Gritte melempar tasnya di atas tempat tidur. Dia tidak menyangka, kembalinya dia ke Indonesia, malah harus menerima kenyataan pahit tentang Panji yang ternyata sudah menikah. Gritte yang berharap besar tentang terjalinnya hubungan lebih serius bersama Panji, malah harus menelan pil pahit dengan kenyataan pernikahan Panji, bahkan dengan wanita yang selama ini selalu dia ceritakan sebagai adiknya sendiri.
Gritte sendiri merasa Viola tak pantas bersama Panji. Kondisi Viola yang tidka sempurna, apa lagi setelah mendengar semua penjelasan Panji tentang kejadian buruk yang menimpa Viola sampai dia harus duduk di kursi roda, membuat Gritte tidak rela jika Panji harus hidup bersama wanita cacat seperti Viola. Panji terlalu sempurna untuk menanggung semua hal itu. Seharusnya Panji bisa lebih bahagia dengan mendapatkan hal yang lebih sempurna bersamanya. Bersama wanita yang bisa mengurus semua keperluannya tanpa ada kekurangan sedikit pun.
Gritte berjalan ke depan cermin, menatap dirinya yang kini berdiri di sana. Dia lebih baik dari Viola yang kini hanya berharap pada kursi rodanya saja. Dia tidak akan leluasa melakukan apa pun yang sudah menjadi kewajibannya. Dan menurut cerita yang dia dengar, Panjilah yang masih mengurus Viola selama ini. Walau Panji tidak secara gamblang mengatakannya. Gritte benar-benar kesal bukan main. Ingin rasanya dia mengatakan ketidaksukaannya dan ketidaksetujuanya tentang pernikahan itu di hadapan Panji dan Viola langsung. Namun dia tidak ingin membuat Panji malah mengcapnya sebagai wanita yang tidak baik. Biar gimana pun, di mata Panji, Gritte harus terlihat sempurna, baik dari sikap mau pun ucapan.
Gritte kembali duduk di tempat tidur, meraih tasnya dan mengeluarkan handphone dari dalam. Gritte mencoba menghubungi seseorang yang tanpa harus menunggu lama, terdengar suara seorang lelaki dari seberang menjawab teleponnya.
“Sekarang juga, cari tau apa pun tentang kehidupan Panji dan Viola, terutama tempat kerja Panji. Aku ingin, besok bisa aku terima informasi terbaru tentang dia. Mengerti?!” tegas Gritte lantas mematikan panggilan setelah mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya. Gritte tersenyum simpul, lantas melempar handphonenya ke atas tempat tidur, sembari membaringkan tubuhnya menatap langit-langit apartemennya.
***
“Dia cantik,” ucap Viola sembari melihat Panji dari tempat tidur yang baru saja mengeringkan wajahnya sehabis mencucinya di kamar mandi. Ritual wajib yang dia lakukan sebelum tidur malam yang tak pernah diabaikannya.
Panji mengarahkan tatapan ke Viola. Dia tahu Viola cemburu saat itu. Ucapannya membuatnya secara tidak langsung mengerti, apa yang kini dirasakan Viola. Sejak tadi, lebih tepatnya setelah Gritte pulang, Viola selalu saja mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Dia mencoba tersenyum walau senyumannya terkesan terpaksa dia lakukan. Berulang kali Panji memaksanya untuk berkata jujur, namun tetap saja, Viola tidak menjawab apa pun yang dia tanyakan. Dan kini, tanpa diminta Viola akhirnya mengeluarkan pendapatnya tentang Gritte yang malah membuat Panji mengerti perasaannya saat ini.
Panji melangkah mendekat, duduk di hadapan Viola sembari tersenyum simpul. Dia sebenarnya sangat menyukai Viola saat dia cemburu padanya. Wajah lucu Viola, benar-benar gemas bukan main. Rasanya dia ingin mencubit kedua pipinya setiap kali kecemburuan hadir di wajahnya.
“Istriku cemburu?” ledek Panji yang langsung membuat Viola memanyunkan bibirnya.”Ya, kan? Istriku cemburu.”
“Apaan sih, gaklah!” jawab Viola sembari mengalihkan tatapannya ke sana dan ke mari. “Viola kan cuma bilang, Gritte cantik. Masa gitu aja dibilang cemburu!”
“Dari wajah dan mata kamu, gak bisa bohong, Sayang,” ledek Panji lagi. “Tapi aku suka kok. soalnya buat istriku marah itu mudah, tapi buat istriku cemburu itu susah bukan main!”
Viola tersenyum tipis mendengar ucapan Panji, menundukkan kepala yang langsung membuat Panji menghentikan tawanya, lantas mengusap kepalanya pelan yang membuat Viola kembali mengalihkan tatapannya ke Panji yang masih duduk di hadapannya.
“Dia memang cantik, tapi kan yang abang pilih bukan dia dari awal, yang abang pilih kamu kan, Dek?” tanya Panji berusaha meyakinkan Viola yang kembali pesimis dengan dirinya sendiri. “Gak semua hal bisa dibandingkan seperti itu, Dek. Ada beberapa hal yang sudah dipilih dan gak bisa diganggu gugat lagi. Salah satunya pilihan abang untuk wanita yang jadi istri abang.”
“Abang gak nyesal sudah milih Viola?” tanya Viola yang langsung dijawab Panji dengan gelengan kepala. “Tapi Viola kan….”
“Gak sempurna?” tanya Panji lagi yang langsung dijawab Viola dengan anggukan kepala. “Gak agh, kamu sempurna. Siapa bilang kamu gak sempurna.”
Viola tersenyum mendengarnya. Dia tidak ingin lagi membantah ucapan Panji yang selalu dia ucapkan setiap kali Viola bertanya hal yang sama tentang kedua kakinya. Dia tahu, Panji pasti muak bukan main dengan semua kalimat pertanyaannya. Apa lagi dengan semua sikap Viola yang selalu tidak percaya diri dengan keadaannya saat ini. Namun Viola sendiri sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa menerima semuanya. Tapi sayangnya rasa malunya lebih besar dari kekuatannya untuk bisa bangkit dan menerima segalanya.
“Udah agh, gak usah ngebahas hal ini lagi. Sekarang, kita cuma perlu mikirin proses yang harus kamu jalani mulai hari ini. Kamu harus bisa berjuang untuk adaptasi dengan hal baru nantinya. Kamu harus bisa kembali berjalan dengan bantuan kaki palsu itu.” Panji tersenyum lebar. “Aku ingin mewujudkan impian kamu untuk kembali berjalan lagi seperti dulu. Harus kuat ya?”
Viola menganggukkan kepala sembari membalas senyuman Panji yang terus terlempar padanya. Semenjak bertemu dengan Michella tadi, Viola mulai merasa yakin bahwa keputusannya untuk bisa memakai kaki palsu adalah tepat. Dia tidak salah menerima saran dari Bara yang selalu ingin yang terbaik untuknya dan juga Panji.
“Eh iya, Bang, besok kamu kerja?” tanya Viola yang langsung dijawab Panji dengan anggukan kepala.
“Kenapa?” tanya Panji.
“Aku besok sebenarnya pengen ke rumah nenek, cuma kan kalau ke sana gak bisa kalau gak nginap. Makanya aku ragu minta sama kamu untuk temanin aku ke sana.”
“Kenapa harus ragu?” tanya Panji lagi. “Kita kan bisa ke sana kapan saja, besok, lusa, bahkan malam ini pun kita bisa ke Jogja. Kita juga bisa nginap semingguan di sana kalau memang kamu mau nginap. Perusahaan itu kan milik kita, lagian semua pertemuan dengan klien sudah aku seelsaikan. Selama beberapa hari ke depan aku malah free. Kita bisa ke sana kalau kamu mau, sekalian kita liburan.” Panji tertawa nakal. “Semenjak menikah kan kita belum pernah bulan madu, benar, kan?”
Viola tersipu malu mendengarnya, menganggukkan kepala yang langsung kembali membuat Panji tertawa mendengarnya.
“Kita siap-siap hari ini, besok pagi kita berangkat. Tapi sebelum itu, abang mau ngasi tau papa mama dulu buat pamit. Bentar ya?”
Viola kembali menganggukkan kepala, dan menatap kepergian Panji yang ke luar dari kamar meninggalkannya. Viola tersenyum. Dia benar-benr bersyukur bisa mendapatkan Panji yang selalu mengerti perasaannya dan selalu menuruti apa pun yang dia inginkan tanpa harus dipaksa.