Pagi ini arunika masih belum nampak. Tetapi gadis lugu itu telah siap dengan tangtop putih yang di balut dengan hoodie crop top berwarna sedana. Di padupadankan dengan rok levis selutut yang menampilkan kaki jenjangnya.
Rambut sebahunya ia kuncir sebagian. Wajah kuning langsat nya hanya di poles bedak tipis dan liblam untuk bibir merah muda alami tersebut.
Hari ini ia akan pergi ke Surabaya untuk tiga hari ke depan. Ya, olimpiade setingkat Jawa-Bali itu akan di laksanakan selama tiga hari. Meesa menyeret koper miliknya, pagi ini pesawatnya akan take off jam delapan.
Untuk mempersingkat waktu, pihak sekolah memilih jalur udara untuk pergi ke Surabaya. Mereka akan berangkat sama-sama dari sekolah ke bandara, itu sebabnya Meesa harus bersiap meski hari masih petang.
Jayendra tersenyum hangat menyambut Meesa yang hendak menuruni anak tangga. Ia mengambil alih koper yang di bawa oleh Meesa.
“Pagi, Putri Kesayangan Ayah. Cantik banget sih,” sapa Jayendra di ujung tangga.
“Pagi, Ayah. Meesa kan selalu cantik, Yah. Hahaha.” Meesa terkekeh ringan mendengar sanjungan sang ayah.
“Keduanya tertawa bersama menuruni anak tangga. Di lantai dasar, Elakshi ternyata sudah menunggunya juga. Wanita cantik itu membawakan sekotak bekal makanan kesukaan Meesa.
“Kamu mau sarapan apa?” tanya nya pada Meesa.
“Apapun makanan yang di buatin Bunda, Meesa pasti makan.”
“Kamu bisa aja.”
Elakshi menyiapkan nasi goreng dengan telur mata sapi, makanan favorit Meesa. Meja makan nampak sepi, karena memang saat ini masih jam lima pagi. Seusai makan, Meesa pergi dulu ke kamar Denallie. Ia ingin berpamitan pada Denallie.
“Assalamu’alaikum, Nek,” salamnya saat memasuki kamar Denallie.
Denallie tersenyum hangat terbaring lemas di ranjang.
“Wa’alaikumussalam. Masuk, Sayang.”
Meesa mendekat, ia duduk bersimpuh di samping ranjang milik Denallie.
“Jangan duduk di situ. Itu dingin, Lavanya. Duduklah di samping Nenek,” titahnya.
Meesa menggeleng lemah, ia menatap sendu keadaan Denallie yang tengahh terbaring lemas.
“Lava mau izin berangkat ke Surabaya. Doain Lava ya, Nek. Nenek juga harus janji, kalau Meesa pulang Nenek harus sembuh,” pamit Meesa begitu lembut.
Meesa meraih tangan keriput milik Denallie, menciumnya beberapa kali sebagai tanda sayang. Sementara Denallie tersenyum hangat, ia mengusap rambut sebahu itu.
“Nenek tau kamu pasti bisa. Nanti kalau kamu pulang bawa piala, Nenek janji, Nenek akan buatin cake lava kesukaan kamu.”
“Lava sayang Nenek.”
Meesa memeluk Denallie begitu erat, seperti enggan berpisah dengan sang nenek.
“Nenek jauh menyayangi kamu. Hati-hati ya, Sayang. Jaga kesehatan di sana. Menang atau kalah itu hal biasa, Nenek selalu bangga sama kamu,” pesan Denallie lemas.
“Iya, Nek. Ya udah, Lava pergi dulu ya. Nenek juga harus janji untuk sembuh.”
“Iya, Sayang.”
Denallie mencium kening Meesa begitu lama, kemudian ia juga mencium kedua pipi cubby milik Meesa dan yang terakhir dia mencium hidung mungil itu.
Sebelum meninggalkan Denallie, Meesa memberanikan diri berpamitan pada Atreya. Ia berjalan lambat menuju Atreya yang sedang asik duduk di kursi goyang sembari melihat ke arah pemandangan taman samping dari jendela.
“Kakek, Lavanya ingin meminta izin mau pergi ke Surabaya, doain Lavanya ya.”
Meesa hendak mencium tangan Atreya, namun pria yang berusia enam dekade tersebut menghempaskan tanganya kasar.
“Jangan sentuh saya. Pergilah, saya tidak peduli. Kalau bisa jangan kembali lagi,” sinisnya menatap tajam Meesa.
“Mas! Jangan seperti itu,” tegur Denallie.
“Apa? Kenapa kamu terus membelanya. Dia itu tidak berguna. Perempuan apa yang tidak bisa masak dan tidak becus beberes rumah.”
“Lava, jangan dengarkan kata Kakek mu.”
“Maaf, Kek. Lavanya pamit ya.”
“Ingat, Lavanya. Jangan sekali-kali kamu mengadu ke ayah atau bunda mu. Tapi tidak masalah, ngadu aja gak papa. Dan kamu akan tahu akibatnya,” ancam Atreya tajam.
“Iya, Kek. Lavanya tidak akan mengadu ke siapapun.”
“Bagus, pergilah!”
Meesa pergi dari kamar Denallie. Ia menghela nafas sejenak kemudian kembali menerbitkan senyum manisnya. Seakan tak terjadi apa-apa, Meesa berjalan riang ke arah Jayendra dan Elakshi yang telah menunggunya di halaman depan.
“Meesa mau berangkat ya?” sapa Ekavira yang masih menggunakan piyama tidurnya.
“Kak Vira. Iya. Doain Meesa ya, Kak.”
“Pasti dong. Jangan lupa bawain oleh-oleh ya.”
“Hahaha, siap Kak.”
Setelah berpamitan dengan Ekavira Meesa memasuki mobil milik Jayendra yang telah di panaskan. Cukup lima belas menit ia sampai di pelataran SMP Nabastala karena jalanan begitu lenggang pagi ini.
Meesa tersenyum riang, saat melihat Gavesha dan Davendra melambaikan tangan ke arahnya. Jayendra memberikan koper milik Meesa, ia mengusap lembut rambut sebahu yang telah di kucir rapi sebagianya.
“Hati-hati ya, Sayang. Menang kalah itu biasa, yang terpenting kamu sehat dan pulang dengan selamat,” pesan Jayendra begitu lembut.
“Iya, Ayah. Meesa janji. Ayah juga jaga kesehatan. Jangan terlalu di fotsir kerjanya.”
Meesa memeluk Jayendra erat, tingginya hanya tiga puluh senti meter lebih pendek dari Jayendra pria itu.
“Khem, gak mau peluk Bunda juga?” goda Elakshi yang baru saja keluar dari mobil.
“Hehehe, Meesa juga sayang Bunda. Bunda sehat-sehat juga ya. Nanti jemput Meesa.”
“Iya, Sayang. Jaga kesehatan ya. Jangan lupa kewajibanya. Bunda selalu bangga sama Meesa.”
“Ya udah, Meesa ke teman-teman ya. Ayah hati-hati nyetirnya. Semangat juga ke kantornya nanti!”
“Siap, Komandan! Kalau kamu menang, nanti Ayah kasih hadiah. Apapun yang kamu mau pasti Ayah belikan.”
“Makasih, Meesa akan membanggakan Ayah dan Bunda.”
Meesa berjalan riang ke arah perwakilan olimpiade lainya. Ada delapan perwakilan yang akan berangkat hari ini. Serta ada tiga guru pendamping. Meesa berdiri di tengah antara Gavesha dan Davendra.
Tak bisa di pungkiri penampilan feminim Meesa hari ini terlihat begitu menawan. Bahkan tiga peserta cowok tak dapat memalingkan pandangan mereka dari Meesa.
“Lo cantik banget hari ini, hahahaha,” puji Gavesha jujur.
“Lo juga cantik.”
“Tapi masih cantikan lo.”
“Gavesha juga cantik kok. Cantik banget,” kekeh Meesa tak ingin mengalah.
“Dasar cewek,” cibir Davendra.
“Apa lo?” sewot Gavesha.
“Udah, Gave. Masih pagi ini,” peringat Meesa saat merasakan ada signal-signal peperangan.
Mereka berbincang sejenak, Meesa terlihat lebih mendominasi karena sifatnya yang ramah dan mudah bergaul.
“Mes, jangan lupa follback i********: gue ya,” kata Shankara. Laki-laki bertubuh jakun dari kelas bahasa.
“Iya, Shankara. Udah ya.”
“Makasih, Mes.”
“Sama-sama.”
“Mas Mes Mas Mes, lo pikir Omes,” celetuk Davendra.
“Dih sensi aja lo. Lo suka sama Meesa?” goda Shankara menaik turunkan alisnya.
“Kan dia temen gue.”
“Temen apa demen?”
“Y-ya te-temen lah. Apasih lo, gak jelas,” gagap Davendra.
“Hahaha, wajar sih kalau lo suka sama Meesa. Cantik, pinter, baik, ramah. Tapi inget, dia juga baik ke semua orang. Hahaha,” kekeh Shakara yang di hadiahi tonyoran dari Davendra.
Candaan mereka terhenti karena mereka harus segera pergi ke bandara. Pihak sekolah menyediakan bus kecil dengan fasilitas yang tak sembarangan tentunya untuk mengantar jemput mereka nantinya.
“Anak-anak mengingat waktu sudah mepet, ayo kalian segera naik ke bus. Kita akan berangkat ke bandara sekarang,” ucap Bu Wikrama menginstrupsi.
“Baik, Bu.”
Semua memasuki bus. Butuh setidaknya setengah jam menuju bandara. Tidak terlalu berdesakan karena memang hanya delapan orang siswa dan tiga orang guru pendamping. Jadi mereka bisa memilih leluasa tempat duduk masing-masing.
“Sa, duduk sama gue ya.”
“Iya, Gavesha.”
Saat hendak memasuki bus, Meesa seperti kesusahan. Lal, laki-laki dari kelas sosial membantunya. Lal merupakan sosok laki-laki dingin dengan sejuta pengagum. Laki-laki yang di juluki pangeran SMP Nabastala itu terkenal dengan sifat dingin dan irit bicarakan. Namun jangan ragukan kepintaranya, dia merupakan saingan berat Gavesha di peringkat paralel.
“Terima kasih,” tulus Meesa saat Lal membawakan kopernya.
“Hm,” dehem Lal menjawab singkat.
Meesa masih tidak menyangka. Padahal arti Lal dalam bahasa sansekerta berarti kasih sayang. Tapi kenapa laki-laki itu bersikap begitu dingin seperti tidak ada kasih sayang yang terpancar.
Gavesha memekik, “Lal barusan nolongin lo? Sumpah sih gue iri sama lo. Tumben banget tuh anak peduli sama sekitar.”
“Apasih, Gave. Lal tuh cuman nolongin gue. Tadi kopernya nyangkut.”
“Hahaha, eh tapi lo sama Lal cocok tau. Cantik sama ganteng, terus sama-sama tinggi lagi. Gue gak bayangin gimana nanti anak kalian.”
“Hush, jangan ngaco. Kejauhan mikirnya sampai anak-anak segala,” tegur Meesa.
Gavesha terkekeh. Dia senang menjahili Meesa, apalagi melihat wajah malu-malu gadis itu. Sangat menggemaskan, ia yakin siapapun juga sangat gemas melihat wajah malu-malu milik Meesa.