Siang ini bentala nampak bercuaca bergitu panas. Sang baskara bahkan tepat berada di atas di kepala. Meski tidak ada keluhan dari bibir pucaat itu, sesekali tanganya mengusap dahi yang telah berkelucur keringat.
“Lo sakit, Sa?” tanya Gavesha yang memperhatikan Meesa
Saat ini mereka tengah praktik mmebuat kerajinan dari tanah liat di lapangan.
“Nggak kok. Cuman kepanasan aja.”
“Ya udah kita pindah. Cari tempat yang lebih teduh ya,” tawar Gavesha.
“Iya. lo gak panas?”
Gavesha terkekeh renyah, “udah biasa gue. Hujan badai, angin ribut, halilintar, juga gue trobos.”
“Hahaha, bisa aja lo.”
Seluruhnya memang tengah berkelompok dengan teman sebangku. Meesa dan Gavesha memilih untuk membuat vas bunga. Hampir selesai, hanya tinggal menjemur saja. Mereka memebersihkan diri sejenak, kemudian kembali bergabung ke lapangan.
“Lama banget sih, Dave. Gue dong sama Meesa udah selesai,” ejek Gavesha yang menggoda Davendra.
“Diem lo,” sinis Davendra tajam.”
“Hahaha.”
Meesa hanya menggeleng, Gavesha dan Davendra memang sering ribut.
Setelah mata pelajaran prakarya habis Mereka membersihkan diri masing-masing kemudian menaruh menaruh hasil kerajinan mereka di roftop untuk di keringkan beberapa hari ke depan.
Meesa dan Gavesha kembali memasuki kelas, Meesa nampak mengibaskan buku tipis miliknya karena ia merasa sangat kegerahan.
“Persiapan olimpiade buat lusa gimana?” basa-basi Gavesha kepada Meesa.
“Alhamdulilah. Inn syaa Allah aman. Lo sendiri?”
“Ya gitu. Jangan terlalu di paksain, Sa. Gue selalu lihat lampu kamar lo masih nyala padahal udah larut malam. Gue yakin lo pasti bisa.”
Meesa tertegun sejenak, “eh ... enggak kok.”
“Gue kadang bangun tengah malam buat minum. Gue selalu lihat lampu kamar lo masih nyala dan lo masih di meja belajar lo,” tungkas Gavesha.
Meesa mmenunduk. Seminggu ini sebenarnya ia tidak mempersiapkan olimpiade begitu keras. Ia hanya bisa belajar pada jam sebelas malam karena Atreya selalu menyuruhnya ini itu selama pria itu belum tidur. Sialnya Atreya tidur begitu larut.
“Sa, ada yang mau lo ceritain?” tebak Gavesha melihat raut Meesa sepertinya gadis itu tengah menyimpan suatu hal yang begitu berat.
Meesa mengangkat kepalanya, ia tersenyum begitu manis dan menggeleng pelan.
“Gak papa. Aku baik-baik aja, iya nanti aku akan istirahat.”
“Gimana kalau nanti malam lo nginap di rumah gue aja? Satu malam aja kita bersenang-senang sebelum lusa kita berangkat ke Surabaya?”
Ya, olimpiade kali ini akan di selenggarakan di Surabaya.
Meesa menggeleng lemah sekali lagi, “Nenek lagi sakit, Sha. Gue harus jaga Nenek.”
Denallie memang akhir-akhir ini kondisinya drop. Wanita yang telah berumur lebih dari setengah abad itu memang memiliki riwayat penyakit jantung serta asma. Membuat Meesa begitu mengkhawatirkan kondisinya.
“Gitu ya? Ya udah, semoga Nek Denallie segera sembuh ya. Lo jangan sedih, Nek Denallie pasti sembuh!”
“Terima kasih ya.”
“Kalau ada apa-apa gak usah sungkan cerita ke gue ataupun Davendra.”
Meesa mengangguk mengerti. Mereka berdua menyelesaikan obrolanya karena guru mata pelajaran selanjutnya telah masuk. Akhirnya keduanya kembali fokus ke pelajaran
***
“Kenapa lo?” tanya Davendra yang tengah duduk selonjoran sembari bermain game di ponselnya.
“Gue ngerasa Meesa agak aneh akhir-akhir ini,” lirih Gavesha yang masih dapat di dengar oleh Davendra.
Davendra mematikan gamenya. Ia bahkan mengubah duduknya menjadi bersila.
“Sama. Dia lebih pendiam terus sering ngelamun gak sih? Padahal biasanya dia paling ceria.”
“Kemarin gue lihat wajah dia merah banget, kaya ke siram air panas gitu.”
“Gue juga pernah gak sengaja mau genggam tangan dia, eh dia kesakitan. Pas gue lihat kaya ada lebam-lebam gitu di tanganya.”
Sudah Gavesha duga, pasti ada yang tidak beres dengan gadis itu.
“Dia gak pernah cerita apa gitu ke lo?” tanya Davendra serius.
“Enggak. Akhir-akhir ini gue juga lihat dia tengah malam kayanya masih belajar-,”
“Apa dia di tekan sama Om Jayendra? Dia di paksa harus sempurna semua nilainya dan memenangkan olimpiade lusa nanti?” potong Davendra menduga.
“Gak deh. Om Jayendra sama Tante Elakshi itu baik banget orangnya. Lagian juga udah seminggu Om Jayendra sama Tante Elakshi pergi ke luar kota.”
Keduanya terdiam. Meesa susah di tebak karena gadis lugu itu cukup tertutup tentang masalahnya. Ia biasanya hanya menceritakan bagaimana Jayendra memanjakanya, Elakshi yang begitu menyayanginya, atau Denallie yang selalu membuatkan cake lava untuknya.
“Tadi gue ajak dia buat nginep di rumah gue. Terus dia nolak, katanya Nek Denallie sakit. Jadi dia harus jagain Nek Denallie,” ucap Gavesha yang membuat Davendra menyirit.
“Kenapa harus dia? Bukanya di sana banyak tante-tantenya?”
“Gue juga gak tanya sejauh itu kali. Tapi ya wajar, kan Nek Denallie neneknya. Kalau dia jagain neneknya apa masalahnya?”
Davendra mengangguk faham. Ia kembali pada game di ponselnya. Pusing memikirkan gadis lugu yang mendadak misterius itu.
Sementara Gavesha ia hanya melamun. Entah kenapa dia yang biasanya bodo amat dengan orang sekitar, saat ini ia tengah begitu cemas dengan kondisi gadis lugu itu. Ah mungkin karena gadis lugu itu begitu baik padanya. Wajar bukan jika Gavesha merasa khawatir pada sosok yang selalu baik kepadanya.
Gavesha menajamkan penglihatanya. Saat ini memang sudah pukul sembilan malam. Ia melihat seorang gadis berambut sepunggung dan memiliki postur tubuh seperti Meesa. Itu memang Meesa, namun kemana malam-malam seperti ini sendirian? Jalan kaki pula.
“Dave! Dave!” sentak Gavesha dengan nada naik dua oktaf sambil memukul paha laki-laki itu.
“Apa sih, Gave! Lo gak lihat gue lagi mabar nih?” kesal Davendra.
“Itu ... Meesa bukan?” tanyanya menunjuk seorang gadis dengan blazer hitam yang baru saja lewat di depann rumah Gavesha.
“Mana sih?”
“Itu ....”
Davendra menajamkan penglihatanya.
“Iya. Meesa!” panggil Davendra.
Davendra bangkit dari gazebo depan milik Gavesha. Ia bergegas menyusul Meesa yang entah berjalan hendak kemana.
“Meesa!” panggil Davendra sekali lagi menaikan suaranya satu oktaf.
Meesa yang mendengar seperti ada orang yang memanggilnya pun ia berhenti dan menoleh ke belakang takut-takut. Ya, dia takut jika makhluk dari dunia lain yang sedari tadi memanggilnya.
Meesa mengehela nafas lega saat mendapati Davendra dan Gavesha.
“Aku pikir siapa,” leganya membiarkan kedua remaja itu mendekat.
“Lo mau kemana?” tanya Gavesha to the point.
“Mau beli nasi goreng di depan komplek,” balas Meesa santai.
“Ya udah yok sekalian. Gue jadi laper juga,” sela Gavesha cepat.
Saat Davendra hendak memprotes, Gavesha menggeret lengan laki-laki itu.
“Om Jayendra belum pulang dari Padang, Sa?” tanya Gavesha saat ketiganya berjalan beriringan.
“Belum, kayanya besok deh. Kenapa?”
“Gak papa. Besok bimbinganya libur. Kata Bu Wikrama besok adalah hari tenang.”
“Oh ya? Terima kasih infonya.”
“Lo gak lihat tadi udah di share infonya di grup?” heran Davendra.
Meesa menggeleng lemah. Dari pulang sekolah tadi ia tak ada waktu istirahat. Jangankan memegang ponsel, menegak segelas air saja tidak sempat.
“Oh ya, hp ak- eh gue low bat. Belum gue cas, soalnya lupa taruh chargernya. Kelupaan deh sampai sekarang,” alibi Meesa.
“Jangan ceroboh lain kali,” peringat Davendra.
“Iya, terima kasih.”