Masih tentang video Alden dan Bening yang cukup membuat heboh beberapa karyawan Alden dan rekan kerja Bening. Bahkan video tersebut sudah dilihat oleh Soraya, Ibu Alden itu sampai memerah mukanya ketika melihat video tersebut. Terpaksa dia harus berangkat menemui Alden hari ini.
“Memangnya apa masalah yang ditimbulkan video itu buat Mama?” tanya Alden yang mulai risih dengan Soraya yang semakin jelas berusaha menjauhkannya dari Bening.
Soraya menatap Alden dalam lalu dia berkata, “Mama Cuma minta kamu ketemuan sama Rexa saja susah.”
Alden menghela nafasnya pelan, dia tahu dan sangat paham bahwa inti pembicaraan mereka adalah tentang Rexa dan ambisi Soraya untuk menjadikan Rexa menantunya. “Ma apa sih salah Bening sama Mama?” Alden terlihat frustasi saat menanyakan hal tersebut kepada Soraya.
“Untuk saat ini kamu gak perlu tau. Bening dan kamu itu sulit untuk bersama,” ujar Soraya yang sok misterius.
“Ma! Alden ini udah 27 tahun. Alden bisa milih yang baik dan buruk mana yang Alden cinta dan nggak Ma!” balas Alden yang tidak terima dengan sikap Mamanya yang terlalu berlebihan itu.
“Sudah Mama males berdebat sama kamu. Pokoknya pulang kamu dari Bandung kamu harus ketemu sama Rexa,” putus Soraya tidak ingin diganggu gugat.
“Terserah Mama!” Alden terlihat sudah kehabisan akal untuk membantah dan memberikan penjelasan kepada Mamanya itu.
Dibiarkannya saja Soraya pergi dari ruangannya, Alden tidak berniat untuk meminta maaf atas nada suaranya yang sedikit meninggi itu. Semenjak Mamanya bercerai dengan Papanya, Alden merasa Mamanya banyak berubah. Tidak terlihat seperti seorang Ibu yang lemah lembut seperti dulu, Alden ingin bertanya kepada Mamanya namun diurungkannya.
Belakangan ini Alden juga sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Papanya yang super sibuk itu. Orang tua Alden bercerai sejak dua tahun lalu, tidak jelas apa permasalahan keduanya. Yang mengajukan perceraian adalah Soraya. Di umur pernikahan mereka yang sudah 35 tahun justru perceraian tetap dapat terjadi.
♥♥♥
Hari Jum’at pagi Bening sudah bersiap-siap bersama Kevyn. Mereka akan berangkat menuju Bandung untuk meninjau lokasi pembangunan Gudang. Bening terpaksa berangkat ke Bandung dikarenakan Fahreza sedang berada di luar kota selama satu minggu kedepan, itu artinya minggu depan dia juga yang akan menggantikan Fahreza lagi.
Bening dan Kevyn berangkat ke Bandung dengan mobil dan sopir kantor. Selama perjalanan menuju Bandung Kevyn tertidur lelap. Sedangkan Bening melamunkan pertemuannya nanti dengan Alden di sana. Apalagi ada kemungkinan besar Alden dapat bertemu Kevyn di Bandung. Sudah pasti mereka akan satu hotel dan kemungkinan besar Alden bertemu Kevyn sangatlah besar.
“Mari Bu biar saya bantu gendong anaknya,” tawar Pak Bejo yang merupakan sopir kantor yang mengantar Bening ke Bandung, saat sampai di hotel Kevyn masih tertidur lelap.
“Ah gak papa Pak saya bisa sendiri kok,” tolak Bening halus sambil membenarkan posisi tidur Kevyn di dalam gendongannya. Sedangkan barang-barangnya dibawa oleh bellboy hotel.
Bening dengan Kevyn di dalam gendongannya melakukan cek in di resepsionis hotel. Dari pintu masuk kebetulan Alden masuk bersama dengan Mahira. Melihat ada Bening yang menggendong Kevyn cepat-cepat Mahira berusaha mengalihkan perhatian Alden, Mahira sendiri sudah tahu bahwa Kevyn adalah anak Alden dari Naura. Untuk saat ini Mahira tidak akan memberitahu Alden dulu, dia ingin mengetahui alasan mereka bercerai. Anggap saja sebagai hutang budi Mahira terhadap Alden yang mau menerimanya yang hanya lulusan SMP itu.
“Pak saya rasa kita perlu makan dulu deh Pak. Ini sudah mau jam 12 siang,” ujar Mahira sambil melirik-lirik ke arah Bening yang masih berada di depan meja resepsionis.
“Ya sudah makan siang di hotel saja, saya ada banyak kerjaan yang harus dikerjakan,” kata Alden lagi dan langsung memutar badannya menghadap arah meja resepsionis.
“Aduh Pak! Kita makan di luar saja ya Pak. Bayar sendiri-sendiri kok Pak saya gak minta traktirin Bapak kok,” Mahira memutar tubuh Alden dengan paksa sambil mengoceh tiada henti. Membuat Alden bingung dengan tingkah Mahira sekarang, yang dia tahu Mahira tidak pernah bersikap aneh seperti sekarang di depannya.
“Kamu salah makan obat?” tanya Alden dengan alisnya yang naik sebelah.
Mendengar pertanyaan Alden itu Mahira justru berusaha kuat menahan malunya, dia bahkan masih sempat-sempatnya sekali lagi melirik ke arah meja resepsionis. Kemudian dia bernafas lega karena sosok Bening sudah tidak ada di sana. Mahira menatap Alden yang sedang melihatnya aneh, dia hanya dapat memberikan senyum garing yang terlihat sangat kaku.
“Kamu sepertinya perlu istirahat. Saya akan makan siang sendiri, kamu makan di kamar saja lalu langsung istirahat,” ucap Alden sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Mahira.
“Dasar b**o kamu Mahira,” rutuk Mahira pada dirinya sendiri.
♥♥♥
Malam hari di Bandung Bening dibuat pusing mendengar rengekan Kevyn yang minta ditemani melihat bintang di taman hotel. “Ibu capek banget Nak. Besok malam saja ya,” rayu Bening sambil mencoba membuat muka pura-pura lemas.
“Ibu pura-pura aja ih! Kevyn cuma minta temenin sebentar Bu,” ujar Kevyn yang sedang berjongkok di lantai kamar di depan jendela kaca melihat ke arah langit malam yang bertabur bintang.
“Kita lihat bintangnya dari sini saja ya Nak,” bujuk Bening lagi.
“Ah Ibu!” Kevyn menatap Bening dengan wajahnya yang memelas. Tetapi, Bening sedang tidak ingin dibantah. Dia benar-benar sedang merasa sangat lelah, untuk turun dari tempat tidur saja rasanya sangat lelah bagi Bening saat ini. “Iya deh. Tapi besok malam kita lihat bintang di taman bawah yang banyak lampu itu ya Bu,” oceh Kevyn yang akhirnya menyerah juga merengek.
“Iya buat pangeran apa sih yang enggak,” ujar Bening menanggapi ocehan Kevyn. Bening mencoba memejamkan matanya pelan sambil kemudian berkata, “Ayo sekarang tidur Nak. Besok Ibu harus bangun pagi.”
“Siap kapten!” seru Kevyn langsung berlari naik ke atas tempat tidur dengan membiarkan gorden jendela tetap terbuka menampilkan bintang-bintang yang bertaburan indah di langit malam.
Kedua Ibu dan anak itu pun akhirnya tertidur lelap sambil berpelukkan. Malam mereka di Bandung tidaklah begitu buruk, terlebih lagi ada banyak bintang yang menjaga keduanya di dalam tidur. Kebahagian keduanya sangat sederhana, dimanapun keduanya berada asal bersama pasti akan ada kebahagiaan di sana. Apalagi Bening, baginya asalkan ada Kevyn di dekatnya dia akan tetap kuat.
♥♥♥
Alden dan Kevyn memiliki ketertarikan yang sama, keduanya sama sama tertarik dengan bintang. Alden bahkan mempelajari rasi bintang, lima tahun lalu saat langit cerah Alden akan mengajak Bening ke taman belakang rumah untuk melihat bintang. Bahkan Alden memiliki sebuah teropong bintang di rumahnya.
Sayang semenjak dia bercerai dengan Bening kebiasaan itu sudah tidak pernah dia lakukan lagi. Tetapi pengecualian untuk malam ini, Alden duduk sendirian di bangku taman hotel sambil memandangi langit malam yang cerah. Banyak bintang bertaburan di langit malam yang luas.
“Bening,” gumam Alden memanggil nama Bening.
Pikiran Alden melayang kepada sosok Bening, dia tidak dapat tidur malam itu karena terus-terusan memikirkan Bening dan tingkah lebay Mamanya. Belum lagi dia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Bening besok. Mereka sekarang sudah menjadi artis dadakan dengan drama yang dibuat oleh Alden.
“Apa aku harus terlihat baik-baik saja di depanmu?” Alden menatap langit malam. Seolah-olah dia sedang berbicara dengan Bening saat itu.
Mereka menginap di tempat yang sama, tetapi jika takdir berkehendak untuk tidak mempertemukan mereka sebelum urusan pekerjaan dimulai Alden bisa apa? Dia hanya bisa terus berharap agar takdir memberikan akhir yang bahagia untuk Bening. Mungkin terdengar sangat memuakkan jika Alden mengutarakan bahwa dia akan bahagia jika Bening juga bahagia.
“Aku memang manusia munafik. Ini semua terjadi karena dirimu,” Alden masih berbicara sendiri sambil kepalanya bersandar pada sandaran kursi menjadi posisi mendongak ke langit.
Menjadi orang gila karena cinta mungkin bukan Alden satu-satunya. Ada banyak orang yang tertawa karena cinta, menangis karena cinta dan menghayal karena cinta. Sepertinya galau Alden sudah hampir mencapai batas maximum. “Andai saat itu kamu bilang kamu bahagia hidup bersamaku, kamu bilang kamu menyesal cerai denganku,” ujar Alden berandai-andai sendiri.
Dia mengingat pertemuan terakhirnya dengan Bening di dalam cafe. Saat dimana Bening menjawab pertanyaannya dengan dua pemahaman berbeda yang ditangkap Alden. “Jika kamu tidak mencintaiku kenapa kamu belum menikah juga?” tanya Alden yang masih terus menghayal Bening ada di depannya.
Sementara itu dari kejauhan ada seseorang yang sedang memperhatikan Alden. Berdiri di ujung jalan setapak menuju taman Mahira, ada rasa kasihan dan simpati yang terpancar dari bola mata Mahira melihat Alden begitu hancur. Baru kali ini dia melihat seseorang begitu sangat-sangat hancur karena cinta.
“Alden saja semenderita ini, bagaimana dengan Bening?” gumam Mahira pada dirinya sendiri. Pertanyaan yang dapat terjawab jika dia bertemu langsung dengan Bening, melihat Bening secara langsung.
Perempuan yang menurut Mahira seorang wonder woman. Bening mampu hidup dalam ketidakadilan cinta dan mampu membesarkan Kevyn sendirian. Mahira juga penasaran apa yang menjadi alasan mereka bercerai. Menurut informasi yang didapatnya dari Naura yang merupakan sepupunya yaitu Bening masih sangat mencintai mantan suaminya.
Sudah jadi rahasia umum jika atasan Bening menaruh hati kepadanya. “Hati manusia itu hanya manusia itu sendiri yang tahu. Hancur atau tidaknya mereka,” tiba-tiba seseorang muncul di samping Mahira.
“Siapa kamu?” tanya Mahira yang langsung waspada. Dia melihat laki-laki itu dengan teliti, wajah laki-laki itu tidak Mahira kenali. Itu artinya ini pertama kalinya mereka bertemu.
“Aku? Manusia,” jawab laki-laki itu enteng tanpa sedikit pun merasa bersalah karena telah mengagetkan Mahira.
Merasa tidak kenal dengan laki-laki itu Mahira memilih menjauhi taman. Dia kembali masuk ke dalam hotel, tanpa diduga laki-laki itu mengikuti Mahira seraya berkata, “Aku tunggu kamu di restoran besok pagi. Kita sarapan bersama.” Mahir serasa ingin muntah saat melihat tingkah genit laki-laki itu, dia bahkan menghadiahi Mahira sebuah kedipan mata menjijikkan.