Seolah mobil itu hilang ditelan bumi, hingga tidak lagi terlihat dan terkejar olehnya.
“Dia tadi ada, Bang!” ucap Viola tiba-tiba seolah mengetahui isi hati Panji saat itu.
Panji sesaat tersentak kaget, kembali menenangkan Viola yang mulai terlihat kecewa dengan kenyataan yang ada. Harapannya hilang begitu saja yang membuat Panji akhirnya memeluknya erat. Walau pun Panji sendiri tidak tahu apa rencana Viola saat bertemu dengan seseorang yang sudah merusak hidupnya, namun Panji menyadari, bahwa Viola benar-benar berharap akan pertemuan itu.
Bukan tidak ada niatan Panji untuk mencari pelaku itu, namun Viola sendirilah yang menutup kasusnya dan menahan Panji dan kedua orang tuanya untuk mencari tahu siapa penabrak itu. Bagi Viola, percuma saja dicari, kedua kakinya tidak akan pernah kembali walau orang itu dijebloskan ke dalam penjara atau malah di eksekusi mati sekali pun. Awalnya Panji merasa Viola sudah memaafkan orang itu dengan hati yang lapang. Ternyata tidak. Melihatnya sepanik ini saat bertemu dengan lelaki yang dianggapnya pelaku penabrak itu, membuat Panji yakin bahwa Viola sama sekali masih menaruh kekesalan pada orang tersebut. Dan hal itu juga terlihat di kedua matanya yang indah.
“Abang percaya sama Viola, kan?” tanya Viola menjauh dari pelukan Viola. Panji yang tidak kunjung membalas ucapannya sejak tadi, membuatnya mulai ragu dengan kepercayaan Panji pada apa yang dilihatnya tadi.
Sesaat Panji menatapnya dalam. Rasanya ingin sekali berkata jujur pada Viola bahwa dia kini mulai tidak mempercayainya tentang hal ini. Namun dia benar-benar merasa tidak teg ajika harus melihat Viola kecewa apa lagi di bulan madu yang selama ini sudah diharapkan Panji terjadi. Dia tidak ingin menghancurkan rencana indahnya kali ini. Panji akhirnya mengangguk pelan yang spontan saja menghadirkan ekspresi lega di wajahnya. Viola kembali menempelkan kepalanya di d**a Panji.
“Abang percaya sama kamu, Dek, tapi saat ini kita sudah mau sampai ke pintu gerbang Jogja. Kita sudahi aja pencariannya ya?” pinta Panji dengan nada suara pelan, ada Viola tidak tersinggung dengan permintaannya. “Kita sekarang fokus ke liburan kita. Nanti setelah ini, kita coba cari lagi. Lagi pula, Nenek sudah menanti kita di sana. Kasihan dia kalau harus menunggu-nunggu lama kehadiran kita, kan?” Panji terus menghasut Viola agar tidak lagi keukeh mencari orang yang dia maksudkan sejak tadi.
“Tapi tadi Viola benaran melihatnya, Bang,” ucap Viola yang terus saja meyakinkan Panji tentang apa yang dia lihat saat Panji dan Broto tidak bersamanya di dalam mobil.
“Iya, abang percaya itu. Tapi sekarang kamu harus ngerti posisinya, Dek. Pak Broto dan abang benar-benar sudah kelelahan kalau harus lanjut mencari mobil yang gak jelas ke mana arahnya. Bisa jadi dia sudah ke luar tol sejak tadi, bisa jadi di ke gerbang tol yang sama, atau bisa jadi dia malah terus ke gerbang tol selanjutnya. Kita kan gak pernah tau. Mau cari sampai mana coba?” tanya Panji lagi yang langsung terdengar helaan napas berat dari Viola. “Kalau kita lanjutkan ke gerbang berikutnya tapi ternyata dia sudah ke luar di gerbang sebelumnya, sia-sia aja, kan?”
Viola kembali menegakkan tubuhnya. Menatap Panji yang tetap teduh menatapnya, lantas menganggukan kepala pelan. Panji tersenyum saat menyadari Viola benar-benar mau mengerti kondisi tubuhnya dan Broto yang sudah mulai lelah menyetir mobil. Panji mengusap kepala Viola yang masih menatapnya walau dengan sedikit ekspresi kecewa di wajahnya.
“Kita pulang ke rumah nenek ya?” tanya Panji lagi sekedar memastikan arah tujuan mobilnya yang di bawa Broto kini.
“Iya, kita pulang,” jawab Viola dnegan nada manja yang membuat Panji gemas melihatnya.
“Pak, ke luar gerbang Jogja aja ya, kita berhenti mencari mobil itu,” pinta Panji.
“Baik, Pak,” jawab Broto lega bukan main. Broto sendiri sebenarnya masih sanggup membawa mobil ke mana pun permintaan bosnya. Namun melihat pencariannya seolah-seolah berada pada titik sia-sia, membuatnya merasa tidak ada gunanya lagi jika terus dipaksa melakukannya. Broto mengarahkan mobil ke pintu gerbang Jogja yang sudah berada di depan mata. Menempelkan kartu di tempatnya hingga membuat palang terbuka, lantas meloloskan mobil ke luar dari jalan tol menuju jalan ramai di kota Jogja yang juga sangat dia sukai.