Lokasi pembuatan gudang baru dengan hotel tempat Bening menginap tidaklah terlalu jauh. Dia juga sudah menitipkan Kevyn di TPA hotel, jadi dia dapat bekerja dengan tenang. Bening kini sedang mensurvei lapangan bersama dengan beberapa direksi dan juga Alden beserta sekretarisnya. Keduanya belum ada bertegur sapa karena harus fokus mengurus pekerjaan mereka. Bening juga tidak ingin ambil pusing, walaupun kenyataannya dia sangat ingin mendengar suara Alden menyapanya.
“Jadi bagaimana? Konsep yang saya ajukan sudah cocok dengan kontur lahan bukan?” tanya Alden kepada direksi perusahaan Bening. Sementara itu, Bening tidak lepas dari buku catatan dan penanya untuk mencatat apa saja yang dibicarakan orang-orang penting itu.
Di dalam hati Bening merutuk, “Kenapa lama sekali selesainya.”
Rupanya Mahira sedari tadi memperhatikan Bening yang sedikit jenuh. Dia pun berusaha mendekat ke arah Bening dan berbisik, “Sabar ya Mbak, sebentar lagi juga kita makan siang.”
Bening yang mendengar kata-kata Mahira itu hanya bisa meringis malu karena ketahuan berwajah bete. “Ah saya hanya ingin cepat kembali ke hotel saja,” ujar Bening yang akhirnya memilih curhat karena kepalang tanggung sudah ketangkap basah mending basah sekalian.
“Loh gak ikut makan siang dulu Mbak?” tanya Mahira heran.
“Saya makan di hotel saja nanti,” jawab Bening singkat.
Tidak ada perkataan lebih lanjut dari Mahira, dia hanya mengangguk singkat saja. Terlebih lagi Mahira dipanggil oleh Alden yang meminta sesuatu dari Mahira. Bening tetap terus berjalan di barisan belakang, dia memperhatikan badan tinggi tegap Alden dari belakang. Berandai-andai badan dan punggung tegap itu kembali menjaganya dan Kevyn, tetapi itu hanya andai-andaian yang sulit tercapai bagi Bening.
Sampai selesai kunjungan mereka, semua sudah berkumpul di depan mobil masing-masing. “Pak Alden saya dan teman-teman tidak bisa makan siang bersama Anda karena harus ke kantor cabang. Sebagai perwakilan Ibu Bening yang akan menemani Anda makan siang,” ujar salah satu direksi di depan Bening yang kaget mendengarnya.
Bening langsung gelisah karena mengingat Kevyn yang pasti kelaparan. Masalahnya tadi dia sudah berjanji dengan Kevyn akan makan siang bersama. Bening tidak dapat berkata apa-apa saat semua direksi masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan lokasi. Hanya tinggal Alden, Bening dan Mahira.
“Mau makan siang dimana?” tanya Alden yang sedikit canggung kepada Bening.
Bening terlihat ragu-ragu untuk menjawab, dia memilin-milin tangannya bingung. Dan hal itu ternyata tertangkap indra penglihatan Alden, sebagai orang yang pernah hidup bersama Bening dia jelas sangat hafal dengan sikap Bening itu. “Jika kamu tidak bisa mungkin lain kali saja,” kata Alden langsung.
Mahira yang melihat tingkah laku mantan suami istri itu menjadi gregetan. Rasanya dia sangat ingin berteriak di depan muka keduanya, tetapi dia tidak akan melakukan itu karena Alden adalah atasannya. Bening juga menjadi merasa tidak enak hati menolak tawaran Alden itu, akhirnya dia berkata, “Bagaimana jika besok pagi kita sarapan bersama saja di hotel. Lagi pula besok para direksi tidak bisa meninjau lapangan lagi.”
Telinga Alden merasa ada yang salah saat mendengar ajakan sarapan dari Bening itu. Jantung terasa berhenti beberapa detik karena tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibir Bening. “Tentu saja!” seru Alden kelewat girang, bahkan senyum cerah tercetak jelas di wajah tampannya.
♥♥♥
Begitu sampai di hotel Bening langsung mengajak Kevyn untuk sarapan di restoran hotel yang tidak terlalu ramai. “Kevyn mau pesan apa?” tanya Bening kepada Kevyn yang sedang asyik memperhatikan gambar-gambar di dalam menu.
“Kevyn mau ini Bu,” Kevyn menunjuk sebuah gambar di dalam buku menu.
“Kevyn mau ayam goreng bumbu?” Bening memastikan sekali lagi pesanan anaknya itu sekali lagi. Walaupun Bening tahu Kevyn pastilah mengangguk, ayam goreng adalah makanan kesukaan Kevyn.
“Iya ayam goreng!” Kevyn menganggukkan kepalanya semangat.
Bening pun akhirnya memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka. Di saat yang bersamaan juga Alden masuk ke dalam restoran seorang diri. Kali ini tidak ada Mahira yang akan menghalangi Alden, atau bertingkah aneh agar Alden tidak bertemu dengan Bening dan Kevyn.
Dari arah Alden duduk, dia dapat melihat Bening yang duduk bersama seorang anak laki-laki. Bahkan Alden mencoba menajamkan penglihatannya untuk memastikan sosok yang duduk di sana Bening atau bukan. Sayang dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah Kevyn karena jarak mereka yang cukup jauh, terlebih Kevyn duduk membelakangi Alden, posisi Kevyn berhadapan dengan Bening.
“Jadi kamu sudah menikah lagi dan apa yang kamu bilang saat itu bohong,” ucap Alden berbicara sendiri. Tatapan matanya begitu sangat-sangat kecewa dengan Bening, ingin sekali dia menghampiri Bening dan meminta penjelasan semuanya kepada Bening.
Namun, Alden tidak sanggup jika harus mendengar kejujuran yang Bening utarakan. Tadi dia merasa begitu senang karena Bening mengajaknya sarapan bersama, sekarang dia paham maksud Bening hanyalah ingin menebus rasa bersalahnya karena telah menolak ajakan makan siang dengan dirinya.
“Maaf Bapak ingin pesan sekarang atau nanti?” tanya seorang pelayan yang sudah berdiri di sebelah meja Alden.
“Maaf saya tidak jadi pesan,” kata Alden yang langsung berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari restoran hotel. Pelayan yang berada di sana hanya bingung memperhatikan Alden yang pergi begitu saja.
Bening juga tanpa sengaja melihat sosok Alden yang berjalan ke luar restoran, dia bahkan sampai bergumam, “Apa dia melihat Kevyn.”
“Apa? Ibu bilang apa tadi?” tanya Kevyn yang tidak terlalu jelas mendengar gumaman Bening. Dia hanya mendengar namanya disebut-sebut oleh sang Ibu.
“Nggak. Bukan apa-apa,” Bening memberikan senyum manis kepada Kevyn dan membantu Kevyn untuk meminum es jeruk yang tadi dipesan Kevyn.
♥♥♥
Sebagai pelampiasannya Alden lebih memilih mengurung diri di kamar hotel dengan banyaknya berkas yang harus diperiksa dan dikerjakannya. Itu semua dilakukannya untuk melupakan pemandangan yang dilihatnya tadi siang. Walaupun rasa penasaran sangat menggunung di dalam diri Alden. Dia ingin tahu apakah anak itu anak suami baru Bening atau anak kandung Bening?
“Bisa saja dia sudah menikah sejak bertahun-tahun lalu,” Alden mulai kembali berbicara sendiri. Dia bahkan sampai mencoba menebak-nebak kira-kira anak laki-laki yang bersama Bening itu berumur berapa tahun.
Lain Alden yang sedang bingung dan penasaran, lain lagi Bening yang harus mendengar rengekan Kevyn yang menagih janji Ibunya untuk melihat bintang di taman hotel. Sudah sejak jam tujuh tadi Kevyn terus mengajak Bening untuk menuju taman. “Nanti ya sayang, kita makan malam dulu baru ke taman,” bujuk Bening yang membawa sepiring nasi ayam siram mendekat ke arah Kevyn.
“Tapi janji ya habis makan kita ke taman,” Kevyn dengan lucunya mengulurkan jari kelingkingnya dan menunggu Bening menyambut uluran jari kelingking itu dengan jari kelingking Bening.
“Janji!” Bening menautkan jari kelingkingnya. Akibat dari janji Bening itu Kevyn menjadi sangat lahap memakan makan malamnya. Dia bahkan terlihat cepat-cepat mengunyah makanannya sampai tersedak. “Pelan-pelan makannya Vyn,” peringat Bening yang sedikit geli dengan sikap semangat Kevyn.
Kevyn hanya mengagguk-anggukkan kepalanya menjawab peringatan sang Ibu. Dia masih tetap terus memasukkan nasi ke dalam mulutnya dengan lahap. “Ibu makannya cepetan,” ucap Kevyn di antara kunyahannya, beberapa nasi bahkan sampai tersembur keluar dari mulutnya. Membuat Bening dengan sabar mengumpuli butir-butir nasi itu.
Lima belas menit kemudian Kevyn dan Bening sudah dalam perjalanan menuju ke taman hotel. Makan super cepat Kevyn menjadi rekor terbaru yang dimiliki Kevyn, Bening bahkan sampai geleng-geleng kepala dengan kelakuan Kevyn itu. Meski senyum senang Bening pasti akan terus terbit melihat Kevyn yang tumbuh menjadi anak yang pintar.
Sampai di taman hotel Bening membawa Kevyn duduk di bangku taman yang diterangi oleh lampu-lampu taman. Beruntung langit malam saat itu sedang penuh dengan bintang, antusias Kevyn pun bertambah. Dia bahkan sampai berdecak kagum melihat kerlap-kerlip bintang di langit malam.
“Bu bintangnya banyak!” seru Kevyn semangat memberitahu Bening, tangan mungilnya menunjuk ke arah langit malam bertabur bintang.
“Iya. Kevyn senang?” tanya Bening yang duduk di sebelah Kevyn membenarkan letak jaket yang dikenakan Kevyn.
“Senang banget!!!”
Bening tersenyum menatap keceriaan Kevyn malam itu, sekali lagi rasa rindu menyeruak di dalam diri Bening. Dia rindu menatap bintang bersama dengan Alden, mengajukan banyak pertanyaan tentang rasi bintang kepada Alden. Dia menatap Kevyn dengan rasa bersalah, “Jika saja Ayah kamu ada di sini dia pasti akan mengajarkan Kevyn rasi bintang,” ujar Bening di dalam hati.
Kevyn sama sekali tidak menyadari perubahan suasana hati Ibunya, dia masih tetap asyik sendiri melihat bintang. Sesekali dia mencoba menghitung bintang-bintang itu dengan tangannya. Walaupun dia hanya baru dapat berhitung satu sampai dua puluh, kemudian saat sampai di bintang ke dua puluh dia akan menggaruk kepalanya bingung.
“Bu! Habis dua puluh berapa?” tanya Kevyn membuyarkan lamunan Bening.
“Habis dua puluh itu duaaa puluhhh saatuuu,” kata Bening menjawab pertanyaan Kevyn sambil mengajari Kevyn menyebut angka dua puluh satu.
“Duaaaa puluhhh satuuu?” Kevyn menunjukkan jari telunjuknya kepada Bening.
“Iya satu, selanjutnya diikuti dua dan seterusnya sampai sembilan,” Bening dengan sabar mengajari Kevyn. Dia bahkan membentuk angka sembilan dengan jari tangannya.
“Habis duaaaa puluhhh sembilaaan berarti dua puluhh puluhh ya Bu?” Kevyn bertanya lagi dengan polosnya. Tidak tahan Bening sampai terkekeh geli dengan kata-kata Kevyn itu.
“Habis dua puluh sembilan itu angka tigaaa puluhhh,” kata Bening setelah berhasil menguasai kekehannya yang hampir saja berubah menjadi tertawa ngakak.
Kevyn hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda dia mengerti. Kevyn anak yang mudah menangkap, jadi hanya cukup satu kali Bening mengajarinya dan selanjutnya dia akan paham dan mengingatnya terus. Seperti sekarang, dia mempraktekan ilmu barunya dengan melanjutkan hitungan bintangnya sampai tiga puluh.
Tanpa Bening dan Kevyn sadari dari jauh ada yang menatap keakraban keduanya. Orang itu berdiri terpaku melihat wajah Kevyn yang terlihat cukup jelas karena mereka duduk di dekat lampu taman. Orang itu Alden, kakinya terasa berat saat melihat dirinya versi kecil duduk di sebelah Bening.