Alden yang sejak siang tadi terus menerus bekerja di dalam kamar hotel akhirnya merasa penat. Dia memutuskan untuk melihat bintang seperti kemarin malam di taman hotel, sekalian mencari udara segar pikirnya. Hanya dengan baju kaos polos berwarna putih dan celana panjang berwarna biru dongker Alden turun ke taman hotel dengan menggunakan lift.
Dia berjalan santai di jalan setapak yang akan membawanya menuju taman, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Masih ada jarak beberapa meter lagi untuk Alden sampai ke taman hotel. Dia terpaku melihat orang yang duduk di taman hotel, perempuan yang sangat dicintainya Bening tengah duduk bersama seorang anak laki-laki yang tadi siang dilihatnya di restoran.
Wajah anak laki-laki itu terlihat jelas di indra penglihatan Alden, meskipun hanya diterangi lampu taman yang tidak terlalu terang Alden dapat dengan jelas melihatnya. Ingatannya sangat jelas tentang seperti apa dirinya saat masih kecil dulu, sekarang dia seperti melihat dia kecil dulu duduk berdampingan dengan Bening. Sedang bersenda gurau sambil tangannya menunjuk langit malam penuh bintang.
Hati Alden gamang, antara tidak percaya dan penasaran. Dia tidak sanggup jika pikirannya benar-benar terwujud. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika yang duduk bersama Bening itu anaknya. Rasa bersalah tiba-tiba menjalar di sepanjang aliran darahnya, jantungnya berdetak dua kali lipat.
Secara refleks Alden melangkahkan kakinya mendekat ke arah Bening dan Kevyn. Dia berjalan dalam diam, tidak ada kata-kata yang mampu terucap di dalam dirinya. Hingga Alden sampai di dekat Bening dan Kevyn wajah Kevyn semakin menguatkan dugaannya bahwa Kevyn adalah anaknya.
“Alden,” gumam Bening kaget saat mendapati sosok Alden berdiri di dekatnya.
“Bisa jelaskan apa yang kamu sembunyikan dari aku?” pinta Alden langsung, dia tidak ingin lagi membuang-buang waktunya untuk perkataan basa-basi. Sementara itu Kevyn hanya menatap bingung Ibunya dan Alden yang belum diketahuinya bahwa Alden adalah Ayahnya.
“Kevyn kamu tunggu di sini dulu ya sayang, Mama mau bicara sama Om ini dulu sebentar,” pesan Bening kepada Kevyn, Bening sudah memutuskan akan mengatakan semuanya walaupun dia harus menghadapi kemarahan Alden.
“Iya Bu,” sahut Kevyn yang kembali asyik menatap bintang-bintang di langit dan membiarkan Bening dan Alden berjalan sedikit menjauh dari Kevyn.
Alden dan Bening duduk bersama di bangku taman yang lain, keduanya duduk bersebelahan. Beberapa menit keduanya lalui dengan suara hening ketika Alden tidak tahan dan membuka suaranya dengan bertanya, “Apa Kevyn anakku?”
“Ya,” jawab Bening pelan. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Bening, dia tidak percaya bahwa Alden harus mengetahui keberadaan Kevyn dengan cara seperti ini.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya? Kamu memisahkan Ayah dan anak,” ujar Alden pelan. Hatinya sakit karena rasa bersalah di dalam dirinya. “Mungkin ini juga salahku yang tetap saja bersikeras pergi ke New York,” lanjutnya lagi penuh kepedihan.
Bening yang mendengar perkataan Alden itu akhirnya menangis, dia juga merasa bersalah karena sudah memisahkan Kevyn dengan Alden. “Aku minta maaf. Aku hanya ingin menepati janjiku untuk tidak hadir di dalam hidupmu,” ucap Bening di antara isak tangisnya.
“Janji? Kau tidak pernah berjanji apapun padaku Bening!” nada suara Alden menaik, bahkan dia mengeluarkan kata-kata sedikit kasar kepada Bening.
Dari jauh Kevyn memperhatikan Ibunya dan Alden, dia merasa khawatir saat melihat wajah marah Alden dan Ibunya yang menundukan kepala. Bergegas Kevyn turun dari bangku taman dan berlari menghampiri Alden dan Bening. Dia menatap garang Alden seraya berkata, “Om kenapa marah-marah sama Ibu Kevyn?!”
Baik Alden maupun Bening kaget melihat Kevyn yang berada di dekat mereka sedang menatap marah Alden. Bukannya memarahi Kevyn karena sudah menuduhnya, Alden justeru membawa Kevyn ke dalam pelukkannya. Didekapnya tubuh mungil itu penuh rasa bersalah dan kasih sayang. Bening semakin menangis karena bersalah dengan Alden dan Kevyn.
“Maafin Ayah sayang. Maaf Ayah baru menemui kamu sekarang,” bisik Alden kepada Kevyn yang terdiam di dalam pelukan Alden. Rasa nyaman dan rindu akan pelukan Alden yang bisa meyakinkan hati Kevyn bahwa Alden memanglah Ayahnya.
“Om Ayah Kevyn?” tanya Kevyn yang sedikit bingung dan tidak percaya.
Alden mengurai pelukkannya dengan Kevyn, dipegangnya kedua pundak Kevyn dengan lembut seraya menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Kevyn tadi. Kevyn mengalihkan pandangannya kepada Ibunya, meminta Ibunya untuk mengatakan sesuatu. Bening mengangguk menatap Kevyn, ikut menegaskan bahwa Alden memanglah Ayah Kevyn.
“Ayah,” ucap Kevyn pelan dan masuk ke dalam pelukan Alden. Rasa haru mendengar Kevyn memanggilnya Ayah membuat Alden meneteskan air matanya.
Bening merasa hatinya plong, dia merasa sudah benar mempertemukan Kevyn dengan Alden walaupun dalam keadaan yang tidak terduga seperti ini. Biarlah untuk saat ini dia tidak akan membicarakan langkah selanjutnya, dia tidak peduli jika nanti Alden meminta hak asuh atas Kevyn. Biarlah nanti Kevyn yang menentukan dia ingin ikut dengan siapa.
♥♥♥
Setelah acara pertemuan Ayah dan anak yang mengharu biru itu Bening, Kevyn dan Alden duduk bersama di bangku taman. Kevyn duduk di antara Ayah dan Ibunya, dia meminta Alden untuk menemaninya melihat bintang di langit. Alden yang mendengar permintaan Kevyn itu tentu langsung menyetujuinya.
“Nanti kalau sudah pulang ke Jakarta kita lihat bintang dengan teropong, bagaimana? Kevyn mau?” tanya Alden kepada Kevyn yang asyik menghitung bintang-bintang di langit.
“Bener Yah?! Kevyn mauuuu!” seru Kevyn girang, bahkan dia sampai menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung di banku taman.
Alden terkekeh kecil melihat betapa imut dan semangatnya Kevyn, diusapnya pelan kepala Kevyn penuh sayang. Bening yang melihat itu hanya dapat tersenyum senang, dia senang jika Kevyn dan Alden bahagia. “Nama panjang Kevyn siapa?” tanya Alden lagi yang merasa belum berkenalan dengan nama panjang anaknya itu.
Bening mulai kelabakan dan ingin mencegah Kevyn buka suara tetapi kalah cepat dengan Kevyn yang berkata dengan lantangnya, “Kevyn Albe Basupati!”
Kekehan kecil dan tatapan menggoda Kevyn berikan kepada Bening. Nama Albe dan Basupati membuat Alden merasa Bening sangat menghargai dirinya yang tidak tahu diri itu. Dulu saat masih bersama mereka merencanakan memberi nama tengah anak mereka dengan nama Albe yang diambil dari gabungan nama keduanya.
“Jangan menatapku seperti itu!” kata Bening yang merasa malu, dia bahkan menghindari tatapan mata Alden.
“Hahaha Bening Bening,” Alden tidak dapat menyembunyikan tawanya. Kontan saja wajah Bening tambah memerah mendengar suara tawa Alden itu.
“Kenapa Ayah ngetawain Ibu?” tanya Kevyn polos.
“Jangan katakan apapun!” ancam Bening kepada Alden saat Alden akan membuka suaranya memberitahu Kevyn. Dia tidak akan sanggup jika digoda Alden dan Kevyn di saat bersamaan.
“Ih Ibu kok galak! Pelit nih Ibu!” protes Kevyn yang mendengar ancaman Ibunya kepada Ayahnya.
“Iya Ibu pelit ya Kev, sudah Kevyn jangan dengerin Ibu yang lagi malu-malu meong itu,” kata Alden yang semakin semangat menggoda Bening.
“Malu-malu meong itu apa Yah?” tanya Kevyn yang justru penasaran dengan kosakata yang dipakai Alden.
“Ayo Ayah coba jelasin malu-malu meong itu apa,” tantang Bening sambil memeletkan lidahnya ke arah Alden.
Malam itu dihabiskan ketiganya melepas rindu, bahkan Alden dan Bening sangat menikmati saat-saat itu. Diam-diam keduanya merasa rindu mereka sedikit terobati. “Kevyn sudah tertidur. Ayo aku antar ke kamar kalian,” kata Alden yang membawa Kevyn yang tertidur di pangkuan Bening ke dalam gendongannya.
Keduanya berjalan berdampingan menuju kamar hotel Bening dengan Kevyn yang berada dalam gendongan Alden. Tidak ada yang bersuara atau berusaha membuka pembicaran. Sampai di kamar hotel Bening mempersilahkan Alden menidurkan Kevyn di ranjang.
“Aku pamit dulu,” pamit Alden di depan pintu kamar.
“Ehmm Mas,” panggil Bening yang sedikit ragu-ragu. Bahkan dia kembali memanggil Alden dengan panggilan Mas seperti saat keduanya masih menikah.
“Ya ada apa?” tanya Alden yang heran sekaligus merasa ada angin segar di dalam dadanya.
“Aku minta tolong kamu jangan katakan apa-apa dulu sama keluarga kamu. Aku gak mau Kevyn kaget nantinya,” ujar Bening yang terlihat gelisah karena dia memilin-milin kedua tangannya. “Biarkan dia memahami kondisi kita dulu, aku tidak akan melarang kamu untuk bertemu Kevyn kok,” lanjut Bening lagi sambil menatap Alden penuh permohonan.
Alden menghela nafasnya pelan, dia paham dengan maksud Bening tersebut. Belum lagi Mamanya yang memang tidak menyukai Bening, dia juga takut Kevyn akan diperlakukan tidak baik dengan Mamanya. “Baiklah,” setuju Alden akhirnya.
Lalu Alden merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya, disodorkannya ponsel tersebut kepada Bening seraya berkata, “Masukkan nomormu.”
Bening terlihat ragu-ragu tetapi akhirnya dia menggapai ponsel Alden dan mengetik nomornya. “Nanti aku hubungi,” kata Alden setelah Bening mengembalikan ponselnya.
Alden langsung pergi menjauh dari kamar hotel Bening, dia berjalan sambil tersenyum senang. Begitu juga Bening yang masih berdiri di depan kamar hotel sambil tersenyum melihat punggung tegap Alden. Walaupun dia tahu bahwa hidupnya akan berubah dan tidak akan sama lagi dengan dulu. Akan ada Alden yang akan selalu menemui Kevyn.
“Bu!” panggilan Kevyn membuyarkan lamunan Bening yang masih berada di depan pintu kamar. Bening melihat Kevyn yang terduduk di atas tempat tidur sambil mengusap-usap kedua matanya yang masih mengantuk.
“Iya sayang,” Bening menyahuti panggilan Kevyn dan langsung menutup pintu kamar dan menghampiri Kevyn di atas tempat tidur. “Ayo sikat gigi, cuci tangan dan kaki dulu baru lanjut tidur lagi,” kata Bening membantu Kevyn untuk turun dari tempat tidur dan membantu Kevyn ke kamar mandi.
“Bu Ayah mana?” tanya Kevyn saat sudah kembali berbaring di atas tempat tidur ditemani dengan Bening yang mengusap-usap kepala Kevyn.
“Ayah tidur di kamarnya sendiri,” jawab Bening yang sudah mulai mengantuk.
“Kenapa Ayah gak tidur di sini aja Bu?” Kevyn kembali bertanya dengan matanya yang sudah tidak kuat menahan kantuk lagi. Dia tidak perlu menunggu jawaban Ibunya untuk dapat terlelap tidur.