Bab 1. Kenyataan Pahit
"Ibu ingin kamu merelakan Adrian untuk menikah dengan kakakmu, Sovia."
Olivia Wirdana, seorang wanita cantik berambut hitam legam, terperangah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh ibunya. Pantas saja ibunya terus mendesaknya untuk segera pulang, ternyata ini permintaan ibunya.
Matanya yang coklat itu memandang wajah ibunya, mencari tahu apa yang membuat ibunya memintanya merelakan Ardian, kekasihnya selama tiga tahun.
"Sovia hamil anak Adrian, mereka harus menikah saat ini juga!"
Seolah tersambar petir di siang bolong, Olivia terkejut mendengar kabar tersebut. Dia menggelengkan kepalanya, tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan ibunya.
"Tidak, apa-apaan ini Buk? Kenapa kamu seperti ini? Aku tahu kak Sovia menyukai Adrian. Namun bukan seperti ini caranya, ini bukan lelucon Buk! Aku dan Adrian akan segera menikah!"
Ibunya tertawa sinis mendengar ucapan Olivia. "Menikah?" ucapnya sambil tertawa. "Kapan Adrian akan menikahimu, selama ini Adrian hanya menggantung dirimu. Kamu seharusnya sudah sadar dari awal bahwa Adrian tidak mencintaimu, dia mencintai kakakmu. Seharusnya kamu sadar itu, si-alan!"
"Sandra!" bentak seorang pria paruh baya, ayah Olivia. Dia menghampiri putrinya yang tengah bertengkar dengan istrinya.
"Kenapa, kenapa kamu terus saja membela anak haram ini, Mas?! Masih syukur aku menampungnya di rumah ini, jika aku tidak mempunyai hati yang baik, aku sama sekali tidak sudi menampung dosamu, Mas!!" teriak Sandra.
Olivia terkejut dan menatap ayahnya, mencari penjelasan.
"Ayah?" tanya Olivia, matanya yang coklat itu memandang ayahnya dengan pandangan yang dalam dan sedih.
Namun, sebelum ayahnya bisa menjawab, tubuhnya mulai terasa lemah. Olivia terjatuh pingsan di lantai.
"Olivia!" teriak ayahnya panik.
Tanpa ragu, ayah Olivia segera menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar. Dia segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan OOlivia
"Tolong periksa putri saya, dok!" Pinta Hans dengan wajah khawatir.
"Baik tuan, saya akan memeriksa nona Olivia." Jawab Dokter yang langsung memeriksa kondisi Olivia.
Sementara itu, Hans menarik tangan Sandra untuk keluar dari kamar Olivia, keduanya terlibat dalam pertengkaran sengit di ruang tengah. Sandra dengan keras berusaha meyakinkan Hans bahwa Olivia harus pergi dari rumah mereka, mengingatkan Hans bahwa Olivia adalah anak yang tidak sah dan tidak pantas tinggal bersama mereka. Namun, Hans menentang dengan gigih permintaan Sandra, bersikeras bahwa Olivia adalah putri mereka dan tidak akan diusir dari rumah.
"Sudahlah, Sandra! Kali ini kamu benar-benar melampaui batas! Mengapa kamu memberitahu rahasia ini kepada Olivia? Apakah kamu belum puas? Sovia sudah merebut Adrian dari Olivia, dan sekarang, kamu ingin merampas harapan terakhir Olivia?"
"Cih, melampaui batas?" Sandra tertawa sinis, melepaskan cekalan tangannya dari tangan Hans, suaminya.
"Siapa yang melampaui batas? Aku atau kamu, Mas? Kamu membawa anak yang tidak sah masuk ke dalam rumahku, kamu merusak hatiku, dan lebih buruk lagi, kamu membuat putriku kehilangan sosok ayahnya! Tidak hanya itu, aku juga kehilangan sosok suami!" Sandra melanjutkan dengan nada tajam.
"Hentikan omong kosongmu, Sandra!"
"Apa lagi, Mas? Mengapa kamu selalu membela anak yang tidak sah ini? Apakah kamu tidak pernah memikirkan perasaanku? Aku selalu merasa sakit hati setiap kali melihatnya, dia selalu mengingatkan ku kepada ibunya yang telah menghancurkan kehidupan rumah tanggaku!" Sandra berteriak, melepaskan semua unek-unek yang selama ini dia simpan sendiri.
"Cukup! Jangan mengatakan hal-hal seperti itu lagi, Olivia adalah putriku dan dia akan tetap menjadi putriku!"
Mendengar ucapan suaminya, Sandra semakin marah. Dia menatap tajam ke arah suaminya. "Dia bukan putrimu, dia adalah anak dari pria lain yang tidak pantas! Jangan terus mengorbankan perasaan keluargamu, Mas! Aku adalah istrimu, Sovia adalah anak kandungmu, kita berdua yang berhak mendapatkan kebahagiaan yang kamu berikan, bukan Olivia!" Teriak Sandra dengan meningkatkan suaranya.
Ditengah perdebatan yang panas, Sovia masuk ke dalam kamar Olivia. Dia melihat Olivia yang sudah sadar, tetapi pura-pura sedih dengan kondisinya. Dengan senyuman pahit di wajahnya, Sovia bertanya dengan nada khawatir kepada Olivia.
"Bagaimana kondisimu, Olivia?" Tanya Sovia, dia mendekati Olivia yang tengah merenung.
Olivia terkejut dengan kehadiran kakaknya, dia menatap Sovia dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu datang ke sini? Belum cukupkah kamu merebut kebahagiaanku? Kamu jahat, Kak! Apa salahku? Mengapa kamu mengambilnya dariku, mengapa?" Teriak Olivia dengan penuh kemarahan di hadapan Sovia, dia merasa terluka karena kakaknya mengkhianatinya dengan cara yang tidak terduga. Olivia selalu menghormati Sovia, dia selalu mengalah demi kakaknya, dan sekarang, apakah dia harus mengalah lagi? Merelakan calon suaminya demi keinginan kakaknya.
"Sttt... Jangan berteriak seperti itu, Olivia. Apa kamu lupa, aku sedang mengandung anak Adrian. Bagaimana kalau dia terkejut mendengar suara teriakanmu?" Ucap Sandra, sambil mengusap perutnya yang menunjukkan kehadiran sang janin kepada Olivia.
"Berhentilah berbicara omong kosong, Kak!"
Sovia tertawa sinis, dia menatap tajam ke arah Olivia. "Bagaimana rasanya, sakit bukan? Ya, itulah rasa yang dulu dirasakan oleh ibuku. Dia harus merasakan sakit hati karena perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya dengan wanita lain. Dan sekarang, kamu menanggung karma yang dilakukan oleh ibumu, seorang wanita penghibur yang telah membuat ayah dan ibuku selalu bertengkar. Karena ibumu, ayahku mengkhianati ibuku. Aku, yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, justru mendapatkan luka yang diberikan oleh ayah dan ibumu! Itu sangat menyakitkan, Olivia!" Teriak Sovia sambil mencekram dagu Olivia.
Olivia menatap kakaknya dengan rasa sakit yang mendalam, mengetahui perselingkuhan kakaknya dan calon suaminya yang mengakibatkan kehadiran sang buah hati di perut kakaknya. Namun, apa salahnya dirinya? Dia bahkan tidak mengetahui siapa ibunya sebenarnya. Rasanya sangat tidak adil jika dirinya harus menanggung konsekuensi dari perbuatan ibunya.
"Ini tidak adil, Kak!" Raung Olivia, sambil memukul dadanya yang sesak.
Melihat Olivia menangis, Sovia merasa semakin senang dan puas. "Kamu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan, Olivia. Kamu terlahir sebagai anak yang tidak sah, dan itulah sebabnya kamu tidak pantas mendapatkan cinta dan kebahagiaan sejati. Kamu hanya menjadi beban bagi keluarga ini."
"Dan satu lagi, nikmati karma atas perbuatan Ibumu. Nasibmu sangat buruk dengan terlahir dari seorang wanita penghibur, dan harus menanggung dosa yang tidak pernah kamu ketahui. Hahaha... Nikmati saja semua ini, aku akan senang jika nanti kamu melihat kebahagiaanku bersama Adrian. Kamu akan merasakan sakit yang pernah ibumu rasakan dulu." Sovia bangkit dari tempat duduknya, mengusap air matanya yang tadi menetes. Dia menepuk pundak Olivia. "Semangat, semangat untuk menghadapi karma-karma lainnya. Jangan lupa hadir di pernikahanku besok!"
Kata-kata Sovia menusuk hati Olivia seperti pisau. Air mata mengalir di pipinya saat dia mendengar kata-kata pahit dari kakaknya. Dia tidak pernah membayangkan bahwa keluarganya akan melakukan hal yang menyakitkan ini padanya. Apa kesalahan yang dia lakukan? Dia bahkan tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh ibunya. Olivia merasa semuanya tidak adil, hatinya sangat terluka.