Part 13

1215 Kata
Bel istirahat baru saja berbunyi lima menit yang lalu, bahkan gadis berambut sepunggung itu telah keluar dari kelas dari sepuluh menit yanng lalu. Namun, gadis berambut sebahu tersebut nampak masih duduk anteng di meja nya. “Meesa? Lo kelihatan pucet, lo gak sarapan tadi?” tanya Davendra yang baru saja duduk di kursi depan Meesa. Meesa hanya menggeleng lemah, jangan kan sarapan dia bahkan belum makan dari malam kemarin. Tadi dia hanya sempat meneguk segelas air putih saja sebelum berangkat sekolah. “Kita ke kantin sekarang. Ayo,” ajak Davendra menarik tangan Meesa. “Nanti aja, kita makan siang sama Gavesha seperti biasa,” elak Meesa lemah. “Nanti kita bisa makan lagi. Lo udah pucet banget, Sa. Lo bisa sakit, ingat seminggu lagi kita akan olimpiade.” Meesa menghela nafasnya panjang, sebenarnya perut gadis itu sudah terasa sangat perih. Mengingat siang kemarin ia memang hanya memakan sepiring siomay. Karena kesalahanya semalam Atreya tidak membiarkanya makan. Bahkan hanya segelas air putihh tadi pagi yang boleh ia tegak. “Udah, jangan banyak mikir. Ayo ke kantin.” Davendra menggenggam pergelangan tangan Meesa. Genggamanya terlepas saat mendengar ringisan gadis itu. Kedua bola mata elang tersebut menatap pergelangan yang nampak memerah tersebut. “Ini kenapa? Siapa yang buat lo kaya gini?” cerocos Davendra. “Gak papa.” “Gak papa gimana? Merah begini lho? Ayo ke UKS, obati pergelangan lo.” “Gak perlu, kemarin udah gue kasih salep kok. Sekarang kita di kantin aja ya? Gue laper banget, hehehe,” bujuk Meesa dengan kekeh ringanya yang meluluhkan Davendra. “Ya udah kita ke kantin sekarang. Tapi lo harus janji ke gue, kalau ada apa-apa bilang ke gue.” “Iya.” Meesa dan Davendra keluar dari kelas dengan berjalan beriringan. Banyak yang menyapa keduanya, meski belum genap sebulan sekolah di SMP Nabastala Meesa sudah cukup terkenal di sana. Siapa yang tidak kenal dengan murid emas sekaligus pianis baru SMP Nabastala? Apalagi kabar gadis itu yang berteman dengan Gavesha. Gadis yang di segani sekaligus di takuti seantreo SMP Nabastala. “Lo mau apa?” “Makan,” jawab Meesa begitu polos. Davendra terkekeh, “maksudnya lo mau pesen apa? Biar gue aja yang pesen.” “Oh itu, emm ... soto kayanya enak.” “Ya udah tunggu di sini gue pesenin dulu.” Meesa menunggu Davendra yang tengah memesankan makanan mereka. karena bosan ia memainkan ponselnya sejenak. Dari pulang kemarin memang ia tidak sempat memgang ponsel, terbukti banyak sekali notifikasi dari room chat miliknya. *** Gavesha memijat pangkal hidungnya sejenak. Semalam ia harus tidur tengah malam karena proposal ini. Sialnya harus ada beberapa revisi untuk hari ini karena keteledoranya kemarin. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan Gavesha. Nalendra, laki-laki dengan tinggi seratus tujuh puluh lima tersebut yang membuat semuanya kacau. Makalah observasi event dua bulan lalu baru di selesaikanya kemarin. Ralat bukan Nalendra tapi Gavesha. Kepala sekolah sudah menagihnya namun belum saja Nalendra selesaikan. Alhasil harus Gavesha yang turun tangan. “Lo gak berguna banget sih? Kerjain sisanya, gue mau ke kantin beli minum,” ketus Gavesha menyerahkan laptop yang tadi ada di pangkuanya. “Enak aja lo mau enak-enakan pergi ke kantin. Selesaiin dulu baru lo bisa istirahat,” kekeh Nalendra. “Gue gak peduli.” Gavesha hendak ke luar dari ruangan osis tersebut, namun langkahnya terhenti karena ucapan Nalendra. “Lo jadi wakil gak berguna banget. Ngapain lo calonin diri tahun lalu kalau ngerjain gini aja gak bisa.” Gavesha menatap tajam ke arah Nalendra. “Lo punya kaca? Di sini yang berguna gue apa lo! Persetanan dengan jabatan, gue keluar.” Nalendra gelagapan mendengar kalimat terakhir yang gadis itu katakan. Astaga sepertinya Gavesha tengah PMS beneran. Pelengseran jabatan sisa dua minggu lagi, di kata apa angkatanya jika wakil ketua osis keluar dua minggu sebelum pelengseran jabatan. “Becanda, Gave. Ya udah deh lo boleh istirahat, gue traktir deh. Yok!” Nalendra langsung menutup laptop tersebut. Ia pergi melenggang sembari menggenggam jemari mungil milik Gavesha. Perbedaan tinggi badan mereka hampir tiga puluh senti meter membuat Gavesha selalu terlihat begitu mungil di samping Nalendra. Istirahat masih sisa lima belas menit lagi, jadi saat ini kantin sedang ramai-ramainya. Nalendra yang bak tiang itu menajamkan penglihatanya saat melihat sosok ketua voli di meja ujung. “Itu Davendra bukan?” tanya nya pada Gavesha memastikan. “Mana?” ucap Gavesha celingukan sambil berjinjit. Nalendra terkekeh, lupa jika gadis di sampingnya itu begitu pendek. Jadi mana mungkin Gavesha bisa melihatnya. “Hahaha, gue lupa lo pendek.” “Sialan.” Gavesha menyikut perut milik Nalendra yang membuat laki-laki jakun itu memekik tertahan. “Kasar banget sih lo jadi cewek.” “Lo ngomong sekali lagi, gue gampar!” ancam Gavesha yang sudah sangat dongkol. Nalendra menurut saja, kecil-kecil gitu pukulan Gavesha sangat kuat. Tanpa basa-basi lagi Nalendra menarik tangan Gavesha untuk ke meja tempat ia melihat Davendra. Benar saja, di sana ada Davendra dan Meesa yang tengah makan. “Nalendra? Gavesha?” ucap Davendra bingung saat melihat dua sejoli yang saling bermusuhan tersebut. “Kan bener kata gue, ada Davendra di sini. Eh ada Meesa juga.” “Tumben kalian makan di istirahat pertama?” heran Gavesha yang duduk di samping Meesa. “Tadi gue lihat Meesa pucet banget. Ternyata dia belum sarapan, jadi gue paksa dia buat makan. Lo mau makan?” jelas Davendra sambil memakan batagor di hadapanya. “Nanti aja, gue cuman mau beli minum aja.” Gavesha menendang kaki Nalendra yang ada di bawah meja. “Apasih, Gave?” pekiknya. “Pesenin gue jus nanas.” “Pesen aja sendiri.” “Tadi katanya lo mau traktir gue!” “Ck, iya-iya.” Nalendra pun menurut, ia pergi ke stan penjual jus. Dari pada kena amukan Gavesha lagi yang membuat nyawanya terancam. “Lo jangan gitu ke Nalendra, Gave. Kasihan tau,” peringat Meesa sambil mengaduk-ngaduk es jeruknya. “Dia ngeselin tau, pengen gue gorok rasanya.” “Hahaha, hati-hati nanti lo suka sama dia.” “Dih, amit-amit. Benci banget gue sama dia.” “Bener kata Meesa, benci sama cinta tuh beda tipis,” timpal Davendra yang ikut nimbrung. “Berarti cinta sama benci beda tipis juga dong?” “Iya, mereka kaya pisau bermata dua. Mangkanya jangan terlalu benci atau terlalu cinta. Karena akhir dari benci dan cinta itu menyakitkan,” jelas Meesa yang membuat Gavesha terhenyak. “Tangan lo kenapa, Mees?” kepo Gavesha yang baru menyadari jika pergelangan gadis itu begitu kentara jika memar. Kulit Meesa memang berwarna kuning langsat, lebih putih dari kulit Gavesha yang lebih ke coklat warna kulitnya. Jadi terlihat begitu jelas jika ada memar merah keunguan di kulit gadis itu. “Eh ini?” Gavesha menarik tangan Meesa agar lebih dekat. Ini seperti luka bekas cengkraman. Ada yang aneh, muka Meesa yang seperti bekas siraman air panas dan sekarang memar di pergelangan gadis itu. “Gak papa, Gave. Ini cuman karena kemarin aku main-main sama Rafa. Kayanya dia terlalu kuat nyengkramnya,” alibi Meesa. “Bener? Lo kalau ada apa-apa cerita ke gue. Kalau butuh apa-apa langsung aja ke rumah gue gak papa.” “Makasih ya. Sayang Gavesha deh.” Meesa memeluk Gavesha. “Lo gak sayang gue?” tanya Davendra tiba-tiba. Meesa mendadak gugup. Untung saja Gavesha kembali menyelamatkanya. “Dih ngarep. Emang lo siapa? Hahahaha.” Gavesha dan Meesa tertawa melihat wajah pias Davendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN